Antara takut dan tidak Datu menjalani beberapa hari ini.
Yaps. Dia benar-benar bolos dari segala urusan kantor. Sampai-sampai ponsel juga sengaja dimatikan. Tidak tahu kemana hilalnya atau tujuan dari bolosnya ini, Datu banyak berpikir tentang dia dan Kamal, tentang apa yang akan terjadi setelah mereka bertemu nanti, tentang kelanjutan mereka, apa yang harus dia katakan di awal kalau dia ingin mengakhiri hubungan.
Sesusah itu memutuskan seseorang yang tidak ada salahnya sama sekali, malah Kamal terlalu benar. Kamal terlampau baik, sempurna untuk dia yang sebiji wanita jelata dengan beribu kekurangan. Hubungan ini tidak benar dan tidak pantas di lanjutkan. Mencari cara menyelesaikannya membuat kepalanya sesekali berdenyut sakit.
Tumben-tumbennya dia punya pacar, sekalinya pacaran eh dapat anak cucu sultan. Jackpot ga, sih? Yang lain mungkin kegirangan dapat pacar sekelas Kamal. Sayangnya Datu berbeda karena rasa insecure yang keterlaluan.
Terima kasih kepada sang sahabat, Bundski, yang telah membantu lancarnya usaha bolos ini. Hanya dengan satu pesan, dia membuat Bundski harus merekayasa perizinan kantor.
"Ini udah bener ga, Dam?" Datu mundur beberapa langkah dari tembok berukuran dua ratus meter yang seperempat bagiannya menjadi proyek mural dia dan Adam. Kepalanya meneleng ke kiri- ke kanan, mengukur dari dua sudut ketepatan warna yang dia poles pada tembok yang sudah di gambar. Adam datang mensejajarkan diri dan mengangguk.
"Akhirnya bener setelah rombak empat kali," komentarnya sambil geleng-geleng, "seumur-umur mural, baru kali ini lu bisa salah sampai empat kali." Dumel Adam lagi.
"Eh, itu karena klien minta revisi, ya, bukan salah gue doang." Datu dengan pembelaannya.
"Klien minta revisi gambar, Neng, bukan warna." Tangkis Adam.
Bisa dibilang menerina job mural ini adalah sebagai pelarian Datu dari masalah. Celakanya bukan ketenangan yang di dapat, dia malah melakukan rusuh dalam proses pengerjaan. Dari luar Datu memang tampak santai dan tenang selama tangannya meliuk-liukkan kuas, manatahu di dalam gejolak yang dia rasakan hingga berimbas pada kesalahan warna dan membuat Adam bekerja ekstra mengulang beberapa kali agar warna sesuai.
Klien mereka ini pun tergolong tegas, tidak mau ada kesalahan. Jadi, saat Datu salah tanpa sengaja, Adam tidak bisa secara asal-asalan ombre warna dan memperbaiki seperti mural-mural di lokasi lain.
Adam dilema sendiri. Mau marah, kasihan Datu yang merana. Enggak dimarahin, dia juga yang lelah. Dia hampir menolak job ini karena luasnya dinding aula sebuah hotel baru jadi yang harus di lukis. Berhubung Neng Datu minta healing yang produktif, deal-deal-an pun terjadi mendadak.
Proyek ini sebenarnya beranggotakan empat orang. Adam dan seorang teman yang bertugas menggambar kasar, seorang lagi bertugas menyediakan cat dan segala perlengkapan, dan Datu sebagai peng-eksekusi warna pada frame yang sudah di gambar kasar bersama Adam. Sebagai ketua Adam berperan ganda, bahkan lebih.
"Ngemie dulu ya, Pak Ket." Datu membuka apron, meminta restu Adam untuk mengisi perut di warung seberang hotel setelah lima jam bekerja. Bersama Datu yang keluar melalui satu dari sekian pintu aula yang di buka, seorang staf hotel masuk dengan ponsel di telinga.
"Mbak Datu," sapanya, "kemana?"
"Ngemie ke Indun." Jawab Datu menyebut nama pemilik warung.
"Makan di dapur aja, Mbak!"
Datu menggeleng melambaikan tangan tak setuju dan berlalu. Si staf lanjut melaksanakan tugas.
"Mas Adam, telpon!" Staf itu mengulurkan ponsel, "dari Pak Kamal." Bisiknya di akhir.
Adam menerima ponsel, dahinya mengkerut. Sudah hari ke empat, dia harus tetap menerima panggilan diam-diam Kamal melalui ponsel salah seorang staf hotel. Betapa kagetnya Adam ketika pertama kali menerima panggilan itu. Dia sudah bertanya bagaimana Kamal bisa melacak keberadaan mereka, dengan santainya Kamal menjawab adalah pokoknya. Setelah itu Kamal tentu saja menanyakan kabar perempuannya, apa yang sebenarnya terjadi, apa yang Datu pikirkan, yang sudah dia ceritakan. Apakah Adam menjawab semua pertanyaan itu? Tentu saja tidak. Dia hanya menjawab pertanyaan umum yang Kamal tanyakan. Tentang masalah yang mereka alami, Adam meminta Kamal mendatangi Datu sendiri. Tapi tidak hari itu, di hari pertama mereka sampai di lokasi mural. Adam memintanya menunggu hingga pikiran Datu menemui titik santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
RandomUdah pernah ngerasain di turunin jabatan padahal pegawai andal? Pernah ngerasain di benci semua anggota keluarga? Pernah ngerasain tidak punya status sosial di mata masyarakat? Pernah ngerasain diludahin sama crush? Kalau belum, cobain deh. Rasanya...
