Fakta

322 59 5
                                        

Tadinya yang paling melekat dalam pikiranku adalah gelapnya masa lalu dan suramnya masa depan.

Bagiku tidak ada yang menjanjikan selain napas. Rumah, ngontrak. Pekerjaan, pegawai kontrak. Kerja sampingan, kadang-kadang. Jangan tanya keluarga, itu lebih tidak jelas lagi. Pertemanan, sedikit karena lebih suka kualitas. Aku tidak punya sesuatu yang bisa kusebut 'akan indah pada waktunya.' Tidak ada yang seperti itu terjadi pada seorang Datu Mayura.

Hanya saja beberapa waktu lalu, Kamal membuatnya lebih terang. Cita-cita, masa depan rasanya aku bisa memegangnya. Angan-angan yang hanya kulihat terjadi pada orang lain bisa kurasakan sendiri.

Punya pacar.

Astaga! Aku punya pacar. Kekasih.

Rasanya masih tidak berhak, tapi Kamal membuatnya mungkin. Dia tidak mengatakan kita jalani saja dulu, tidak. Dia membiarkan semuanya mengalir dan melakukan apa yang dia anggap harus, sedang aku hanya menerima. Bisa di bilang aku tidak tahu bagaimana harusnya bersikap dan bertindak.

Dia bergantian menjagaku di klinik dengan Adam, menebus obat, menanyakan mau makan apa, minum apa, makanan penutup atau hal lain yang rasanya tidak perlu tapi malah dia anggap penting. Sampai aku pulih dan di izinkan pulang, Kamal juga mengantarku ke kontrakan. Kemajuan paling baru, dia mau berangkat bersama ke tempat kerja yang sudah kutolak setengah mati. Tidak boleh ada hubungan antar pegawai, itu harga mati. Kamal hanya menanggapi santai ketakutanku.

"Kalau turun di belakang gedung, gimana?"

Kami sudah hampir sampai dan Kamal tidak mau menurunkanku di belokan jalan. Masih sama. Dia diam saja tanpa menjawab dimana artinya tidak mau, tidak bisa, tidak akan.

Perutku rasanya menari-nari begitu kami memasuki halaman gedung. Kamal menemukan area parkir tak jauh dari lobi. Padahal aku berharap dia parkir di basement atau parkir belakang. Kontrakku memang akan habis dua bulan lagi, itu bukan berarti aku bersedia menorehkan kesan buruk di akhir karier. Affair dengan teman sekantor. Aku bersedia tidak melanjutkan kontrak kalau memang hubungan kami awet.

Ciyeeeeee yang awet! Pret. Sadar Datu! Sesungguhnya aku masih di fase berbunga-bunga karena kasmaran. Apalagi kalau ingat kejadian di klinik. Bbrrrrrrrr.

Saking kasmarannya aku selalu lupa bertanya apa pelaku yang meracunku sudah ketemu.

"Kita kan udah biasa kelihatan keluar sama-sama, kerja di luar." Celetuknya tiba-tiba.

Iya. Masuk akal. Tapi itu saat jam kerja, tidak saat kedatangan seperti sekarang. Kalau ada yang curiga dan melapor kami bisa PHK jamaah tanpa pesangon. Perjalanan cinta macam apa itu? Ya kali ngajak jalan cuma makan kwaci.

Kamal lebih dulu keluar, sekoyong-koyong aku juga membuka pintu dan ngibrit ke dalam menghidari tatapan siapa pun. Juga mencegah Kamal melakukan sikap gentle ala drakor seperti membukakan pintu atau yang lainnya.

Tidak dulu. Kami hanya serpihan kecil perusahaan, jangan sampai dikira menantang aturan.

Kalau dipikir-pikir, harusnya aku menuntaskan saja istirahat sampai akhir pekan, tidak masuk tanggung seperti sekarang di hari Jum'at.

Belum ada circle kantor yang tahu tentang hubungan ini. Kami sepakat merahasiakan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Tidak ada yang mengganggu sekian jam perjalanan kerja. Tidak ada notif laporan sedang apa atau bertukar emoji. Tidak ada sesi chit-chat kami selama bekerja dan bagiku tidak masalah. Kami sudah cukup dewasa untuk menjalani hubungan tanpa harus diwarnai emoji-emoji aplikasi, apalagi sleepcall sampai pagi.

Melewati tengah hari tim wanita sudah lebih dulu berada di ruang arsip. Hari ini Lord Ati membawa makan siang komplit atas dasar syukuran dirgahayu-nya.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang