***
Sudah satu minggu Lisa tinggal di sauna dan tidak bisa keluar dari sana. Kim Jisoo tidak melepaskannya sampai Lisa membayarnya dengan harga yang pantas. Lisa bisa saja memakai uang pribadinya untuk melarikan diri, namun ia sudah terlanjur membual kalau ia akan membayar Jisoo dengan uang hasil judinya.
Sembari mengeringkan rambutnya, gadis itu memperhatikan dahinya. Dahinya memar, karena jemari Jisoo. Sang guru menyentil dahinya setiap kali Lisa melakukan kesalahan dengan kartu-kartunya. Sialnya, wanita itu selalu berhasil menyentil di titik yang sama, membuatnya jadi semakin sakit setiap kali ia melakukan kesalahan. "Tidak akan ku biarkan dia melukaiku lagi," yakin Lisa, mengusapkan sedikit salep ke dahinya sendiri. Berkali-kali ia menyumpahi Jisoo sebagai guru paling mengerikan yang pernah ditemuinya.
"Eonni! Lihat dahiku! Apa-apaan ini?! Aku bekerja dengan wajahku!" kesal Lisa, melihat Jisoo yang baru saja masuk ke ruang loker, hendak mengambil sekeranjang handuk bekas pakai yang ditinggalkan pelanggannya.
"Karena itu, bermainlah dengan benar. Sampai kapan kau akan tinggal di sini? Kapan hutangmu lunas?" tanya Jisoo, bersikap acuh, meraih keranjang handuknya kemudian meninggalkan lagi ruang loker itu. "Bawakan sisa handuk kotor yang lainnya!" susulnya, menyuruh Lisa memungut handuk dan pakaian merah muda yang berserakan di bangku, di westafel, sampai di lantai.
"Kenapa wanita-wanita di sini jorok sekali?! Ya! Apa susahnya melempar handuknya ke keranjang?! Kenapa kau meninggalkannya sembarangan?!" kesal Lisa, mengomeli pelaku penelantaran handuk-handuk itu, yang tentu saja pelakunya sudah lama pergi dari sana. Di ruang loker itu, semua orang masih sibuk dengan rambut basah mereka, dengan hairdryer, dengan kunci loker dan pakaian mereka, tidak ada yang peduli dengan omelan Lisa. "Ya! Masukan baju kotormu ke keranjang!" bentak Lisa, pada seorang wanita yang baru beranjak, meninggalkan handuk serta pakaian kotornya di westafel, di sebelah Lisa yang masih sibuk dengan pengeriting rambutnya.
Wanita yang Lisa marahi berdecak, dengan kasar ia ambil pakaian kotornya itu, memasukannya ke dalam keranjang pakaian kotor dengan sedikit membantingnya kemudian beranjak ke lokernya untuk mengambil sisa barang-barangnya.
"Bagus, begitu," susul Lisa, dengan tangannya yang lihai membentuk gelombang-gelombang mempesona di rambut panjangnya. Malam ini Lisa harus tampil mempesona, sebab Jisoo bilang seorang pemilik gudang pendingin paling besar di daerah itu ingin bertemu dengannya.
Selesai berdandan dan mengganti pakaian merah mudanya dengan sweater dan celana pendeknya minggu lalu, Lisa menghampiri Jisoo di ruang cuci. Ia bawa sekeranjang pakaian kotor bersamanya, meninggalkannya di ruang cuci lantas berkeliling, mencari pemilik sauna itu yang selalu menghilang seperti hantu.
"Beritahu Jisoo eonni kalau aku pergi sebentar hari ini. Aku akan kembali ke sini nanti malam, mungkin hampir pagi. Aku titip kunci lokerku," ucap Lisa, pada gadis lain di meja depan, sebab ia tidak berhasil menemukan gurunya dimana pun bahkan di ruang uap sekalipun.
"Baik," angguk dingin si penjaga meja resepsionis itu, ia sibuk dengan handphonenya, sama sekali tidak peduli pada Lisa yang menyembunyikan memar bekas jari Jisoo dengan poninya.
Melangkah keluar, Lisa masuk ke dalam sebuah taksi yang ia pesan. Ia minta supir taksi itu untuk membawanya ke toko pakaian terbesar di kota pinggir laut itu, lantas mulai menikmati perjalanannya sembari menelepon. Seorang pria yang Lisa kenal, meneleponnya sore ini.
"Dimana kau sekarang? Kau baik-baik saja?" tanya pria itu begitu Lisa menjawab panggilannya.
"Hm... Aku di tepi pantai, bermain Go-Stop, kenapa mencariku?" jawab Lisa.
"Besok hari kematian ayahmu, kau sudah menyiapkannya?"
"Ah aku lupa soal itu," tunduk Lisa, menghindari silau cahaya sore dari jendela mobil. "Tidak perlu menyiapkan apapun. Tidak perlu datang ke rumahku. Aku tidak akan pulang untuk beberapa hari ini," tenangnya, sembari memperhatikan cat kuku di jari-jarinya yang mulai mengelupas. "Ternyata hari ini aku sibuk sekali. Bisa kita bicara besok? Atau lusa saja? Ah minggu depan. Aku bisa meluangkan waktu minggu depan-"
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Lalisa Park? Kau sudah dapat kerja? Berhentilah bermain, ayahmu tidak akan senang," sebal pria itu. "Kalau belum, kirim lamaranmu ke kantorku, aku akan membantumu mendapatkan sebuah pekerjaan di sini."
"Ayahku sudah mati, darimana oppa tahu dia senang atau sedih? Dia datang ke mimpimu? Tsk... Dia bahkan tidak pernah datang ke mimpiku," balas Lisa, sama sebalnya. "Lagi pula aku tidak bisa mengirim lamaran kemana pun. Aku sudah membakar ijazahku, semuanya. Tidak ada sisa, bahkan ijazah sekolah dasar. Berhentilah mengurusku, urusi saja keluargamu sendiri."
"Bagaimana aku bisa berhenti? Aku bahkan tidak tahu bagaimana kau makan. Kau punya uang? Atau jangan-jangan kau tidak punya uang untuk pulang? Aku akan mengirim uang jadi-"
"Ya! Lee Taeyong! Aku punya uang, aku bisa membeli makananku sendiri! Jangan memberiku uang, keluargamu sendiri juga butuh uang! Sudahlah, berhenti membicarakan uang. Aku sibuk sekarang, kita bicara lagi nanti," kesal Lisa, menyela pria yang meneleponnya lantas mematikan panggilan itu secara sepihak.
Selang beberapa menit, Lee Taeyong menghubunginya lagi. Namun kali ini Lisa memutuskan untuk menolak panggilan itu. Lisa enggan membicarakan uang dengan seorang pegawai biasa dari perusahaan swasta di ibu kota yang tidak punya cukup uang untuk membeli rumahnya sendiri. Entah apa yang Taeyong lakukan sampai ia dan keluarganya terlihat begitu miskin, meski sudah bekerja di sebuah perusahaan besar. Mungkin karena jabatannya belum terlalu tinggi. "Harusnya dia mencari uang untuk dirinya sendiri, tsk," kesal Lisa setelah melihat notifikasi transaksi dari mobile banking-nya.
Tempat tujuannya yang pertama adalah toko pakaian. Ia beli sebuah gaun hitam yang pas di tubuhnya juga sebuah sepatu hak tinggi yang senada dengan gaunnya. Gadis itu punya banyak uang, meski ironisnya, uang dari Taeyong tadi justru langsung habis hanya untuk membayar taksinya saja. Lepas mengganti pakaiannya dengan gaunnya yang baru, gadis itu melanjutkan kesibukannya di pusat perbelanjaan. Ia perbaiki cat kukunya, di jari tangan bahkan kakinya. Ia beli beberapa lipstik, alat rias sampai parfum, mempercantik dirinya kemudian kembali lagi ke sauna.
Lisa tiba di sauna saat malam sudah gelap. Sebuah mobil berhenti di sana, dengan seorang yang terlihat seperti preman berdiri di sebelahnya, sibuk menelepon. Dengan beberapa tas belanja di tangannya, Lisa menjawab panggilan itu. "Aku sudah melihatmu. Kenapa kau tidak berdandan? Kau terlihat seperti mucikari yang ingin menjualku," ketus Lisa, melewati si preman, masuk ke dalam sauna dan menyimpan barang-barangnya di meja resepsionis, menitipkannya pada Jisoo.
"Kenapa kau lama sekali?! Bosku sudah menunggumu!" kesal pria itu, mematikan panggilannya, menghampiri Lisa yang sudah tampil mempesona dengan gaun seksinya. Sang preman langsung menutup rapat mulutnya, melirik payudara Mrs. Twig yang hampir terlihat karena gaun berkerah rendah itu.
"Apa yang kau lihat? Kau mau mati?!" balas Lisa, memukul dahi sang preman dengan dompetnya, membuat Jisoo terkekeh dari meja resepsionis.
"Dapatkan banyak uang, cantik!" seru Jisoo, dari tempatnya duduk.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Pass Seller
FanficIt's all for the benefits, why we pretend don't give a fuck? All behaviors only for benefits. Good or bad, who's care? Nobody. Don't mess up my scenario. In this cinema has no hero.
