Tujuan

281 48 2
                                        

Kamal

Untuk beberapa waktu gue memang harus jadi benalu bagi Siro. Setelah hari ini benar-benar berakhir, gue pada akhirnya berakhir di apartemen Siro.

Setiap dia tanya 'mau sampai kapan lo numpang?' gue ga pernah jawab, karena memang gue belum tahu mau sampai kapan gue di sini.

Siro sedang duduk mengedit videonya saat gue masuk.

"Lo mending tentukan dari sekarang kapan lo minggat dari sini. Gue udah mulai takut orang-orang ngira kita penyuka sesama." Katanya sebagai ucapan selamat datang.

Kurang ajar memang.

Gue melempar badan dan mengangkat kaki ke meja.

"Tell me what you want, tell me what you need, tell me na na na na na na..."

Suara Siro sangatlah jelek, sayangnya badan dan pikiran gue sepakat merespon dengan rasa malas. Pertanyaan Siro dari lagu itu 'apa yang gue ingin, apa yang gue butuh' gue juga ga tahu. Saat ini gue hanya membiarkan Tuhan bekerja, tanpa gue protes atau memberi tahu Dia apa yag gue mau.

"Jadi gimana? Lo ngapain aja seharian?" Tanyanya seperti induk semang.

Gue masih malas angkat bicara.

"Oh ya!" Siro berseru dan gue lumayan kaget. "Datu ngirimin gue foto dokumen ini."

Dia menunjukkan gue foto dokumen di iPadnya.

"Terus?"

"Katanya dia mau bicarakan ini di kantor tadi siang, tapi dia lu bikin jadi asisten seharian. Lo dapat apa, sih?"

Gue melepas perhatian dari dokumen dan terfokus pada pertayaan Siro. Sepertinya gue sedang butuh seseorang untuk mengingatkan gue, yang gue lakukan ini benar atau tidak. Atau sebrengsek apa gue seandainya gue melakukan niat jelek gue pada Datu.

"Menurut lo, kalau gue jadikan Datu sebagai pelampiasan balas dendam gue, gimana?"

Siro tersentak.

"Maksudnya?"

"Dari yang kita lihat, Datu sudah punya pasangan. Cowok yang antar-jemput dia tempo hari. Tapi di acara makan waktu di ruangan lo, katanya dia single. Seharian ini gue sama dia, gue sengaja nahan dia, gue perhatiin gerak-gerik dia, nunggu momen dia di telpon pacarnya, atau saat dia gelisah karena pacarnya cemburu karena dia sama gue di luar kantor cukup lama. Berdua. Hasilya ga ada. Ga ada yang hubungi dia all day long, Ro."

"Bentar, bentar, bentar. Maksud lo apa, sih? Gue ga ngerti."

Siro meletakkan laptop dan sepenuhnya melihat gue. Dengan cepat gue melonggarkan dasi yang sekarang rasanya sesak. Berkali-kali gue menarik napas dan tidak pernah berhasil, dada gue ga pernah merasakan kelegaan.

"Gue pengin tahu, Ro, gue pengin tahu rasanya mengambil milik orang. Gue pengin ngerebut Datu dari cowoknya, gue pengin merasakan cowok lain cemburu patah hati karena gue, gue pengin..."

"KAMAL!!!" Siro berteriak dalam, dia kemudian berdiri, gelisah. "Gue tahu lo masih sakit hati karena kejadian itu, tapi demi Tuhan apa yang lo lakuin, yang lo niatkan itu jahat."

Siro mondar mandir. "Dan demi Tuhan lagi, merrka orang yang berbeda." Tambahnya.

Tentu gue tahu mengambil kebahagiaan orang lain tidaklah dibenarkan. Lantas kenapa orang yang melakukan hal itu tetap saja melakukannya tanpa berpikir bagaimana perasaan orang yang dia ambil kebahagiaannya?

Gue yakin semua manusia tahu apa itu 'sakit'.

"Dude!" Suaranya kini lebih tenang. "Nggak gini aturannya, kalau lo ngelakuin ini, gimana kalau di belakang hari semesta memutar hal yang sama kembali ke elo. Akan berputar lagi, lagi, dan lagi. Karma does exist. Jadi gue saranin mending lo batalin niat lo itu."

Gue tertawa kecil. Menertawakan nasihat Siro.

"If karma does exist, terus yang terjadi sama gue ini karma dari perbuatan gue yang mana? I think I am a good boy since I was born."

***

Persetan Oktober dan gue ga ingat tanggalnya. Siro memberitahu gue lokasi terakhir wanita itu. Setelah menemukan dia, gue meminta Siro juga datang dan membawakan gue red wine.

Awalnya Siro tidak mau. Dia hanya membantu gue menemukan wanita itu demi jawaban atas perasaan gue yang terus-terusan gelisah akan hubungan kami. Sisanya Siro tidak ikut campur. Setelah gue paksa dan sedikit memohon, Siro akhirnya datang ke tempat parkir yang sudah tidak terpakai sebuah mall.

Siro datang dengan red wine, sesuai permintaan gue. Walau minuman itu tidak cocok dinikmati saat suasana siang sepanas ini. Ketika Siro menghampiri gue wajahnya langsung berubah merah dan berkata 'what the fuck' tanpa suara.

Dia membuka botol dan menuangkan minuman ke gelas, gue akhirnya menikmati minuman. Siro kemudian paham kenapa gue minta dia bawa ninuman memabukkan. Kami menonton mobil yang masih terus bergoyang di depan sana.

"Sudah berapa lama?" Tanya Siro dengan suara yang sangat pelan.

"Tepat lo datang mobilnya mulai goyangan cepat, 15, 20 menit, gue ga tahu."

Reaksi anggur ini terasa tidak biasa. Kalau dulu menenangkan sekarang gue malah mual. Tetap gue minum.

"Kenapa ga lo samperin?"
"Kalau gue langsung samperin kita ga bakal bisa nonton pertunjukan gratis ini."

Di dalam, gue sudah meledak dengan jutaan desibel rasa marah. Entahlah. Kekuatan yang entah datang dari mana yang membuat gue bisa menahan diri melihat wanita yang selama ini gue puja ada di dalam satu mobil dengan pria lain dan sekarang mobil itu bergoyang karena ulah mereka.

"Pemilihan lokasinya sih bagus." Gue menarik napas dulu, "kalau saja dia ngomong, gue mau kok bayarin mereka hotel, ga perlu sampai di tempat umum ga terpakai kayak gini."

Siro berdecih.

"Setelah ini, apa?"

Keluarga sudah tahu hubungan kami. Bunda bahkan lebih sayang wanita itu daripada gue. Rencana pernikahan sudah di gadang-gadang. Bagaimana gue menyampaikan masalah ini ke mereka, bagaimana reaksi Bunda nanti, gue ga tahu. Jadi gue menggeleng atas pertanyaan Siro.

Semua tekanan itu akhirnya membuat gue melempar gelas yang gue pegang. Mungkin terdengar oleh mereka, mobil berhenti bergerak.

"KENAPA BERHENTI? LANJUTKAN!!!" suara gue menggema.

Dan botol anggur melayang ke mobil depan.

Pelan-pelan ya, kita dalami dua karakter utama ini. Yang sudah sabar nunggu, MBL MBL, MAKASIH BANYAK LHO.

See you for the next chapter. Happy Sunday everyone.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang