Kalau sudah sahabatan tulen, tidak perlu terucap kata-kata, dengan kode mata saja kita sudah bisa saling mengerti, berkomunikasi.
Kurang lebih aku dan Bundski punya hubungan seperti itu. Jadi saat kami bertemu di gerbang utama kantor, Senin pagi itu satu tangannya langsung menyodorkanku minuman kopi kalengan.
"Kemarin sibuk apa, Neng?"
Bundski tentu juga tahu aku punya banyak pilihan kegiatan di akhir pekan.
"Hajatan, cake pisang buat Mba Kenya, Minggunya gue tepar sebentar sebelum mural sama Adam," jawabku dan Bunsdki ngangguk beberapa kali.
"Minggu depan gue booking lu bisa kagak?"
"Un..."
"Kita ke toko kain, gue pengin lu bikinin baju."
"tuk?" desisku melanjutkan kata karena cerocosan Sulis yang memotongku. Bersamaan dengan langkah kami yang juga terhenti.
Aku bersedekap dan bersikap pura-pura berpikir serius. Sulis seperti menunggu jawabanku. Bibinya bergerak-gerak tak karuan karena kesal aku menggantung.
"Nghokey." Jawabku dengan jempol terangkat.
Dan kami melanjutkan langkah. Tangan Bundski melingkar di pundakku. Sambil mengobrol ringan, Sulis memberitahuku model baju yang dia inginkan.
"DATU!"
Suara Salim, rekan seruanganku tersembur meneriakkan namaku begitu dia keluar dari lift. Susan menyembulkan kepala dari belakang tubuh Salim dan mereka kompak bergerak mendekati kami setengah berlari.
"Sis..." aku melihat Susan pucat, "did you do something wrong?"
***
Sadar atau tidak, setiap insan di dunia pasti pernah menyakiti seseorang. Sengaja, setengah sengaja, bahkan tidak sengaja sama sekali.
Jangan terkecoh saat menyakiti seseorang, tapi hidupmu baik-baik saja atau malah sangat sangat lebih baik setelahnya.
Aku pernah membaca tulisan ini.
Hukum semesta itu datang bukan pada saat terjadi satu perkara keburukan. Bukan pada saat seseorang itu tersakiti, menangis tersedu-sedu, kemudian berdo'a setelah sebuah perkara buruk menimpanya.
Bukan.
Melainkan pada saat seseorang tersebut telah ikhlas dengan apa yang menimpanya. Di saat dia ikhlas dan bangkit dari keterpurukan, di saat itulah semesta mulai memainkan perannya dengan membalik keadaan.
Pertanyaannya, apa semesta akan berpihak padaku yang hanya serpihan bubuk kopi korporat ini saat tempat kerjaku sendiri tiba-tiba menurunkan jabatanku tanpa pemberitahuan sebelumnya?
"Demi Tuhan, gue orang HRD dan gue samsek ga tau tentang surat pindah lo ini, Datu." Ungkap Sulis. Napasnya masih belum teratur naik turun.
Tanpa Bundski menyatakan ketidaktahuannya pun aku percaya bahwa dia tidak andil.
Sulis masih menekuni surat pindah yang tadi bertengger di atas mejaku. Aku belum sempat membacanya, keburu di ambil para punggawaku.
Lesni masih mengoceh tidak jelas denga logat khasnya. Susan terus saja berkata "ottoke.. ottoke..." penuh khawatir. Salim paling mampu mengendalikan diri meski tadi sempat kaget.
"Pak Iwan." Desis Bundski.
Pak Iwan adalah pimpinan Sulis. Bisa dibilang penguasa Divisi Human Resource Development alias atasan Sulis. Tanda tangannya pasti ada di surat itu hingga membuat Sulis mendesiskan namanya dengan nada jengkel.
"Ini bukan kiamat. Masa kepindahan gue ke arsip lebih menghebohkan kalian di banding hubungan Selena Gomez dan Chris Evan?" Celotehku ringan.
"Bisa-bisanya lo santai, kampret." Tanggap Sulis.
"Kasih tau aku kalo ko punya niat santet, ada temanku orang ahli persantetan yang anti gagal. Cari masalah saja Pak Iwan. Salah orang lah dia." Seru Lesni berapi-api.
Aku sempat ciut, jantungku hampir turun, dan kaki bergetar. Kepalaku mencari-cari alasan dari apa yang terjadi. Dan karena masih kaget, aku belum bisa menemukan aib yang pernah aku lakukan sampai dipindah ke bagian arsip.
Sedetik kemudian kami menoleh karena ketukan sepatu wanita. Hening kami membuat suaranya terang. Suara sepatu Tania. Dia melewati kami begitu saja dan duduk manis di meja. Tangannya menyiapkan pekerjaan dan sekilas aku melihat dia tersenyum.
Surat pindahku yang di pegang Sulis kuambil.
"Berlaku mulai besok. Kembali ke meja deh, gue selesaikan kerjaan dulu," kataku membubarkan kerumunan.
Salim, Susan, dan Lesni kembali ke meja mereka. Sulis mendekatiku.
"Itu si anak...." aku mengangguk kecil.
"Balik ke ruangan lo gih."
Sulis menarik udara dalam dan menghembusnya, dia kemudian berlalu.
***
Belum setengah jam aku bekerja, Pak Pri memanggilku ke ruangannya. Dia melepas petikus dan langsung memyuruhku duduk saat aku muncul.
"Sudah tahu maksud saya, kan, Datu?"
"Saya juga sudah tahu kok, bukan Bapak yang menginginkan saya di pindah." Jawabku dengan tenang.
"Saya sudah mengajukan protes, ini tidak masuk akal."
Pak Pri bukan penghuni lantai empat arau lima yang dimana isinya para petinggi korporat. Tentu dia tidak bisa berbuat sesuka hati dengan masalahku.
"Saya suka bekerja kok Pak, tidak cinta perusahaan ini atau gila jabatan. Mau saya ditempatkan dimana saja, saya terima. Bapak ga perlu sampai repot cari penjelasan dari masalah saya. Cuma saya minta, Pak Pri tetap membantu tim."
"Itu dia, Datu. Saya selama ini percaya sama kamu di tim kita, makanya saya bisa urus yang lain." Jawabnya putus asa.
Begitu mendapat meja sendiri, Pak Pri dulu mengetesku dengan berbagai tantangan yang bisa aku lampaui. Dari sana dia mempercayaiku dalam beberapa hal penting untuk urusan marketing. Dan saat tim terbentuk, beliau sangat gigih membimbing kami. Andilnya besar dalam perjalanan karierku.
Salah satu yang paling aku ingat, Pak Pri menantangku menjual seribu kotak produk kami dalam waktu seminggu. Pada hari pelaporan, aku menunjukkan hasil penjualan yang bahkan melewati targetnya. Meski laporanku detil, tentu aku tidak menulis menjual produk kami di arena balap liar dan di bantu teman tongkronganku. Bagusnya beliau tidak bertanya sejauh itu karena barangkali merasa puas.
"Harus saya cari alasan kamu di pindah. Untuk sementara kamu di arsip ga apa-apa kan, Datu?"
"Sabi lah, Pak."
KAMU SEDANG MEMBACA
HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
AléatoireUdah pernah ngerasain di turunin jabatan padahal pegawai andal? Pernah ngerasain di benci semua anggota keluarga? Pernah ngerasain tidak punya status sosial di mata masyarakat? Pernah ngerasain diludahin sama crush? Kalau belum, cobain deh. Rasanya...
