***
Malam di hari yang sama. Lisa meninggalkan kasino untuk kembali rumahnya. Ia cari Jiyong di sana namun pria itu belum kembali. Mengingat-ingat kemana pria itu mungkin pergi, Mrs. Twig akhirnya membawa mobilnya ke gudang yang pernah dikunjunginya.
Dugaannya ternyata tepat. Tuan Ji ada di gudang itu ketika ia datang. Pria itu tengah duduk di atas sebuah tong, merokok sembari bermain dengan handphonenya. Seolah angin laut yang menerpanya sama sekali bukan masalah baginya. Lisa memarkir mobilnya di sebelah milik Jiyong, menarik perhatian pria itu sebab kedua mobil mereka terparkir terlalu dekat. "Dia benar-benar pengemudi yang payah," komentar Jiyong sembari menunggu tamu yang tidak ia undang berdiri di depannya.
Lama Lisa duduk di mobilnya. Ia sudah melihat Tuan Ji, namun dirinya ragu kalau pria itu menyadari kehadirannya. Dari sudut pandang Lisa, Jiyong kelihatan sedang melamun, terlalu larut dalam angan-angan sampai tidak menyadari kehadirannya. Masih bimbang, menimbun keberanian untuk menemui pria yang ia lukai kemarin, Lisa tetap duduk di mobilnya.
Keberanian tidak berhasil ia timbun. Ia berencana untuk pergi, sebelum Jiyong menyadari kehadirannya. Namun baru ia nyalakan kembali mesin mobilnya, ada lima van yang tiba-tiba datang kemudian berhenti di depannya. Mrs. Twig masih memperhatikan, ketika pria-pria dari van itu berhamburan keluar, berlari kecil kemudian berdiri dan memberi hormat pada pria santai di atas tong.
Jiyong turun dari tempatnya duduk, menggerakkan tangannya menyuruh pria-pria tadi kembali berdiri seperti bagaimana biasanya. Lisa tidak dapat mendengar apapun, ia tetap duduk di kursinya, melihat dari kaca spion di sebelahnya.
"Ramai sekali. Padahal kau tidak perlu membawa mereka semua sekarang," komentar Jiyong, pada seorang pria yang memimpin sekelompok pria dalam van tadi. "Empat puluh delapan jam setelah Ghost di tangkap, pergilah ke kantor polisi. Bawa lebih banyak orang dari ini, beri polisi-polisi itu pesta yang meriah. Jangan terlambat, jangan juga datang lebih awal. Harus tepat empat puluh delapan jam," perintah Jiyong, yang disusul seruan bersedia dari semua pria yang datang tadi. "Kalau sudah mengerti, pergilah. Istriku tidak bisa pergi karena mobil kalian," susulnya, menunjuk mobil Lisa dengan gerak dagunya.
Para pria kekar dengan pakaian santai yang beraneka warna, terlihat kotor dan berantakan itu kemudian kembali ke mobil mereka. Mereka bergegas pergi setelah memberi hormat pada sang Bos, buru-buru menyingkirkan van dari jalan di depan Mrs. Twig. Namun alih-alih pergi, Lisa justru mematikan mesin mobilnya. Ia menoleh ke belakang, menatap Jiyong yang menghampirinya.
Bersamaan dengan tibanya Jiyong di mobil Lisa, gadis itu keluar dari mobilnya. "Kenapa kau datang?" tanya Jiyong, dengan mata yang fokus menatap van-van tadi pergi.
"Kau tahu aku datang?" canggung Lisa, tanpa menutup pintu mobilnya. Aku bisa langsung melarikan diri kalau dia bersikap berlebihan— tenang Lisa.
"Tentu saja, mobilmu kelihatan jelas sekali saat datang," tenang Jiyong. "Kenapa tanganmu terluka?" tanyanya kemudian, masih tidak menatap Lisa. Ia justru sibuk memperhatikan sekelilingnya, dibanding melihat gadis gugup yang berdiri di depannya.
"Terluka saat membersihkan pecahan kaca," ucap Lisa, masih terdengar canggung.
"Kau membersihkan pecahan kaca dengan telapak tanganmu?" tebak Jiyong, mengatakan kalau ia tahu Lisa sedang berbohong. "Baiklah, anggap saja begitu. Kenapa kau datang ke sini? Apa yang kau cari di sini?"
"Kau."
"Kenapa? Ada apa?"
"Aku ingin minta maaf karena melukai wajahmu, kemarin," katanya.
"Aku sudah memaafkanmu," tenang Jiyong, yang mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Lisa. "Kalau hanya itu, kau tidak perlu-" Jiyong belum selesai bicara.
Pria itu belum sempat menyelesaikan ucapannya, namun perhatiannya, juga perhatian Lisa teralih oleh Kang Daesung yang berlari kecil menghampiri mereka. Asisten Kang datang dengan mantelnya, terlihat terburu-buru. "Tuan Ji, dia sudah mati," lapor Asisten Kang, tidak peduli meski Lisa ada di sana dan mendengarnya.
Lisa disuruh tinggal di mobilnya, sedang Jiyong melangkah masuk ke dalam gudang. Sebelum Asisten Kang mengikuti bosnya pergi, Mrs. Twig tahan tangan pria itu, bertanya siapa yang baru saja kehilangan nyawanya, bertanya apa yang terjadi di dalam gudang itu.
"Ibunya Somi. Dia meninggal karena overdosis, di dalam," ucap Asisten Kang, sedang Jiyong sudah lebih dulu menghilang di balik pintu gudang.
"Bukankah dia... Sudah meninggal empat tahun lalu?"
"Tidak. Tuan Ji hanya mengurungnya di sini, dia tidak membunuhnya."
"Somi mengetahuinya? Kalau ibunya ada di sini?"
"Ya," angguk Asisten Kang. "Tunggu lah di sini, jangan masuk, Tuan Ji tidak akan menyukainya," tahan pria itu, yang kemudian meninggalkan Lisa, berlari kecil menghampiri Jiyong yang sudah lebih dulu masuk.
Dua menit setelah Daesung menghilang di balik pintu gudang, Jiyong kembali. Ia hampiri lagi Mrs. Twig, sembari membersihkan tangannya dengan selembar handuk lusuh. "Ibunya Somi benar-benar meninggal?" tanya Lisa, sekali lagi pada sumber berbeda. Jiyong mengangguk, ia taruh handuk yang dipakainya tadi ke atas kap mobilnya kemudian mengulurkan tangannya, meminta Lisa untuk menyerahkan kunci mobilnya.
"Ayo pergi sebelum Somi datang," ajak Jiyong, menyuruh Lisa berjalan memutar, masuk ke mobil melalui pintunya yang lain. "Somi tidak ingin aku tahu kalau dia beberapa kali ke sini. Somi tidak ingin aku tahu kalau dia tahu tentang tempat ini. Ayo pergi," ajak pria itu, membujuk agar Lisa mau menggerakkan tubuhnya.
Jiyong mengemudi, Mrs. Twig duduk di sebelahnya. Tidak ada pembicaraan apapun, keduanya membisu dan larut dalam angan masing-masing. Sesekali Lisa menoleh, menatap Jiyong, menebak-nebak apa yang mungkin berputar di kepala pria itu. Apa Jiyong sedih? Apa pria itu perlu dihibur? Atau semuanya akan lebih baik kalau ia diam saja? Mrs. Twig tidak bisa memutuskannya. Lantas, di tengah keraguan itu, ia dengar suara Jiyong memenuhi mobil dan suasana canggung di sana. "Kau sudah selesai marah?" tanya Jiyong kemudian. "Melihatmu datang ke gudang, sepertinya ada yang ingin kau bicarakan. Kau sudah selesai kesal?" tambahnya sebab Lisa langsung menghindarinya, menoleh ke jalanan yang mereka lalui dan melihat pemandangan gelap di sepanjang jalan.
"Kemarin aku bertemu dengannya," gumam Lisa. "Aku pikir aku bisa langsung memutuskannya setelah bertemu dengannya. Tapi nyatanya tidak. Aku tidak bisa memutuskan apapun meski sudah bertemu dengannya," tambahnya, masih tanpa menoleh pada Jiyong.
"Kau tahu kenapa begitu?"
"Hm?"
"Karena kau tidak punya pilihan. Aku tidak memberimu pilihan. Tidak ada yang perlu kau putuskan," tenang Jiyong. "Apa yang kau bicarakan dengannya, saat kalian bertemu?" tanya pria itu kemudian.
"Aku lebih suka kita tidak membicarakannya. Kau membuatku kesal."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Pass Seller
FanfictionIt's all for the benefits, why we pretend don't give a fuck? All behaviors only for benefits. Good or bad, who's care? Nobody. Don't mess up my scenario. In this cinema has no hero.
