45

664 131 3
                                        

***

Siang itu juga Lisa pergi dari rumah. Seperti perintah Jiyong, tidak ada seorang pun yang menahannya, tidak ada seorang pun yang melarangnya pergi. Di dalam mobilnya, gadis itu mengemudi tanpa punya satupun tempat tujuan. Dalam perjalanannya, gadis itu bertanya-tanya, apa saja yang ia lakukan selama ini sampai dirinya tidak punya satu pun tempat yang aman selain rumah Jiyong.

Gadis itu mengemudi sampai bahan bakarnya habis, mengisi bahan bakarnya kemudian mengemudi lagi, begitu terus sampai matahari akhirnya terbenam. Melewati jalan yang sama berkali-kali, tanpa tujuan, tanpa motivasi, berharap ada seseorang yang ia temui lalu mengajaknya pergi ke suatu tempat.

"Kenapa aku tidak punya apapun setelah bertengkar dengannya?" tanyanya, yang bahkan tidak punya pekerjaan untuk mengalihkan pikirannya sendiri. Mrs. Twig tidak pernah menyangka kalau dirinya sudah sepenuhnya berada dibawah kuasa Tuan Ji. "Oh, Kwon Somi, kau sibuk?" seru Lisa, setelah akhirnya gadis itu menjawab panggilannya, di dering ketujuh teleponnya.

"Aku baru saja selesai kelas, malam ini aku ada acara klub, ada apa?"

"Oh... Kau sibuk, tidak apa-apa, bagaimana rasanya jadi mahasiswa? Kau menyukainya?"

"Tugas-tugasnya hampir membunuhku. Bagaimana kau melewati masa kuliahmu dulu, eonni? Kau membayar seseorang untuk mengerjakan tugasmu?"

"Tentu saja tidak, aku yang justru dibayar untuk mengerjakan tugas orang lain. Kau akan pergi menemui teman-teman klubmu sekarang? Sudah makan malam?"

"Aku akan makan malam dengan teman-teman klubku. Oh iya! Tadi appa datang ke kampusku! Dia mengajakku makan siang bersamanya, tapi dia terlambat, aku harus masuk kelas jadi aku suruh dia makan sendiri di kantin lalu pulang. Tidak benar-benar sendiri, dengan Paman Daesung juga."

"Aku bertengkar dengannya semalam."

"Kenapa? Karena dia punya anak lagi? Dia sungguhan menghamili wanita lain? Setelah membuatmu tinggal di rumah itu selama ini? Berengsek sekali. Sudah ku bilang jangan berkencan dengannya. Ayahku berengsek. Kau terlalu baik untuknya. Campakkan saja dia, menurutku pria yang terakhir kali itu jauh lebih baik darinya. Kenapa eonni sangat menyukai ayahku?"

"Aku tidak menyukai ayahmu," balas Lisa. "Aku menyukai uangnya-"

"Heish... Pembohong. Kau bahkan tidak suka berbelanja. Eonni, selama ini aku mengagumimu, kau selalu keren setiap kali berhubungan dengan orang-orang. Kau selalu bisa berdiri sendirian, independent girl. Tapi kenapa kau tidak meninggalkan ayahku? Aku yakin ayahku akan diam saja meski kau pergi. Kau juga punya segalanya, kau tidak butuh ayahku, iya kan?"

"Hm... Kau benar," Lisa mengakuinya. "Aku punya segalanya, aku bisa melakukan apapun tanpanya."

"Jadi kau akan meninggalkannya, kan? Eonni bisa menginap di rumahku kalau belum punya tempat tinggal. Pergi saja dari rumah itu," tawar Somi namun Lisa menolaknya.

Setelah seharian pergi dari rumah sampai ia bicara dengan Somi, Lisa tidak tahu apa yang hilang. Namun pertanyaan gadis itu membuatnya menyadari sesuatu— ia punya segalanya selain tujuan. Sebelum bertemu dengan Jiyong, gadis itu hanya berusaha untuk hidup agar ia tidak berakhir seperti ayahnya— bunuh diri. Kemudian ia bertemu dengan Jiyong dan tujuan hidupnya sedikit bergeser— ia perlu hidup dan bekerja untuk membayar hutangnya. Dia tidak punya keluarga, ia tidak punya seseorang yang bisa melunasi hutangnya. Ia perlu tetap hidup sampai hutang itu lunas. Lalu hutangnya saat lunas, Jiyong masih memberinya beberapa perintah— cari Taeyong, urus ini, urus itu. Tuan Ji tidak melepaskannya begitu saja.

Sementara panggilan Lisa berakhir, Somi menekan nomor telepon lain di handphonenya. Ia telepon ayahnya, bertanya alasan pria itu bertengkar dengan temannya. "Baiklah kalau tidak mau memberitahuku alasan kalian bertengkar. Tapi, apa kalian tidak bisa berbaikan saja? Lisa eonni sepertinya kesusahan," tanya Somi kemudian.

"Kenapa? Apa yang yang dia katakan padamu?"

"Tidak ada," jawab Somi. "Tapi, tidak semua orang sepertimu. Ada tipe orang yang suka berfikir sepertimu, ada juga tipe orang yang lebih suka bekerja. Lisa eonni tipe yang kedua. Dia lebih suka diberi perintah lalu dipuji daripada memikirkan sendiri apa yang harus dia lakukan. Lihat saja, appa menyuruhnya tinggal di rumah dan dia benar-benar tinggal di sana selama empat tahun. Tidak bisakah kalian berbaikan saja? Lisa eonni pasti malu untuk menemuimu lebih dulu, tidak bisakah kau yang meneleponnya? Suruh dia pulang? Please, hm?"

"Kenapa tidak kau saja yang melakukannya? Telepon dia, suruh dia ke rumahmu. Kalau kau memang mengkhawatirkannya."

"Appa tidak tahu sepintar apa Lisa eonni? Dia tidak mendengarkan orang yang lebih bodoh darinya!"

"Ah... Jadi kau mengakui kalau kau bodoh?"

"Augh! Menyebalkan! Bukan itu maksudku, dibanding kalian yang lebih tua dariku, tentu saja aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa alasan kalian bertengkar. Pekerjaan atau perselingkuhan. Apa kalian pernah melibatkanku dalam urusan kalian? Kau bahkan tidak pernah bertanya padaku, apa aku mau punya ibu tiri atau tidak. Appa selalu memutuskan semuanya sendiri tanpa mempertimbangkan kalau kau sudah punya anak. Tapi aku lebih pintar dari anak-anak seusiaku, jangan meremehkanku. Pokoknya cepat telepon Lisa eonni! Aku akan marah kalau kau membuat temanku menangis!"

"Hm. Dia sudah pulang."

"Oh ya? Kalau begitu cepat berbaikan! Cepat minta maaf padanya!" suruh Somi, dan panggilan itu pun berakhir.

Meski pulang, gadis itu mengabaikannya. Jangankan bicara, menoleh saja tidak. Ia lewati Jiyong yang baru saja menutup teleponnya di ruang tengah kemudian masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintunya. Gadis itu hanya pulang untuk mengganti pakaiannya.

Jiyong mengikutinya, menyusul Mrs. Twig ke kamar utama kemudian berkata, "kemana kau akan pergi? kau memberitahu Somi kalau kita bertengkar? Kapan kita bertengkar?" tanyanya, yang sudah pasti diabaikan oleh gadis sibuk itu. Lisa sedang membasuh wajahnya ketika Jiyong masuk dan menggeser pintu kamar mandinya. "Apa kau menganggap situasi ini sebagai masalah pasangan dan kau perlu melibatkan putriku?  Kita berkencan dan hampir putus? Begitu situasinya?" susul pria itu dan baru kali ini ia mendapatkan perhatian gadis itu.

Lisa menatap tajam matanya, meremas botol sabun cuci mukanya seolah ingin melempar botol kaca itu pada Jiyong. "Akhirnya kau melihatku," komentar santai pria itu setelah melihat reaksi lawan bicaranya. "Tinggal lah di sini kalau kau tidak punya tujuan. Jangan membuat Somi khawatir. Aku yang akan keluar. Aku punya banyak tempat tujuan."

Botol sabun berbahan kaca yang isinya masih penuh itu pecah menabrak ambang pintu di sebelah Jiyong. Beberapa pecahan kacanya mengenai wajah Jiyong. Ada darah menetes dari dua luka kecil yang masing-masing seukuran satu senti di pipi Jiyong, namun pria itu hanya menghela nafasnya. Berusaha untuk menerima perlakuan itu begitu saja. Berusaha menahan emosinya.

"Kali ini aku memaafkanmu," komentar Jiyong, ketika matanya melihat tangan Lisa bergetar. "Tapi lain kali tidak, jangan melakukannya lagi," tambahnya, yang kemudian melangkah pergi setelah ia menyuruh Lisa untuk merapikan sendiri kekacauan buatannya.

***

Free Pass SellerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang