Author Note: Huruf yang dimiringkan berarti Flashback ya readers.
Alurnya maju lalu mundur, dan semuanya dimulai dengan garis separasi (---)
Fic inspired by : Tiara Andini's song (Merasa Indah)
---
Jubah khusus yang dia pesan dari Madam Malkins itu terasa rapi dan halus ditangannya.
Setidaknya 400 galleon yang dia gelontorkan untuk sepasang jubah itu sepadan.
Rambutnya tidak ditutupi oleh gel rambut sedikitpun, dan dibiarkan begitu saja hingga helaian rambutnya menutupi dahinya.
Dia yakin wanita itu menyukai gaya rambutnya.
Karena dia pernah mengatakannya.
Diatas kasur, dengan kepala wanita itu berada di lengannya dan di sela-sela rasa kantuknya, dengan menempelkan ciuman ringan di lehernya, dia berbisik,
“Kau terlihat lebih baik dengan rambut seperti ini”
“Rambut pasca sex yang menakjubkan maksudmu?” wanita itu tertawa dan dia merasa pelukan wanita itu semakin erat didadanya.
“Kau terlihat polos, seperti anak kecil yang belum mengerti apapun” sontak pria itu terdiam.
Dua puluh lima tahun hidupnya dan dia tidak pernah sekalipun mendengar seseorang mengatakan bahwa dia anak yang baik atau anak yang pintar, hell—dia tidak pernah mengerti rasanya menjadi anak kecil yang tidak memiliki dosa.
Dia selalu merasa dia terlahir diantara dosa yang dibuat oleh orangtuanya.
Tapi bersama wanita itu dalam hitungan bulan saja, dia sudah merasa menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya yang sebenarnya.
---
Dia melihat pantulannya untuk terakhir kali didepan cermin di kamarnya sebelum meraih mantel tebal untuk melindunginya dari musim dingin yang terjadi diluar Manornya saat ini dan beranjak keluar dari kamarnya.
Dia membuka mobil Audi miliknya yang sudah disiapkan oleh pelayannya didepan pintu utama lalu duduk didalamnya, di kursi pengemudi.
Sejak bersama gadis itu, dia selalu menyetir sendiri karena gadisnya benci saat dia membawa limo atau mobil yang lebih besar dengan seorang supir yang menyetir untuk mereka.
Dia menatap kedepan untuk beberapa menit, jalanan yang masih bersih, karena salju belum turun meskipun hari ini adala hari natal.
Hermione Granger selalu menjadi gadis yang ceria, dan selalu memiliki topik pembicaraan ringan untuk mencairkan semua suasana.
Awalnya dia mencoba membuat gadis itu merasa rendah dengan mencoba membahas obrolan yang lebih berat seperti undang-undang yang baru diresmikan pemerintah atau tentang masalah politik lainnya yang sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
Hebatnya, gadis itu bisa menimpalinya dengan imbang.
Sure, dia selalu tau jika Hermione selalu menempati peringkat satu di universitas yang sedang dia hadiri saat itu.
Tapi terlepas dari keseimbangan diantara mereka berdua, enaknya masakan Hermione atau sex yang luar biasa, dia selalu merasa kehadiran gadis itu menyebalkan.
Hermione selalu bernyanyi ringan dibalik nafasnya, , membahas atau ikut bernyanyi saat mereka menonton netflix di penthousenya.
Gadis itu terlalu ceria dengan semua warna dan tawa yang dia miliki.
Tapi Tom selalu merasa ingin menghancurkan senyuman itu.
Dia membencinya.
---
Tepatnya saat dia menyetir di tikungan terakhir diujung jalan keluar dari Manornya saat dia akhirnya melihat penjual kacang chesnut panggang yang sudah tidak terlihat selama satu bulan terakhir.
Dia selalu membeli kacang panggang itu setiap hari rabu sore, dan memakannya didalam kamarnya ditemani tiga atau terkadang empat botol vodka mahal miliknya seraya menatap foto polaroid Hermione
Lembar terakhir yang dia miliki tentang gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Piece Of Her
RomanceKumpulan kisah (one shot dan series) yang diceritakan dari sudut pandang dua orang manusia.
