Kejut Jantung

354 36 3
                                        

Posisi Datu yang tidak pernah Sulis lihat selama ini, sekarang terjadi. Sahabatnya itu duduk di atas tikar plastik warna-warni murahan di ruang tengahnya yang sempit. Bersandar tembok dengan kaki terlipat yang di peluk tangannya sangat erat. Di depannya, terpampang kotak cantik berwarna hitam berlapis kain belundru berisikan cincin yang luar biasa indah. Datu tidak bisa menaksir harganya karena tidak pernah berurusan dengan barang yang namanya perhiasan. Apa itu kalung, gelang, cincin, anting? Bahkan sampai sekarang telinganya tanpa tindikan, dimana lumrahnya anak perempuan sudah punya tindikan untuk dipasangkan anting.

Datu bisa saja, bahkan sangat mampu untuk menindik telinga setelah sedewasa sekarang. Belakangan dia pikir, tidak.

Suara pintu yang di tutup dan suara Kamal yang sudah tidak terdengar tidak mengalihkan pandangan Datu dari cincin itu. Ada rasa ringan sedikit setelah suara Kamal tidak ada lagi. Saat ini, setiap dia mendengar suara Kamal ada rasa berat, desakan beban yang amat kuat menyerangnya. Itu juga dia rasakan selama Kamal menyambanginya di aula. Kabur adalah solusi akhir yang dia ambil karena pikiran-pikiran kusut yang belum bisa dia uraikan.

"Harusnya yang enak sekarang kita minum bir aja kali, ya?" Sulis meletakkan kopi tanpa gula di depan Datu. "Ada kali dua ratusan juta tuh harganya. Kalo lu berat dan ga mau pake, boleh lah gue jual terus ambil rumah yang gedean dikit, kasian Laila kamarnya sempit."

"Lis!" Suara Datu lirih, pelan, dan penuh beban.

Ah, mode serius kalau obrolan pakai sebut nama asli.

"Apa Kamal adalah takdir yang gue lihat waktu deal-deal-an sama Tuhan di alam rahim?" Sulis mendengar tanpa menyahut. "Dulu gue siap sih kalau ada kuli panggul yang naksir gue di pasar, gue siap hidup susah sama laki melarat. Gue pernah pasrah kalau jodoh gue kurir atau ojek, gue pernah pasrah kalau keadaan mengharuskan gue jadi tenaga kerja ke luar negri, gue siap kalau harus hidup susah seumur hidup karena mental gue udah babak belur di jalan. Tapi... buat ada di samping Kamal selama sisa hidup..."

"... bayangin jadi mantu orang gedongan, Kamal yang gue baru lahir mungkin udah punya mainan miniatur mobil mahal, udah dibawa jalan-jalan ke luar negri, punya keluarga cemara, harmonis, anggota keluarga tanpa burik," Datu menarik napas dan di hempas kuat, "ga ada bayangan gue berjodoh sama manusia satu ini."

"Lagu hidup lo emang jelek banget dari lahir, sekarang di bikin koplo sama semesta, jadi bagus. Bukannya bersukur, emang dasar manusia!"

"Gue takut, Lis. Gue takut standar mereka ga nyampe di gue. Gimana kalau perkiraan mereka tentang gue meleset, jauh. Terus Kamal juga begitu. Gimana kalau Kamal tiba-tiba sadar kalau gue orang yang salah buat dia, bagus dia sadar sekarang, kalau sadarnya sebulan setelah nikah?"

"Heh, tempe medoan! Nikah aja belum. Lu baru di lamar."

"Tapi Kamal mau langsung nikah."

"Ya nikah aja dulu."

"Gue takut, Jangkrik!"

"Taik lah kau!"

"Huaaaaaaaaaaaaaaaa, ya Allah. Personal branding gue ke Tuhan dulu bagus banget apa, yak? Dikira gue kuat kalo jalannya begini."

"Emang sakit jiwa."

"Kamal terlalu jazz buat gue yang koplo ini, Liiiiis. Lu paham, kan?"

"Paham. Tapi sekarang lu setara kan sama dia?"

"Itu bukan pakemnya. Gue tiba-tiba punya warisan juga ga ngerti ngolahnya gimana. Ah, lu ngingetin aja ke sono, lagi bahas Kamal ini."

Yah, meski sudah ada yang menangani Datu tidak bisa lepas begitu saja dari urusan waris-mewaris leluhurnya. Pak Felix menangani dengan sangat baik, dan Datu sewaktu-waktu akan di panggil untuk kelancaran urusan itu. Dan ketika "kerusuhan" masalah keluarga aslinya datang berdesakan, Kamal menyerobot dengan sebuah cincin lamaran mengajaknya menikah.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang