***
Kwon Somi baru keluar dari kamar tidurnya di pukul sembilan malam. Gadis itu keluar untuk mengembalikan nampan berisi piring sisa makan malamnya, ia lewati ruang tengah, melirik ke jendela besar di sana kemudian melihat ayahnya pergi setelah mandi. Padahal pria itu baru saja pulang. Penasaran kemana ayahnya akan pergi malam ini, buru-buru ia letakan nampannya di atas meja makan, berlari kecil ke gerbang depan ingin mengejar ayahnya.
"Asisten Kang, kemana ayahku akan pergi? Kenapa kau tidak ikut? Kemana mobilnya? Kenapa dia memakai mobil lain?" tanya Somi, sebab ia kalah cepat dengan ayahnya yang sudah lebih dulu pergi bersama mobilnya.
"Kenapa aku harus mengikutinya berkencan?"
"Dengan siapa dia berkencan? Tidak mungkin. Psikopat sepertinya mana bisa jatuh cinta," cibir Somi, masih berdiri di halaman rumahnya, bersama asisten ayahnya yang seharusnya sudah bisa pulang dan beristirahat.
"Tentu saja mungkin, dia bisa mencintaimu, maksudku sebagai putrinya. Buktinya dia masih merawatmu sampai sekarang, padahal kalian sering sekali bertengkar."
"Dia melakukan itu hanya karena ayah dan kakeknya. Karena dia tidak punya keturunan lainnya," acuh Somi.
"Kenapa dia harus peduli dengan keturunan sekarang? Dia masih sangat sehat. Kalau hanya keturunan untuk mewarisi uangnya, dia bisa membuatnya, berapapun yang dia inginkan."
"Benar juga," angguk Somi. "Dia bahkan tidak perlu mencintai ibuku untuk membuatku. Tidur dengan pelacur lalu menghamilinya, dia bisa melakukan itu sebanyak yang dia mau. Karena itu dia aneh... Mustahil kalau dia jatuh cinta sekarang. Kenapa tiba-tiba? Sebelumnya dia tidak begitu."
"Karena dia baru bertemu dengan gadis yang disukainya sekarang? Seorang wanita yang bisa mencairkan hatinya yang selama ini beku?" balas Daesung, sengaja membesar-besarkan ceritanya.
"Heish... Cerita klise seperti dalam dongeng begitu tidak terjadi pada semua orang. Bertemu cinta sejati setelah bertahun-tahun jadi orang jahat? Apalagi kalau cinta sejatinya itu wanita super baik yang bisa memaklumi kejahatannya lalu berusaha merubahnya jadi baik, dan mereka hidup bahagia selamanya, cerita seperti itu hanya ada di novel. Cari saja, bad boy atau mafia's love story, ada banyak sekali."
"Tapi wanita yang disukai ayahmu bukan wanita baik yang hidupnya penuh kebajikan."
"Wanita yang dia sukainya bukan Lisa eonni?"
"Uhm... Bukan Lisa eonni yang kau kenal?"
Di tempat lain, Lisa berdiri mematung di rumah duka. Kakinya menginjak lantai di dalam ruang penghormatan, tangannya memegang semangkuk sup yang akan disajikannya untuk tamu-tamu yang datang. Dengan beralasan kalau Kepala Lee mengkonsumsi obat-obatan terlarang, Lisa meminta Taeyong segera membuatkan upacara pemakaman untuk ayahnya, mengkremasinya meski sang ibu masih terbaring sakit di rumah sakit, karena terlampau terkejut atas kematian yang tiba-tiba itu. Karenanya, malam ini juga upacara itu berlangsung, setelah mereka menolak permohonan autopsi dan sebelum kematian itu benar-benar dianggap sebagai kasus pembunuhan.
Istri Kepala Lee awalnya setuju dengan apa yang putranya lakukan. Ya, kita makamkan saja ayahmu— begitu katanya, tapi karena sang ibu sakit, Taeyong harus mengurus semuanya sendirian. Lisa ada di sana untuk membantu. Mulai dari mencari rumah duka, ruang penghormatan, memesan makanan untuk para tamu, membeli bunga dan yang lainnya, Lisa ada di sana untuk membantu. Gadis itu tidak berhenti bergerak sampai istri Kepala Lee datang, menatapnya dengan tatapan marah, bersiap untuk menghancurkannya. Nyonya Lee marah, karena wanita yang ia anggap sebagai simpanan suaminya ada di sana, mengambil tempatnya untuk mengadakan upacara penghormatan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Free Pass Seller
Fiksi PenggemarIt's all for the benefits, why we pretend don't give a fuck? All behaviors only for benefits. Good or bad, who's care? Nobody. Don't mess up my scenario. In this cinema has no hero.
