34

713 149 15
                                        

***

Mrs. Twig melangkah keluar dari mobil yang dikendarainya. Sebuah mobil sedan hitam dengan beberapa lecet di bagian depan dan belakangnya. Ia memakai setelannya hari ini, setelan berwarna biru lembut dengan rambut pirang tergerai sepanjang punggungnya. Riasan sederhana menghiasi wajahnya, terlihat lembut, terlihat cantik, bak boneka. Lengannya yang terbalut kain biru lembut memeluk sebuah karangan bunga, ia langkahkan kakinya dengan anggun. Hak tipis dari sepatu putihnya mengetuk aspal, melangkah ke gedung pertemuan besar dengan banyak tangga di depannya.

"Augh! Kenapa harus aku yang datang ke sini? Kenapa anak tangganya banyak sekali?!" keluh Lisa, menatap sederetan anak tangga yang harus ia panjat dengan sepatu hak tingginya.

Sembari meratapi nasibnya, handphonenya bergetar, sebuah panggilan baru saja masuk ke sana. Panggilan internasional, dari Tuan Ji yang sudah lama tinggal di Rusia karena bisnisnya. "Hebat, kau baru menelepon sekarang padahal hari ini anakmu mulai kuliah! Kau tidak ingat jalan pulang?! Kau yang harusnya datang ke sini dan memberinya bunga! Aku harusnya tidur sekarang, tapi karenamu-"

"Stop," potong Tuan Ji. "Aku juga harusnya tidur sekarang. Masih tengah malam di sini. Memang apa pentingnya upacara penerimaan mahasiswa baru? Kenapa kau terus menelepon? Kau tidak tahu kalau aku sibuk? Aku akan datang saat dia wisuda."

"Ya! Tuan Ji! Aku bukan istrimu. Tapi kenapa aku harus mengurus rumah dan putrimu?!"

"Karena aku membayarmu, bukan begitu? Kau pikir semua uang yang ku berikan padamu itu hadiah? Atau karena pekerjaanmu di kasino luar biasa bagus? Ya! Omong-omong soal kasino, keuntungan tahun ini jauh lebih rendah dari tahun kemarin, apa yang kalian lakukan di sana?!"

"Tanyakan itu pada Ghost! Aku sudah melakukan pekerjaanku dengan benar! Cepat kembali! Meski tidak mengatakannya, Somi sedih karena kau tidak pernah mengunjunginya. Kau bahkan tidak meneleponnya. Setiap hari dia ke kasino, padahal tidak bisa bermain."

"Tsk, dia bersikeras ingin kuliah tapi justru ke kasino? Bukannya belajar? Suruh dia belajar!"

"Suruh sendiri! Aku bukan pengantar pesan diantara kalian!" seru Lisa, masih berdiri di depan sederet anak tangga itu, membentak di teleponnya dan membuat beberapa orang meliriknya, penasaran padanya.

"Eonni!!" teriak Somi dari ujung tertinggi anak tangga itu. Ia lambaikan tangannya, kemudian berlari menghampiri Lisa dengan senyum paling cerahnya. "Akhirnya aku resmi jadi mahasiswa!" susulnya, memeluk Lisa setelah mereka berdiri berhadapan.

Upacara penerimaan mahasiswa baru sudah selesai dan kini semua mahasiswa baru itu berhamburan keluar. Mereka keluar, membagi kebahagiaan itu dengan orangtua, keluarga dan teman-teman yang datang seperti Lisa sekarang. Menerima karangan bunga, juga ucapan selamat dari orang-orang yang mendukung mereka.

"Apa itu appaku?" tanya Somi, setelah ia menerima karangan bunga yang sama cantiknya dengan wajah bahagianya.

"Hm... Mau bicara dengannya?" tawar Lisa, memberikan handphonenya.

Somi meraih handphonenya itu. Ia berdeham sebelum bicara dengan ayahnya, sedikit canggung sebab sang ayah pergi tanpa berpamitan padanya. Ayahnya pergi beberapa hari setelah ia keluar dari rumah sang ayah.

"Aku mahasiswa sekarang," canggung Somi, sembari memeluk karangan bunga yang Lisa berikan padanya. Gadis itu memutar tubuhnya, terlalu malu untuk menunjukan wajah senangnya pada Lisa yang menggodanya. "Aku sudah dewasa dan aku punya pacar," pamer gadis itu.

"Kau masih kuliah dan berkencan dengan uangku, apa yang kau banggakan?" acuh Jiyong, membuat Somi langsung mengumpat. "Wahh... Kau dan eonni-mu mengumpat dengan cara yang sama, kau belajar banyak darinya, hm?"

"Menyebalkan. Kapan kau kembali? Kau tidak punya anak lain di sana kan?"

"Wow, bagaimana kau tahu?"

"Wow, Lisa eonni tahu?"

"Tentu saja tidak. Jangan memberitahunya."

"Heish... Cepat kembali! Lisa eonni membawa kekasihnya ke kamarmu. Tampan sekali, aktor, namanya Kim Jae- young"

"Ya!" seru Lisa, buru-buru merebut handphonenya, mematikan panggilan itu sebelum Jiyong bisa mendengar nama pria yang Somi sebut. "Aku tidak punya tempat tinggal kalau diusir dari rumahnya! Jangan mengadu! Dan aku tidak tidur di kamarnya, aku tidur di kamarmu."

"Wow! Eonni bersetubuh dengan pria tampan itu di kamarku?! Kau merekamnya? Aku mau melihatnya," goda Somi, yang kemudian merangkul Lisa. "Lagi pula ayahku menghamili seseorang di Rusia," lapor Somi, meski ayahnya melarangnya mengadu.

"Augh! Ayah dan anak sama-sama gila, aku menyesal terlibat dengan kalian. Acaramu di sini sudah selesai, kan? Ayo pergi makan sesuatu, aku lapar," ajak Lisa. "Kau sudah berkeliling kampus? Ayo cicipi makanan di kantin."

Somi setuju dan keduanya berjalan di atas trotoar. Melangkah sembari mengaitkan tangan satu sama lain, tanpa menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh. Empat tahun hampir berlalu sejak Jiyong pergi ke Rusia pagi itu. Ia pergi tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Mengatakan kalau ia hanya akan pergi selama beberapa hari, yang kemudian berubah jadi beberapa tahun tanpa pernah kembali sama sekali.

Lisa sempat curiga kalau Jiyong mungkin ditangkap dan dipenjara di Rusia, namun tidak ada seorang pun yang mengkonfirmasinya. Tidak ada berita apapun, tidak ada informasi apapun, Jiyong bahkan tidak pernah mengabarinya. Mungkin satu atau dua bulan sekali Jiyong menelepon, hanya untuk bagaimana hidup putrinya setelah ia tinggalkan. Itu pun dengan nomor telepon yang selalu berubah. Pria itu benar-benar pergi seolah ia tidak punya kewajiban untuk mengurus rumah dan keluarganya lagi.

Di tengah hari yang cerah itu, senyum mengembang di wajah semua orang. Meski ayahnya tidak di sana, ia senang sebab sang ayah menyempatkan diri untuk menelpon. Entah pria itu memang sengaja menelepon untuknya atau hanya menelepon karena merindukan Mrs. Twig.

Melangkah menjauhi keramaian, Lisa dan Somi kemudian tiba di kawasan sepi sebuah fakultas. Sembari tertawa membicarakan Jiyong yang ternyata menghamili seorang wanita— lagi— Somi memakai kamera baru yang dua hari lalu Lisa berikan padanya sebagai hadiah. Gadis itu beberapa kali memotret, menjadikan Mrs. Twig sebagai modelnya. Ia berencana mengunggah foto-foto itu, siapa tahu ayahnya bisa melihat foto itu kalau kebetulan ia merindukannya.

"Eonni berdiri di sana, bawa bunganya, kau terlihat cantik di sana," suruh Somi, menunjuk sebuah pohon rindang di tepi jalan. Ada beberapa daun gugur di bawah pohon itu, membuat kesan musim gugur yang menyenangkan.

"Bukan kah kau yang harusnya di foto hari ini?"

"Eonni bisa mengambil fotoku nanti, kalau aku sudah jadi produser terkenal," balas Somi, mulai mengambil foto kakak perempuan favoritnya. Orang asing yang membelikannya makanan di saat terendahnya dulu.

Satu kali, dua kali, tiga kali ia menekan shutter kameranya. Belum selesai di kali ketiga, gadis itu terus menekan shutter kameranya, sampai ia menyadari kalau Lisa yang sebelumnya berdiri, dalam hitungan detik membungkuk di tanah dengan seorang pria yang berdiri di belakangnya. Darah kemudian mengotori pakaian, buket bunga sampai menetes ke sepatu putih gadis itu. Menumbangkannya tanpa sempat ditolong siapapun.

***

Free Pass SellerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang