I Don't Know Me

312 59 3
                                        

Kamal

"Dia tim gogle, sama kayak gue kayak elu."

Siro ngebacotin gue, menjawab seorang jantan dengan name tag Salim di dada kiri.

"Dia ini baru aja..."
"Lo tahu aja gue suka nasi liwet yang ini," potong gue sebelum Siro bocornya kebablasan. Mengumbar yang tidak harus di umbar. Saat dia melihat tanda peringatan di mata gue, Siro mengangguk mengejek gue sambil senyum menunduk.

Bikin gue pengin hajar muka mulusnya.

Gue membuka makanan yang katanya memang Siro pesan buat gue. Meski dia ga tahu gue mau datang ke ruangannya, sudah ketentuan takdir anak itu memesan makanan yang cocok di lidah gue.

Isi meja ini campur-campur. Sepertinya memang sudah di rencanakan. Dari makanan pembuka sampai penutup, rata-rata menu rumahan. Dan gue kemudian melihat kotak bekal yang tadi gue bawa buat cewek itu. Dia baru membukanya, sedetik kemudian kotak itu di ambil alih oleh teman di sebelahnya.

"Lo makan yang ini ya, Datu, gue kangen abon tongkol buatan lo," kata si temannya.

Gue terbengong sesaat, melihat dia menerima permintaan temannya dan menerima makanan lain yang tidak dia bawa.

"Arisan yang gue pegang ini ada dua macam, Mal..."

"Ya Allah, Lord Atiiiii bisa ga sih lu ga narget dulu. Semua lu targetin."

"Heh, buaya cap botol sirup, diem lu."

"Gini-gini cabang gue banyak, tau kan lu?"

"Cabang doang yang banyak, kagak ada bagus-bagusnya. Apaan? Buaya bisa dicicakin. Buaya macam apa lu?"

Suasana semakin kisruh dengan suara debat dan makan sekaligus.

"Hah, bagus. Lanjutkan. Sudah cocok kalen jadi orang Medan. Coba aku liat sampai dimana kalian bisa gas tuh urat leher."

Salim sepertinya terpancing ucapan... Lesni. Gie baca namanya dan dari bahasanya ketahuan orang mana.

"Udah enggak, Lord. Gue udah pinter ye, dosen gue pawang buaya."

"Hilih bicit."

"Lo bilang gitu berarti ngeremehin Datu."

"Heh, Datu lu bawa-bawa."

"Dosen gue kan dia."

Pertukaran suara ini sesekali di selingi pertukaran makanan. Ribut, tapi seru. Ini pertama kali gue menemukan suasana kantor seperti ini.

"Gue cuma bantu lu healing waktu di cicakin kali, denger curhat kegoblokan lu." Respon Datu, siomay yang dia makan hampir jabis.

"Coba ko umbar aibnya si Salim, biar ketahuan sama si Siro sama... siapa nama ko?"

Leher Lesni menjulur ke gue.

"Kamal, Les." Ati mewakili gue, "hati-hati sekarang dia juga penandatangan daftar gaji."

"Ih memang pernah kuapakan dia harus hati-hati pula. Kantor ini tak profesional, kubakar hidup-hidup."

"Helleh, omongan lo." Cibir si Salim.

"Mau ngetes ko?"

"Kagak Les, lu bakar nih kantor berapa nyawa yang lo bakar juga, jangan egois."

"Can you please calm down, ini acara makan apa debat ILC sih?"

Siapa lagi ini. Cewek berponi, berbandana, dan baju warna-warni. Gue nyari name tagnya ga ketemu.

"San, boleh minta pudingnya?"

San?

"De... eounie Datu."

Sekarang logatnya jadi Korea.

Tersisa sepuluh menit sebelum jam istirahat selesai. Siro dan gue ngobrol biasa dan mereka seperti grup kantor pada umumnya juga, kumpul dan cerita.

"Mumpung rame nih, gue bikin konten dulu lur." Kata Siro, menepuk bahu gue kemudian mengeluarkan ponsel dan mulai merekam.

"Sekarang gue sama grup kantor baru yang asik...." Siro membuka vlognya.

Anak itu selalu jeli melihat kesempatan. Ada saja yang menjadi bahan konten. Vlognya menggunung di setiap akun, pengikutnya lumayan dan dari sana dia bisa menghasilkan tambahan. Katanya lumayan nyambi konten kreator bisa bikin dia jajan apartemen.

"Tadi Susan do'a terkonyolnya dapat bekas lipglos EXO, sakarang gue ke Datu."

Siro mendekati dia. Datu. Cewek yang kemarin gue bawa ke klinik Stevi.

"Do'a paling konyol yang pernah lo sampaikan ke Tuhan, apa coba?" Tanya Siro.

Datu kemudian membalas, "gue kasih tahu tapi ga boleh nanya balik, setuju?"

"No prob, ini buat konten kok, lucu-lucuan, nanti gue edit juga. Apa Tu jawaban lo?"

"Do'a paling konyol yang pernah gue sampaikan ke Tuhan, gue berjodoh sama anak tunggal, yatim piatu. Jadi gue ga ada mertua atau ipar, memulai rumah tangga berdua doang sama pasangan. Itu aja."

What? Apa itu tadi. Ga hanya gue, semua pasang kuping ke jawaban Datu dan kami terdiam tanpa komentar. Padahal sebelumnya ada saja sahutan saat yang lain menjawab pertanyaan Siro.

Berjodoh dengan anak tunggal tanpa keluarga. Itu maksudnya? Kenapa?

"Satu lagi,"
"No, kalo lo nanya alasan gue ga mau jawab."
"Enggak, gue ga nanya alasan," Siro sepertinya ingin tambahan.
"Ya udah, apa?" Datu menyerah.
"Harus yang kaya raya ga?"
"Enggak, gue bisa cari uang sendiri."

Siro berdiri, setelah tadi berjongkok menyamakan tinggi dengan Datu yang duduk. Dia menepuk dadanya dan mengambil napas dalam.

Apa-apaan anak itu?

"Selamat," katanya sambil mengulurkan tangan ke Datu, "lo sudah menemukan jodol lo. Kayaknya gue cowok yang lo cari."

Gue menggeram jengkel dan mengambil kertas, gue remas dan melempar kepala Siro.

"Lo masih punya bapak, Njingan!"

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang