Hak Milik

222 26 2
                                        

Lahir - melawan dunia - bekerja - meninggal.

Kurang lebih seperti itu siklus hidup yang Datu rencanakan. Foya-foya dengan karaukean dan ribut dengan orang yang tidak menyukainya menjadi sedikit pemanis, pelengkap hidupnya agar tidak monoton. Datu tahu dirinya terbatas. Pencapaian tertinggi hidupnya adalah mampu membayar kontrakan setiap bulan tepat waktu. Dia realistis, banyak hal yang tidak mungkin dia capai. Tidak ada previllage keluarga, fasilitas hidup memadai, bahkan sekadar do'a orang tua dia tidak punya.

Bisa dibilang Datu hanya mengandalkan arah angin untuk bertahan hidup.

Kadang dia bisa melawan dengan sangat keras. Tapi sangat banyak waktu saat dia lemah dan tidak berdaya. Saat itu terjadi, dia bersembunyi, merenung, menyelesaikan sendiri tanpa satu orang pun yang tahu.

Semesta mungkin sudah sangat prihatin, sudah sangat lelah melihat Datu tertatih-tatih sendiri. Dan langit pun memberi satu titik embun penyejuk hidupnya berwujud Kamal.

Datu sudah siap meninggal di panti jompo ketika tua renta menderanya. Dia sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu orang yang dia cintai pergi. Dia sudah membayangkan sisa hidupnya akan menjadi pedagang warung kecil di pinggiran pasar. Dia siap hidup liar lagi jika usianya sudah tidak cocok menjadi pegawai. Sangat realistis dan apa adanya. Hidup ya hidup, sambil bekerja agar tidak bosan menunggu giliran jadi ubi.

Adam, satu-satunya teman pria yang mau menjadi temannya tanpa syarat. Bahkan Adam menemani masa awal menstruasi, menjadi pelampiasan PMSnya, tameng andalan Datu saat sulit yang tidak bisa dia hadapi sendiri. Mereka sudah memusnahkan rasa ketertarikan satu sama lain entah sejak kapan. Pertemanan mengalir begitu saja. Saling dukung, saling menjaga, dan melindungi.

Pada Sulis, Datu mendapat jawaban banyak hal akan masalah hidup. Sulis menutup kekosongan dirinya. Sulis mengajarkan banyak hal, memberinya visi, berdamai dengan diri sendiri, menurunkan ego, menyadarkannya bahwa sesekali dia boleh tidak mandiri, boleh bersandar pada orang lain. Lemah adalah sesuatu yang lumrah dan pasti. Menjadi kuat juga harus dan Sulis mengajarkannya bagaimana menempati diri untuk menjadi lemah atau kuat pada saatnya.

Seperti sekarang ini. Saat dia tidak bisa pura-pura kuat setelah menjalani dua operasi di depan Kamal yang sekarang sudah menjadi pasangan sahnya. Bahkan mengingat kenyataan itu tidak membuat Datu begitu senang. Atau mungkin belum. Kejadian-pernikahan-mereka begitu cepat.

"Kata dokter sudah boleh makan, tapi yang lunak dulu."

Kamal yang sedang membawa satu wadah berisi bubur bergerak cepat melihat Datu yang mencoba bangun sendiri. Satu tangan Kamal melingkar di belakang pundak Datu dan bubur di tangannya yang lain hampir di lempar demi membantu Datu agar bisa bangun dengan benar. Datu bergerak tanpa aba-aba. Padahal sebenarnya dia sudah punya susunan acara sendiri di kepala; membantu sang istri bangun, menyuapi bubur, begitulah.

Helaan napas dalam, berat, dan terkesan putus asa pada keadaan. Datu membenarkan posisi duduk. "Hape!" Pintanya pada Kamal. Kamal memberikan ponselnya tanpa syarat. Datu melihat layar yang gelap, tapi siluet berantakan pada wajahnya tampak jelas. Pipi yang masih bengkak, wajah kusam, rambut acak-acakan. Jelek.

"Buka!" Kamal membuka sandi, sengaja membuat posisi agar Datu melihat sandi ponselnya.

Sekali sentuh, Datu membuka aplikasi yang dia mau. Membuka ruang percakapan asal-asalan tanpa melihat nama kontak. Bukan ingin apa-apa, dia hanya ingin menulis karena kata-kata yang baik tidak bisa dia keluarkan sekarang.

Bukankah pengantin harus cantik?

Datu menunjukkan kalimat itu pada Kamal. Seketika itu juga air mata Datu bercucuran. Dia menutup wajah malu. Dia, sebagai pengantin wanita sangat jauh dari bagaimana seorang pengantin harusnya. Tidak ada yang istimewa. Bukankah pengantin wanita adalah aktor paling istimewa dalam sebuah pernikahan? Kenapa dia pengecualian? Kenapa dia begitu menyedihkan.

Dia hendak menenggelamkan diri dalam tekukan kaki yang berusaha dia angkat diantara rasa sakit, tapi gerakan Kamal menggagalkannya. Kamal lebih cepat. Memeluknya sedikit lemah agar Datu tidak kesakitan. Demi Tuhan, Kamal punya kekuatan penuh mendekap Datu saat ini dan berusaha keras agar itu tidak dia lakukan.

Datu menangis semakin keras saat Kamal menciumnya berkali-kali di ujung kepala.

"Aku jelek banget." Lirihnya.

Apa kata-kata manis saat ini bisa berguna? Apa Kamal harus membuat gombalan? Tapi logika pria itu mengatakan tidak. Kamal membiarkan Datu menangis sembari membisikkan.

"Ini terakhir kalinya kamu nangis seperti ini, dan yang aku butuhkan cuma Datu Mayura."

Butuh lima belas menit hingga Datu tenang. Kamal berhasil menyuapinya tujuh sendok bubur. Malam itu berakhir dengan Datu tertidur pulas 10 menit setelah minum obat.

Tatapan Kamal begitu lekat pada wajah Datu. Tangannya memainkan telapak tangan Datu. Pipi masih bengkak, pun sekarang kelopak matanya ikut bengkak setelah menangis lama. Hidung Datu masih kemerahan bekas tangisan.

Kamal merenung, mengurut peristiwa hari ini. Masih ada rasa tidak percaya wanita ini sudah sah menjadi miliknya. Kegagalan ceritanya di masa lalu terbayarkan. Bukan berarti Datu adalah hasil dari kesabaran selama ini atau pencapaian yang harus dirayakan secara egois. Datu adalah tanda bahwa dunia masih pantas dia jalankan. Dunianya masih baik-baik saja.

Kamal tidak bohong, dia hanya perlu Datu. Dia jarang berdo'a dan tidak meminta wanita dalam do'anya. Barangkali Datu adalah jawaban dari do'a-do'a keluarganya karena trauma terberat juga diemban keluarga besar.

Jika dikilas balik, rasa klik perasaannya pada Datu bahkan bukan karena tatap muka, melainkan suara nyanyian, teriakan Datu di atas gedung kantor hari itu. Semesta bisa seasik ini padanya setelah tahun-tahun sebelumnya dia mengutuk keadaan. Datu mungkin tidak membutuhkannya, dan benar adanya dia yang membutuhkan Datu. Kamal sepakat akan hal ini dengan Pencipta.

Banyak sekali hal baik yang dia janjikan sendiri yang ingin dia berikan.  Bahkan saat semesta hendak memberi keburukan takdir untuk ujian mereka, Kamal akan menyingkirkan hal itu sebelum terjadi. Tidak ada kompromi, Datu harus bahagia dengannya sampai akhir.

*****

Ini dulu ya guys. See you soon. Tengkyu sudah sabar. Luv u all.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang