Once Upon a Time (2)

1.1K 106 11
                                        

12 September 1991


“Aku tidak sabar mempelajari Divinition di tahun keempat” Hermione menoleh pada Padma Patil yang berjalan disampingnya dengan tatapan aneh

“Aku mengerti dengan selera orang, tapi kenapa kau mau belajar melihat sesuatu dari masa depanmu berdasarkan daun the? That's weird” ucap Hermione

“Why? Aku sangat penasaran dengan calon suamiku di masa depan” tambah Lavender Brown dan Hermione memutar matanya

“Kita baru 11 tahun dan kau sudah memikirkan suami masa depanmu? Wah kau sangat revolusioner” timpal Hermione sambil tertawa

“Oh ya, aku dan Lavender akan langsung ke asrama, kau ikut?” Hermione menggeleng

“aku akan ke perpustakaan dulu”

“Kau mau mengerjakan pr sejarah sihir kan?” tanya Lavender dan Hermione menoleh padanya

“Darimana kau tau?”

“aku bisa menebaknya dari wajahmu, kalau begitu kami pergi duluan Mi!”
Perpustakaan adalah tempat favorit Hermione di Hogwarts dan dia langsung jatuh cinta saat pertama kali memasukinya dua belas hari yang lalu.

Tempat itu lebih baik daripada perpustakaan terbesar muggle di London, walaupun Hermione  akan tetap mengunjunginya saat liburan nanti.

“Baiklah, mana yang akan ku baca lebih dulu ya”gumam Hermione saat meletakkan tumpukkan buku diatas meja di spot favoritnya, diujung ruangan, dekat Bagian Terlarang dan surganya buku-buku langka.

“oh ya, aku perlu melihat buku Sejarah Quidditch” ucap Hermione sambil berdiri dan berjalan melewati beberapa rak buku raksasa mencoba mencari buku yang dia butuhkan namun dia tidak menemukan apapun sebelum berhenti saat melihat sosok anak laki-laki seusianya diujung rak, duduk sendirian di lantai sambil membaca sebuah buku besar.

Hermione berjalan lebih dekat dan menangkap figur laki-laki itu dengan jelas.

Surai pirang yang lebih mirip platina, wajah yang nampak tajam bahkan saat dilihat dari samping dan matanya fokus kepada buku dipangkuannya.

“Hi” sapa Hermione pelan.

Saat kepala anak itu terangkat dan menoleh kearah Hermione, gadis itu terkejut melihat mata abu-abu jernih yang dimiliki laki-laki itu.

“hi” Hermione melirik buku dipangkuan anak itu dan menunjuknya.

“Emm, saat kau sudah selesai dengan itu, boleh aku meminjamnya?” Anak itu melihat buku ditangannya lalu mengangguk

“Ambil saja, aku sudah selesai” Draco memberikan buku itu kepada Hermione yang mengangguk pelan

“kau tahun pertama sepertiku tapi aku jarang melihatmu, namaku Hermione Granger” tanya Hermione sambil berjongkok dan mengulurkan tangannya dan mata anak itu membulat lebar menatap tangan Hermione

“Draco Malfoy” ucapnya sambil perlahan menjabat tangan Hermione dan gadis itu tersenyum lebar.

“Boleh aku duduk disini?” Draco lagi-lagi menatap Hermione beberapa detik sebelum mengangguk dan sontak gadis itu duduk disamping kanannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Draco pelan

“Membaca dan belajar tentu saja” jawab Hermione lalu mulai membuka bukunya.

“Bukan itu, maksudku, apa yang kau lakukan disini denganku?”  Sontak Hermione menoleh

“memang apa yang salah dengan itu?” Draco mengalihkan pandangannya

“Tidak banyak yang mau bicara denganku” anak laki-laki itu sedikit terkejut saat mendengar bunyi buku yang ditutup dengan kencang lalu menoleh kearah gadis yang menautkan alisnya disampingnya

“Kau dibully?” Hermione mencodongkan tubuhnya kearah Draco yang memundurkan tubuhnya

“Tidak”

“Lalu?” suara Hermione semakin tinggi namun Draco menutup mulutnya dengan tangannya Dan memberi gestur agar tidak berisik

“A—aku seorang muggleborn” Hermione berkedip beberapa kali sebelum melirik ke patch asrama di kantung dada jubah Draco dan mundur seraya meluruskan punggungnya

“Kau disortir ke asrama Slytherin, pantas saja kau merasa begitu”

“Maksudmu?”

“hm, semua asrama diisi dengan murid yang berasal dari keluarga penyihir tua dan sebagian lagi muggleborn sepertimu dan halfblood dengan adil. Tapi kupikir Slytherin menampung banyak anak-anak bodoh yang manja. Tolong jangan tersinggung tapi aku sendiri tidak suka dengan Zabini dan Greengrass, mereka selalu pamer dan congkak” Kali ini Draco yang berkedip beberapa kali sambil menatap Hermione.

Bukannya Draco tidak tau jika gadis disebelahnya ini adalah pewaris keluarga penyihir Pureblood tertua di Inggris, Hermione Granger.

Tapi mendengar kalimat yang kekuar dari bibir gadis itu beberapa saat lalu tentang sesama 'koloni' nya terasa seperti angin segar bagi Draco.

“Sepertinya kau akan suka berada di Gryffindor. Common Room kami selalu hangat dan anak-anak Gryffindor lain selalu berkumpul disana, kami bercerita, dan memakan cemilan hingga larut malam. Sungguh menyenangkan” ucap Hermione sambil tersenyum

“Iya, terdengar menyenangkan” jawab Draco masih menatap Hermione.

“jadi kau mau jadi temanku?”

“kau mau?” Hermione tertawa pelan

“Tentu saja, kita juga bisa belajar bersama setiap malam disini, tidak banyak yang bisa kuajak ke perpustakaan jadi aku selalu belajar sendirian” Draco terdiam sesaat lalu mengangguk.

“Baiklah”

“Friends?” Draco terkejut saat melihat Hermione mengangkat jari kelingkingnya dan mengarahkannya pada Draco

“Friends” jawabnya seraya melingkarkan kelingkingnya sendiri dengan Hermione.

“Mulai sekarang, kau tidak perlu duduk disini sendirian, oke?”
“Oke”

Piece Of HerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang