Sebagai seorang pemilik, Kamal berhak penuh atas kendaraan yang kami pakai. Kemana Kamal mau membawa kendaraannya terserah dia. Tapi sebagai penumpang bernapas, aku juga berhak menentukan pilihan, mau atau tidaknya ikut kemana Kamal akan pergi.
Kami sudah di luar kantor hampir melewati setengah hari. Jam istirahat juga sudah terlewat setengah jam lebih. Bukannya kembali ke tempat kerja, dia sekarang singgah ke sebuah tempat makan. Alasannya, haus.
Alasan yang memang wajar. Sayangnya alasan itu juga disalahgunakan sama si Kamal. Tidak hanya memesan minuman, dia juga memesan beberapa menu makanan. Di hadapanku sekarang ada mi goreng sea food, nasi liwet bakar beserta lalapannya, dan cap cay brokoli.
"Mau mi atau nasi?" Tanyanya. Padahal aku tidak sedikitpun andil dalam pemilihan menu. Percaya diri sekali dia aku akan memilih salah satu.
"Kata orang nolak rezeki itu ga baik dan lagi ga ada alasan kalau kamu bilang masih kenyang. Dari tadi kita belum makan." Tambahnya saat aku tidak juga merespon.
Aku mendengus dengan sekali tawa. Baik sekali Bapak Kamal. Visioner lagi. Tahu keadaan perut orang.
Dengan wajah berat aku mengambil mi goreng. Makanan yang tidak harus ribet pakai buka daun pisang segala.
"Saya kira kamu bakal ambil nasi."
Saya maunya balik kantor dan ngasih tahu Siro hasil temuan saya.
Tanpa merespon ucapannya aku mulai makan. Dia juga melakukan hal yang sama. Suapan demi suapan kami lakukan tanpa bicara. Aku hanya sesekali melihatnya makan dengan tangan. Dia tidak memakai alat makan yang sudah di sediakan.
Saat kami sama-sama sudah selesai dengan piring masing-masing, Kamal menyambung acara makannya dengan menu terakhir yang belum tersentuh. Capcay brokoli.
Aku memberinya waktu menikmati makanannya sembari menghabiskan sisa minuman.
"Malu-maluin tahu, ga? Mereka tuh temen-temen aku, bakal bilang apa mereka kalau liat kamu kayak gini? Aku bakal di ledekin... akh... malu tahu ga?"
"Maaf."
"Maaf maaf, makan tuh maaf... katanya sudah konsul, terapi, mana hasilnya? Tetep aja kamu ga bisa di bawa ke tongkrongan"
Aku menengok belakang. Mencari sumber keributan. Jarak kami satu meja. Sepasang anak muda. Si perempuan tertunduk, sesekali mengusap mata. Si cowok misuh-misuh, mengomel, memarahi tidak jelas.
"Aku tadi serangan panik, kamu kan tahu aku suka begitu kalau mendadak ramai."
Aku melihat si perempuan yang masih tertunduk meremas tangannya.
"Halllah, alasan! Ngomong aja sakit. Emang dasar kamu sakit, goblok, tolol begok. Tambah ramai itu orang tambah seneng, becanda, ketawa. Lah kamu, malah gemeter, keringetan, nangis malu anj..."
Tanpa bisa menahan apa pun lagi aku mengambil air mineral milik Kamal, membuka segel dan meminumnya sedikit, lalu...
Botol air itu membentur kepala si cowok ember dengan bunyi gedebug yang jelas dan bisa di dengar dua orang lainnya di tempat makan ini. Dia menatapku nyalang yang kubalas dengan tatapan menantang, sedetik kemudian dia berdiri keras sampai kursinya terbalik hendak menghampiriku. Aku masih duduk tenang menunggu dia datang dan ingin kulihat apa yang akan dia lakukan. Tapi tanpa kuduga Kamal berdiri hampir sama cepatnya dengan si cowok ngomel, bergerak gesit ke sampingku dan menahan leher si cowok hingga dia mundur.
Suasana memanas. Pemuda itu melawan Kamal. Ketika tangan Kamal melayang untuk membalas dengan tinjuan, perhatianku ditarik oleh suara teriakan sesak di perempuan. Aku segera berdiri menghampiri. Tubuhnya bergetar dan terguncang, tangisnya mengeras. Aku memeluknya sebentar.
KAMU SEDANG MEMBACA
HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
AcakUdah pernah ngerasain di turunin jabatan padahal pegawai andal? Pernah ngerasain di benci semua anggota keluarga? Pernah ngerasain tidak punya status sosial di mata masyarakat? Pernah ngerasain diludahin sama crush? Kalau belum, cobain deh. Rasanya...
