***
Seperginya Lisa dari ruang judi itu, Kang Daesung melangkah masuk. Pria itu sedikit terkejut sebab Lisa keluar dari ruangan tadi dengan pipi merah dan rambut yang berantakan. Asisten Kang khawatir, gadis itu membuat Jiyong marah kemudian dipukul bosnya. Namun di dalam, semua orang masih duduk di tempatnya, kecuali Tuan Kepala Kepolisian. Dengan santai Seunghyun duduk di kursinya, menggoyang-goyangkan gelasnya, menyesap minumannya, menonton apa yang terjadi di sana— Kepala Kepolisian menjambak, memukul dan membuat Lisa tersungkur di lantai karena terlampau tersinggung.
Sedang Jiyong hanya menundukan kepalanya, menatap meja judi sembari memutar sebuah chips di sela jarinya. "Sepertinya pria tua ini sudah mabuk," gumam Jiyong, terdengar sangat dingin, terdengar sangat kesal, nada bicaranya jauh berbeda dari sebelumnya. "Kau mabuk, hm?" tanyanya kemudian, kali ini sembari mengangkat kepalanya, bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Kepala Kepolisian itu dengan segenggam chips di tangannya.
"Tuan Ji- mmph!"
"Hm... Jangan bicara, kau mabuk," potong Jiyong, ia paksa masuk keping-keping chips judi ke dalam mulut Kepala Kepolisian itu. Ia penuhi mulut bau fermentasi itu dengan chips tipis warna-warni. "Hanya karena aku memberimu sebuah kursi, apa kau berfikir kalau kau benar-benar berkuasa? Siapa yang memberimu izin menyentuh milikku? Memukul wajahnya tepat di depanku?" sinis Jiyong, yang kemudian memukul wajah Kepala Kepolisian itu dengan tangannya, seperti bagaimana pria berumur itu memukul Lisa tadi.
Melihat Jiyong mulai mengotori tangannya sendiri, Kang Daesung langsung melangkah ke pintu ruang VIP itu. Ia berdiri di sana, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu. Memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menggangu Jiyong sekarang. Satu kali, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali Jiyong memukul pria gempal berumur itu. Ia buat satu persatu chips dalam mulut Kepala Kepolisian tadi keluar bersama beberapa tetes darah, beberapa buah gigi.
"Kau pikir, aku mengundangmu ke sini karena aku menghormatimu?" tanyanya kemudian, membiarkan pria paruh baya itu tersungkur di lantai. "Tidak... Jangan salah paham. Aku menyuruhmu datang untuk bekerja, bukan begitu Nyonya Kim?" ucapnya dan tidak ada seorang pun yang berani menanggapinya. Bahkan Seunghyun lebih memilih untuk diam di kursinya, memutar gelasnya, menunggu malam itu berakhir.
Kepala Kepolisian tadi pelan-pelan berlutut. Dari mulutnya yang super nyeri keluar beberapa permohonan maaf. Ia minta ampunan Tuan Ji yang berkuasa dengan kepala pening yang harus tertunduk. Namun yang Jiyong lakukan hanya menyeka tangannya dengan sebuah handuk dari bartender gemetar di posisinya. Jiyong bersihkan tangannya dari beberapa tetes darah bercampur liur Kepala Kepolisian itu.
Meski Kepala Kepolisian tadi memohon di bawah kakinya, Jiyong tidak lagi peduli. Ia tendang bahu pria itu menjauhi dirinya, lalu menatap Daesung dan mengulurkan tangannya. Ia minta beberapa berkas dari Daesung yang sudah di siapkan dalam sebuah amplop cokelat. Dengan tenang, meski diiringi permohonan maaf dari Kepala Kepolisian, Jiyong cek ulang isi berkas itu dan melemparnya di meja judi.
"Lakukan semuanya sesuai rencana. Bulan depan pembangunannya harus sudah di mulai. Aku tidak ingin mendengar masalah apapun, selesaikan semuanya dengan rapi," tegas pria itu, sekali lagi mendorong si Kepala Kepolisian dengan kakinya lantas melangkah meninggalkan ruang VIP itu bersama asistennya.
Seunghyun yang pertama meraih amplop cokelat itu, sebab ia yang bertanggung jawab penuh atas kasino baru itu. Ia intip isinya sebentar, lantas beranjak bangkit dari kursinya. "Nyonya Kim, cepat selesaikan perizinannya. Tadi namamu, Victoria? Mulai lah mencari gadis-gadis baru. Cari gadis yang seperti Mrs. Twig, Tuan Ji membawanya ke sini untuk memberimu contoh seperti apa seleranya. Dan anda Kepala- maksudku Tuan, siapa namamu? Siapapun itu, pastikan anak-anak buahmu tetap dibawah radar. Jangan sampai mereka mengacau, anda bisa kehilangan segalanya kalau membuatnya marah lagi. Hanya saran, sebagai sesama pekerja," ucap Seunghyun, menepuk bahu Kepala Kepolisian yang marah kemudian berjalan keluar keluar dari ruang VIP itu.
"Bereskan uangnya, seperti biasanya," pesannya, pada seorang manager ruangan yang berdiri kaku di dekat pintu.
Malam selanjutnya, Lisa kembali ke kasino itu. Ia tidak bisa merelakan uangnya begitu saja. Karena di pukul, gadis itu pergi tanpa membawa chips-nya, tanpa uangnya. Ia tidak bisa membiarkan pundi-pundi itu diambil orang lain, dicuri darinya karena ia tinggalkan begitu saja. Dengan celana jeansnya yang super pendek dan sweater bertudung miliknya, gadis itu melangkah hendak melewati pintu utamanya. Tapi tidak ada penjaga pintu yang mengizinkannya masuk, alasannya pakaiannya tidak selaras dengan kasino itu.
"Kebetulan kita bertemu di sini, baru saja aku mau menghubungimu," tegur Jiyong, yang tiba-tiba muncul dari dalam kasino. Malam ini pria itu mengenakan sebuah setelan lengkap dengan jas dan dasi. Di tangannya ada sebuah tas kertas yang kelihatannya berat dan ia langsung mengulurkan tas itu pada Lisa. "Yang kau cari," jelas Jiyong, bersamaan dengan Lisa yang menerima dan melihat isi tas itu— uang.
"Bagaimana-"
"Kemarin aku mengejarmu, tapi kau sudah naik ke taksimu," potong Jiyong. "Aku akan pergi makan malam sekarang, tidak keberatan kalau kita membicarakan urusan kemarin sambil makan malam?" tawarnya yang jelas berhasil membawa Lisa masuk ke dalam mobilnya.
Seorang supir menyetir untuk mereka. Kedua orang itu duduk di kursi belakang, sementara mobil mulai melaju ke restoran yang Jiyong pilih. Pria itu sempat bertanya pada Lisa, apa gadis itu ingin makan menu tertentu sebelum mereka menentukan restorannya, namun Lisa tidak keberatan dengan makanan apapun, dimana pun. Karenanya Jiyong mengajak gadis itu ke sebuah restoran mie di tepi pantai. Sebuah restoran tua yang hampir tutup. Bahkan pemilik restoran itu sudah cukup tua untuk bisa buru-buru memasak mie.
"Kau tidak ingin makan?" tanya Jiyong, sebab Lisa tidak memesan apapun selain sebotol arak beras dingin.
"Aku sudah makan," jawab gadis itu. "Dan soal kemarin, aku minta maaf. Aku merusak pertemuan kalian. Kepala Kepolisian itu... Uhm... Dia sangat marah. Apa kesepakatannya batal karenaku? Kau pasti kesulitan karenaku, aku minta maaf," susulnya, kali ini sembari menaikan tas kertas pemberian Jiyong tadi ke atas meja. Ia dorong tas itu, memberikannya pada Jiyong. "Tentu saja ini tidak seberapa kalau dibanding dengan kerugianmu, tapi aku akan menggantinya. Ini hanya uang mukanya, kau bisa menghitung kerugianmu dan aku akan membayarnya, semuanya."
"Kau punya uang?"
"Tentu saja aku harus berusaha mendapatkannya."
"Kalau begitu tidak perlu. Kau yang dipukul, kenapa kau juga yang harus membayarnya," tolak Jiyong namun Lisa menilai berbeda situasi semalam.
Ia menghina Kepala Kepolisian dan dipukul, baginya hal itu tidak ada hubungannya dengan Jiyong. Pemukulan itu adalah masalah pribadinya dengan Kepala Kepolisian, jadi seharusnya Jiyong tidak boleh dirugikan. Bisnis antara Jiyong dengan Kepala Kepolisian tidak boleh terganggu hanya karena Lisa dan sikapnya.
"Sebenarnya wajar saja kalau dia marah dan memukulku. Dia mabuk dan aku bilang wajahnya jelek," ucap Lisa. "Tapi karena aku membuatnya marah, dia mungkin tidak akan membantumu. Karena itu aku harus bertanggung jawab padamu. Kau tidak melakukan apapun tapi justru jadi korban yang paling di rugikan."
"Kau tidak marah karena dipukul?"
"Marah. Aku harus membalasnya, iya kan? Tapi tidak adil kalau pertengkaran kami merugikanmu. Karena itu terima uangku, jadi aku bisa membalasnya dengan tenang."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Pass Seller
FanfictionIt's all for the benefits, why we pretend don't give a fuck? All behaviors only for benefits. Good or bad, who's care? Nobody. Don't mess up my scenario. In this cinema has no hero.
