***
Mrs. Twig duduk di ranjang selepas berpakaian. Ia perhatikan kakinya yang semalam Jiyong balut dengan selembar perban lentur. Ia juga memperhatikan tangannya, yang terbalut oleh selembar kasa putih. "Tuan Ji, bisakah kau melakukan sesuatu untukku sekali lagi?" tanyanya kemudian, masih sembari memperhatikan pergelangan kakinya yang terluka.
"Apa?"
"Aku akan tidur denganmu lagi kalau kau mau melakukannya."
"Tidak perlu, apa?"
"Kau tidak ingin tidur denganku lagi?"
"Bukan itu maksudku, apa yang kau inginkan?"
"Temukan seseorang untukku."
"Siapa?"
Lisa belum menjawab pertanyaan itu, sebab pintu kamar Jiyong tiba-tiba terbuka. Tentu saja oleh Somi yang kesal karena ayah berengseknya tidak juga keluar dari kamarnya. "Wah... Kau selalu bilang ayahmu kejam tapi kau masih berani masuk ke sini tanpa permisi? Luar biasa Kwon Somi, kau benar-benar putrinya," komentar Lisa.
"Eonni-" Somi sedikit terkejut saat melihat Lisa bisa duduk dengan santai di atas ranjang berantakan milik ayahnya.
Dalam angan Somi, ayahnya memperkosa wanita yang sudah menolongnya. Menidurinya sampai wanita itu terbaring tidak berdaya di atas ranjang. Melukai gadis yang sudah lebih dulu terluka sampai ia jadi benar-benar hancur, sangat berantakan.
Tuan Ji hanya melirik mereka, memperhatikan Lisa yang sedang merapikan rambutnya sembari menatap Somi yang canggung. Somi tidak pernah menyangka kalau wanita yang ia anggap teman itu bisa sangat santai seperti sekarang. Dengan resah, Somi kemudian menarik Lisa, mengajak temannya kabur dari pesona dingin ayahnya namun Lisa menolak— gadis itu mengaduh kesakitan karena kakinya yang bengkak setelah menendang meja kemarin.
"Ya! Ya! Ya! Baiklah! Jangan menarikku!" seru Mrs. Twig, menepis tangan Somi dari miliknya kemudian berdiri di atas kakinya sendiri. "Aku akan mengikutimu, tapi jangan menarikku, kakiku sakit," serunya, pelan-pelan melangkah menghampiri Somi. Lebih dulu ia lewati Jiyong, mengusap bahu pria itu, mengatakan kalau ia akan datang lagi nanti.
"Aku akan mengirimimu alamatnya, temui aku di sana nanti," balas Jiyong, melirik pada Somi yang menatap tajam matanya. "Apa? Kau mau mengeluarkan matamu? Mau ku bantu? Augh! Menyebalkan, kau pasti belum pernah bersetubuh- ya!" cibir Jiyong, yang saat itu juga meneriaki orang yang memukul kepalanya— Mrs. Twig.
"Ups... Itu tadi refleks, maaf," santai Lisa, sama sekali tidak terdengar tulus.
Di menit-menit selanjutnya, Somi mengantar Lisa pulang dengan supir dan mobil ayahnya. Keduanya duduk di kursi belakang, Somi sengaja duduk menyamping untuk menatap Lisa, sedang wanita yang ia tatap bersandar pada pintu mobil, beberapa kali menguap karena kantuk, juga bosan sebab Somi terus membicarakan ayahnya.
Somi tidak ingin Lisa berhubungan dengan ayah kejamnya. Lisa yang ia kenal terlalu baik untuk Jiyong yang ditemuinya setiap hari. Ayahnya pemarah, ayahnya kasar, ayahnya kejam dan suka memukuli orang. Lisa yang menurut gadis itu keren, terlalu baik untuk berengsek seperti ayahnya.
"Eonni, jangan berkencan apalagi menikah dengan ayahku! Kau terlalu baik untuknya!" seru Somi, yang dilarang turun dari mobil dan mengantar Lisa sampai ke pintu rumahnya. Gadis itu hanya bisa berteriak dari celah jendela mobil yang ia buka sementara wanita yang melarangnya turun hanya melambaikan tangannya kemudian menghilang di balik pintu utama gedung apartemennya.
Begitu sore datang, Lisa menerima sebuah pesan di handphonenya. Ia pikir pesan itu dari Jiyong, karenanya ia mengabaikan pesannya. "Kenapa pria itu tidak bisa bersabar? Dia pikir berdandan itu mudah?" keluh Lisa, sebab pesan yang masuk kini berbuah jadi sebuah panggilan.
Mrs. Twig memilih untuk menyelesaikan dulu lipstiknya sebelum ia melangkah ke ranjang, menjawab panggilan kedua yang masuk. Bukan dari Tuan Ji, melainkan dari Taeyong. Enggan bicara dengan pria yang ia pikir akan membujuknya untuk menyerahkan diri, Lisa menolak panggilan itu. Namun Taeyong tidak menyerah begitu saja. Ia terus menelepon Mrs. Twig sampai akhirnya gadis itu jengah dan menjawab panggilannya.
Kini, Lisa tahu kalau dugaannya salah. Taeyong tidak menelepon untuk membujuknya. Pria itu justru menangis, mengatakan kalau ayahnya baru saja meninggal karena sebuah kecelakaan tunggal. Kepala Kepolisian Ibu Kota dan supirnya meninggal setelah mobil mereka tergelincir, menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi.
"Aku akan ke sana, aku akan segera ke sana, jangan melakukan apapun," ucap Lisa.
"Mereka bilang ayahku menerima suap... Polisi memintaku menandatangani izin autopsi-"
"Jangan. Jangan lakukan apapun. Tunggu aku di sana. Temani ibumu, tunggu aku di sana," potong Lisa. "Aku pernah berada di posisimu, aku pernah mengalaminya, karena itu tunggu aku. Jangan menyetujui atau menolak apapun," susulnya, mendesak Taeyong agar mau mengikuti permintaannya.
Begitu panggilan berakhir, Lisa melepaskan dress ketat berwarna hitamnya. Ia ganti pakaiannya dengan sepasang setelan jas berwarna hitam— blazer berlengan panjang, kemeja biru juga celana panjang yang senada dengan blazernya. Merasa penampilannya sudah layak untuk menghadiri sebuah pemakaman, gadis itu bergegas keluar dari rumahnya, menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat dan pergi menemui Jiyong di alamat yang pria itu kirimkan— alamat gudang pendinginnya.
Tuan Ji sedang bicara dengan seorang pria asing ketika Mrs. Twig datang. Rasanya aneh melihat seorang pemilik gudang ikan bicara dengan seorang pria Rusia yang jauh lebih tinggi darinya. Tuan Ji terlihat sangat mungil berada di sebelah pria Rusia itu namun Lisa tidak mempedulikannya. Gadis itu melangkah menghampiri Jiyong, lantas menarik bahu pria itu, membuat Tuan Ji langsung menatapnya.
"Kita harus bicara," tegas Lisa, meski Kang Daesung dan beberapa pria lain di sana sudah berusaha menghentikannya.
"Kau tidak lihat aku sedang bicara-"
"Aku minta maaf, ada urusan pribadi yang harus aku bicarakan dengannya, tolong tunggu sebentar, beri aku lima menit untuk menyelesaikan urusan kami," sopan Lisa, dengan Bahasa Rusianya yang terdengar lembut seolah ia seorang penutur asli. Mendengar Lisa, si pria Rusia mempersilahkan mereka untuk bicara. Ia beri Mrs. Twig waktu lima menit untuk bicara dengan rekan kerjanya.
Merasa perlu menjaga sebuah rahasia, Lisa menarik Jiyong untuk mengikutinya. Berjalan menjauhi kerumunan sembari mengabaikan wajah kesal Jiyong. "Meski kita pernah bersetubuh, bukan berarti kau berhak melakukan ini. Aku tidak suka seseorang menganggu pekerjaanku, jangan bertingkah," ketus pria itu, menarik lepas tangannya dari pegangan Lisa.
"Lee Byunghun meninggal, kau yang melakukannya?" tanya Lisa, langsung pada point utamanya. "Aku memang memintamu untuk-"
"Tidak," potong Jiyong. "Aku belum melakukan apapun untuk membantumu. Tapi bagaimana dia mati?"
"Kau membunuh Kepala Kepolisian!" seru Lisa, hampir berteriak meski ia sudah berusaha untuk meredam suaranya. "Victoria bilang kau membunuh kekasihnya karenaku. Sekarang kau membunuh Lee Byunghun juga? Semudah itu?! Ya! Aku tidak pernah memintamu untuk membunuhnya, aku hanya ingin kau melindungiku. Aku memang tidak ingin pergi ke kantor polisi, tapi bukan berarti aku ingin pergi ke upacara pemakaman!"
"Aku tidak membunuhnya!" balas Jiyong, sama kesalnya. "Bagaimana dia mati?! Aku bahkan tidak tahu kalau dia mati!" susulnya, yang kemudian menggerakkan tangannya, memanggil Kang Daesung untuk menghampirinya. "Cari tahu bagaimana dan siapa yang membunuh Lee Byunghun," perintah Jiyong kemudian, bersikeras kalau ia tidak pernah membunuh seseorang hanya karena Mrs. Twig.
Selang beberapa detik setelah Jiyong memberikan perintahnya pada Kang Daesung, sang asisten kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Jiyong. Perlahan pria itu berbisik, mengatakan apa yang diketahuinya tentang kematian Lee Byunghun. "Ah... Benar juga, aku hampir saja lupa... Lee Byunghun memang mati karenamu, Mrs. Twig," komentar Tuan Ji, setelah mendengar bisikan asistennya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Pass Seller
FanfictionIt's all for the benefits, why we pretend don't give a fuck? All behaviors only for benefits. Good or bad, who's care? Nobody. Don't mess up my scenario. In this cinema has no hero.
