17

783 153 4
                                        

***

Sembari duduk di kursi ruang kerjanya, Jiyong dengarkan cerita Somi. Ia perhatikan putrinya yang berdiri, bercerita dengan gestur tubuhnya yang berlebihan.

"... Jadi aku memberi tahu temanku kalau aku berhenti sekolah karenamu, lalu tiba-tiba wanita itu datang. Awalnya aku terkejut tapi dia bilang, dia datang karena merindukanku. Aku sempat tertipu, aku sempat senang karena dia bilang begitu, tapi ternyata dia butuh uang. Matanya jadi semakin cekung, rambutnya tipis sekali-"

"Dia kecanduan, aku tahu, lalu? Dia mempermalukanmu di depan temanmu?" tebak Jiyong, agar kisah itu berakhir lebih cepat dan ia bisa kembali bekerja.

"Hm... kami bertengkar dan dia mulai berteriak. Lalu dia menamparku-"

"Menampar? Sungguh?"

"Hampir menamparku, tapi temanku lebih dulu menahan tangannya. Seperti dalam film-film, dia bergerak di saat yang tepat. Wanita itu kelihatan kesakitan, lalu temanku mendorongnya, kau bukan seorang ibu kalau memperlakukan putrimu seperti ini, jangan salah sangka— begitu kata temanku dan dia mendorong wanita itu, sampai jatuh ke tanah. Wanita itu kemudian semakin marah dan mereka berkelahi. Wanita itu berusaha menjambak temanku, mereka berkelahi seperti dua wanita gila dalam drama dan polisi datang, mereka akan di bawa ke kantor polisi tadi. Kemudian temanku bicara pada petugas polisi itu, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi akhirnya polisi setuju untuk menganggap kejadian tadi tidak pernah ada."

"Semudah itu? Polisinya menyerah semudah itu?"

"Kurasa temanku mengenal polisi itu, jadi polisinya pergi begitu saja. Tapi temanku membisikan sesuatu pada wanita itu, memberinya sedikit uang lalu wanita itu pergi begitu saja. Kurasa wanita itu takut dibawa ke kantor polisi."

"Ah... Baiklah, aku sudah dengar, keluar-"

"Aku ingin tinggal sendiri lagi, sekarang aku tidak takut lagi pada wanita itu," potong Somi, membuat Jiyong menaikan alisnya, tentu tidak langsung mempercayai putrinya. "Aku punya appa yang lebih kuat darinya, jadi temanku bilang aku tidak perlu takut padanya," susul Somi.

"Temanku mengenalku?"

"Tidak. Aku hanya bilang kalau ayahku gangster, aku pernah bertanya padanya apa dia mau menikah dengan ayahku, tapi ternyata dia masih waras, syukurlah," santai Somi yang kemudian melangkah keluar dari ruang kerja ayahnya. "Aku ingin hidup mandiri, beri aku uang untuk membayar sewa rumahnya, hanya tiga bulan pertama, setelah itu aku akan kerja part time untuk membayarnya sisanya sendiri," pesan Somi sambil lalu.

"Uang sewa tiga bulan pertamanya akan ku anggap hutang!"

"Kenapa?! Kau ayahku, kan?!"

"Hm... Sayang sekali tes DNA-nya bilang begitu."

"Lalu kenapa aku harus berhutang padamu?! Aku tidak pernah minta dilahirkan! Kau yang membuatku ada disini, bukankah kau harusnya-"

"Kau bilang ingin hidup mandiri? Kau sudah cukup dewasa untuk punya hutang. Jangan khawatir, aku tidak akan menyuruhmu membayar bunganya. Lunasi hutangmu dalam satu tahun, cantik. Sekarang pergi," usir Jiyong.

"Aku kasihan sekali pada wanita yang akan kau nikahi, appa, sungguh. Lebih baik kau tidak menikah, appa, jangan merusak hidup wanita lain," komentar Somi, kali ini benar-benar meninggalkan ruang kerja ayahnya itu.

Selang beberapa hari, Lisa menyelesaikan pindah rumahnya. Meski hanya sedikit pakaian, sepatu, tas, perhiasan dan uang-uangnya yang ia bawa, gadis itu butuh dua hari untuk meletakan semuanya di rumah barunya. Alih-alih menyewa sebuah truk pindahan, gadis itu lebih memilih membawa semua barang-barangnya dengan taksi, dua kali perjalanan.

"Hanya ini pakaianmu?" tanya Jisoo, yang sore ini datang untuk membantu Lisa merapikan pakaiannya ke dalam lemari. Lisa sudah sibuk sejak kemarin, namun Jisoo baru datang sore ini, ketika Lisa datang dengan pakaian dan uang-uangnya.

"Lainnya di binatu," santai Lisa. "Binatu di depan saunamu, dua minggu lagi akan diantar ke sini," susulnya.

"Dua minggu? Berapa banyak pakaianmu di sana?"

"Empat box ditambah satu koper."

"Termasuk pakaian dalam?"

"Tidak, aku tidak punya banyak pakaian dalam," jawabnya, masih terdengar santai sedang Jisoo menaikan alisnya.

"Kau bukan pelacur, 'kan? Mengaku lah, aku tahu kau bukan pelacur."

"Apa hubungannya pakaian dalam dengan pelacur? Kau tidak butuh pakaian dalam untuk melacur," tanyanya, membuat Jisoo kemudian berdecak, mengatakan kalau ia benar dan Seunghyun salah. Lisa bukan pelacur, setidaknya bagi Jisoo. "Tapi eonni, sampai kapan kau akan tetap di rumahku? Aku harus pergi nanti malam," ucap Lisa, membiarkan Jisoo mempercayai apapun yang ia pikirkan.

Jisoo bertanya kemana Lisa akan pergi, dan gadis itu mengatakan kalau ia akan bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang baru. Seorang yang mengaku sebagai asisten Jiyong menghubungi Lisa, mengatakan kalau Jiyong mengundang Lisa untuk datang ke kasino malam ini.

"Wahh... Kalau begitu aku juga harus ke sana," seru Jisoo, bergegas melangkah ke meja rias yang punya sebuah kotak berisi puluhan alat rias.

"Kenapa?"

"Kekasihku pasti ada di sana, aku harus menjaganya," santai Jisoo, mulai mengeluarkan beberapa lipstik, memilih warna yang ia suka.

"Aku ragu dia akan selingkuh-"

"Bukan menjaga penisnya dari wanita lain, tapi menjaga dompetnya agar dia tidak bermain sampai miskin," potong Jisoo kali ini sukses membuat Lisa terkekeh.

"Baiklah, kalau yang itu aku percaya. Tapi jangan bersetubuh di toilet, Tuan Ji pernah melihat kalian di toilet," lapor Lisa, membuat Jisoo membulatkan matanya, menatap Lisa dengan raut kaget yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Sungguh?"

"Aku yakin ada banyak orang yang sudah pernah melihat kalian melakukannya," jawab Lisa, membuat Jisoo langsung menjerit, menutupi dadanya dengan lengannya, bersikap seolah ia baru saja tertangkap basah dan sedang malu luar biasa. Saking malunya, Jisoo sampai duduk di lantai, meremas rambutnya sendiri, menundukkan kepalanya dan menyesali perbuatannya. Padahal Jisoo tidak terlalu panik saat Lisa menemukan mereka bersetubuh di sauna. "Kau benar-benar terkejut, eonni? Bukan akting?" tanya Lisa, namun Jisoo tidak menanggapinya, gadis itu terlalu malu untuk menunjukan wajahnya sekarang. Jisoo bahkan khawatir ia tidak bisa menunjukan wajahnya lagi pada Tuan Ji dan orang-orang yang mungkin sudah pernah melihatnya bersetubuh.

"Ya! Lisa! Haruskah aku pindah dari sini?" tanya Jisoo, masih sembari duduk di lantai dan memeluk dirinya sendiri. "Sepertinya aku tidak bisa hidup di sini kalau ada banyak orang yang pernah melihat tubuhku! Bagaimana ini?!"

"Hm... Kenapa? Tubuhmu cantik-"

"Ya!"

"Apa?"

"Aku straight!"

"Aku juga. Maksudku, tidak perlu malu, tubuhmu cantik, mereka tidak akan berpikir buruk tentangmu. Kalau berpikir mesum... Sudah pasti, mereka berpikir begitu."

"Kau sama sekali tidak membantu."

"Karena itu, kenapa kau tidak bisa menahan nafsumu sebentar dan masuk ke hotel? Atau pulang ke rumah kalau tidak punya uang."

"Menjengkelkan," kesal Jisoo sedang gadis yang membuatnya kesal hanya terkekeh, tertawa sembari menyusun sebuah benteng uang baru di sudut apartemen studionya.

***


Free Pass SellerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang