TAEHYUNG POV
Dering ponselku membangunkanku dari tidur pulasku di kursi kemudi mobil. Nama Park Jimin tertera di layar panggilan.
Dengan malas aku menjawab panggilan telepon Park Jimin.
"Kita ada penerbangan ke Jepang siang ini Taehyung"
"Hemm...okey"
Aku hendak menutup ponselku tapi Jimin masih berbicara menanyakan tentang sesuatu.
"Gadis itu...kau tidak membunuhnya kan Taehyung??"
Aku tersenyum sinis mendengar pertanyaan Jimin.
"Lebih dari itu Jim..."
Jimin mungkin mati berdiri mendengar jawabanku. Biasanya aku orang yang jauh dari kata main main dengan apa yang aku katakan.
Aku meregangkan tubuhku dan mengenakan kembali pakaianku,hanya celana dan tshirt hitam polos baru yang memang ku siapkan beberapa di mobilku.
Jennie masih tertidur pulas di kursi tengah mengenakan jas miliku untuk menutupi tubuh polosnya.
Aku menghampirinya,dan mengangkat tubuh Jennie. Aku hanya ingin memindahkannya ke kursi depan di sampingku.
Dia sedikit terkejut saat aku mengangkatnya,dan sedikit membuka matanya tapi tidak ada perlawanan. Jennie justru mengalungkan satu lenganya di leherku dan kembali tertidur.
Dengan lembut aku meletakan Jennie di kursi depan. Aku menurunkan lagi kursinya agar Jennie lebih nyaman saat tidur.
Aku memandang lekat Jennie dan memperhatikan setiap inci wajah tenangnya saat tidur,mulutnya sedikit terbuka dan membuatku memulas sedikit senyum karena gemas.
Pandanganku beralih pada kedua paha dalamnya yang memar kebiruan karenaku. Kedua lututku yang menekan keras pahanya memaksa agar terbuka untuku segera ku sesali,belum lagi bibirnya yang pecah dan sedikit bengkak.
Tanpa sadar rasa sesalku membawa tanganku membelai wajah Jennie dengan lembut,menyematkan helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya.
"Kamu bisa menerimaku lebih baik saat aku melakukanya kedua kali padamu,aku seharusnya tidak perlu kasar padamu"
Malam ini saat aku 'meniduri' Jennie untuk yang kedua kali,aku sedikit terkejut karena Jennie merespon sentuhanku dengan cukup baik.
Dia tidak lagi memberontak dan melawan. Mungkin karena dia benar benar kehabisan tenaga untuk terus melawanku,atau memang dia menikamatinya?
Aku bahkan tidak perlu lagi menggunakan pelumas sialan itu saat 'memasukinya' karena dia sudah cukup 'basah' untuku.
'Oral seks' yang kulakukan untuknya benar benar membuatnya kehilangan akal,aku rasa.
Selama 'seks' kedua kami,aku tidak bisa lagi membedakan rintihan yang keluar dari mulut Jennie,bagiku rintihanya kali ini lebih terdengar seperti desahan penuh kenikmatan.
Bahkan aku yakin ,Jennie bisa mencapai klimaksnya. Aku tidak bisa melupakan bagaimana dia menjerit dan tubuhnya bergetar di bawah kungkunganku. Dia medapatkan orgasme pertamanya.
Hanya dengan mengingat kembali seks kami,dengan mudah membuat 'milikku' tegang kembali,tapi aku tahu Jennie bisa pingsan kapan saja jika aku kembali memaksanya.
Aku tidak ingin bertindak kasar lagi padanya,untuk pertama kalinya dalam hidupku aku begitu menyesali apa yang baru saja aku lakukan.
Aku memasangkan Jennie savety belt sebelum aku melajukan mobiku.
Ini pukul 4 pagi dan jalanan masih sangat lengan. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan penuh.
***
Mobilku berhenti tepat di depan rumah Jennie. Alamat rumahnya bukanlah sesuatu yang sulit kudapatkan.
Aku mencoba membangunkan Jennie perlahan dengan menyentuh pipi tembamnya.
"Jennie...sudah sampai"
Dia mengernyit,membuka sedikit matanya. Jennie terbangun,dia terlihat sedikit bingung dan melihat ke sekelilingnya.
"Rumahmu"
Aku rasa dia belum sepenuhya kembali dari tidurnya.
Aku mengambil langkah membukakan savety belt Jennie. Lagi lagi Jennie tidak menolak,dia hanya terdiam membiarkan aku melakukan untuknya.
Wajah kami sangat dekat dan saat aku memalingkan wajahku ke arahnya,mata kami saling bertemu. Aku tidak tahan untuk tidak mencuri satu kecupan di bibirnya.
Kecupan lembutku tepat di bibirnya yang pecah membuat Jennie sedikit terkejut,pipinya yang pucat sedikit memerah. Apa dia tersipu??
Setelah membantu Jennie melepas savety beltnya aku memberikan satu tshirt miliku agar bisa dia kenakan. Aku merusak seluruh pakaian Jennie sementara tidak mungkin Jennie keluar hanya mengenakan jas tanpa dalaman apapun.
"Pakai ini"
Jennie masih belum bergeming dan kembali acuh setelah tersipu karena kecupanku. Dia berubah dengan sangat cepat.
"Kamu mau keluar seperti itu??"
Dengan kesal dia mengambil tshirt miliku dan dengan santainya dia membuka jas satu satunya yang menutupi tubuh polosnya didepanku.
Aku hanya bisa menelan ludah membuka mataku lebar lebar,sayang melewatkan pemandangan indah yang aku tidak tahu kapan lagi aku bisa melihatnya. Aku harap secepatnya.
Setelah memakai tshirt,Jennie mengenakan jasku sebagai outer.
Segera setelah selesai dia membuka pintu mobil dengan cepat. Aku hendak memperingatkan agar pelan pelan saat turun dari mobil tapi Jennie sudah lebih dulu melompat.
Dia terkejut dan terdiam sesaat,aku tahu dia merasakan nyeri diseluruh pangkal pahanya.
"Mau aku gendong??" Tawarku.
Dan " Brraaakkkkkkkk....!!"
Bantingan pintu mobil keras tepat di depan wajahku sebagai ganti jawaban pertanyaanku.
Aku tersenyum gemas,entah bagaiman rasa kesal dan marahnya padaku justru membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"Sampai jumpa lagi Jennie..."
Bisiku pelan untuk diriku sendiri.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini antara aku dan Jennie.
Apa dia akan melakukan tuntutan padaku?? Atau dia hanya akan menyerah dan menyimpan semua ini untuk dirinya sendiri.
****************
Thaks untuk supportnya,happy reading...💚💜
KAMU SEDANG MEMBACA
Forgive You (pengampunan)
Fiksi PenggemarTakdir mempertemukan mereka untuk saling menghancurkan satu sama lain hingga jatuh bersama kedasar kehancuran. Namun keadaan justru membuat mereka saling berpegangan,saling menguatkan dan akhirnya saling menyelamatkan satu sama lain. "Wanita wanita...
