Makan? Sudah. Kenyang? Sudah. Hati Datu senang? Sudah.
Harusnya sekarang tinggal melanjutkan hidup, kembali bekerja mendalami kenyataan. Datu sudah ada janji dengan Adam untuk diskusi warna proyek mural di eks-kantornya dan ada satu proyek mural lagi yang baru saja ditawarkan pada Adam ingin mereka bicarakan. Kamal sendiri sudah pasti sibuk. Beberapa saat lalu Datu merasa tidak enak sudah menyita waktu Kamal cukup banyak. Drama barusan tidak ada di rencana. Jadi Datu ingin sekali mengembalikan Kamal pada posisi harusnya dia berada sekarang. Di meja kerjanya.
Sayangnya Datu salah kalau berpikir mereka akan kembali ke rutinitas karena Kamal bukannya membawa mereka mendekati tempat aktivitas, malah semakin jauh dari kota.
Datu celingak-celinguk tersadar, melihat luar jendela dan Kamal memberi reaksi yang tidak kaget melihat Datu yang mulai panik. Sudah info pada Adam kalau dia otw. Salah satu kalimat yang tidak bisa dipercaya oleh beberapa kalangan, meski tergantung siapa yang mengucapkan. Tapi pada imej Datu, kalau dia sudah bilang "otw" berarti benar dia sudah di jalan menuju lokasi. Sekarang sudah benar dia di jalan, tetapi tidak menuju lokasi.
"Kenapa jalannya beda? Kita mau kemana?"
"Ada."
Di jawab seperti itu Datu tidak puas.
"Ada gimana? Jangan dipotong dong! Kenapa? Kita mau kemana? Aku nanyanya kurang jelas apa gimana sampe kamu jawabnya begitu?"
"Nanti juga tahu."
"Iya nanti juga aku pasti tahu, tapi penasaran sepanjang jalan itu ga enak tau ga sih?" Datu mulai senewen karena mereka sudah keluar dari kota.
Menyerah? Tentu bukan sifat Datu. Jalan hidup saja sudah membuatnya babak belur. Cuma meminta keterangan lengkap Kamal doang merupakan hal kecil. Tapi Kamal tetap batu dan hanya meminta Datu tenang disampingnya. Dia terus cemberut sepanjang jalan. Membalas pesan Adam, membatalkan janji.
Lelah terasa, Datu mengantuk. Bisa tidur ayam sekitar sepuluh menitan karena Kamal berhenti di rest area.
"Mau ngapain kita di sini?" Kamal membalas dengan senyum, Datu memberi ekspresi ingin dibalas jawaban pasti. Tegas.
"Makan, terus pijit bentar. Kalau ada toko baju, mau beli baju juga."
Kamal memberi jawaban cukup lengkap yang sayangnya malah membuat kepala Datu membentuk pertanyaan lain beruntun.
***
Pemadangan seketika berubah saat mobil berbelok ke sebuah jalan kecil yang di awali gapura bambu usang. Pepohonan pinggir jalan berubah menjadi perumahan perkampungan. Semakin ke dalam, rumah semakin jarang dan berjarak-jarak oleh kebun. Kamal terus melaju dengan kecepatan rendah.
"Kalau kamu ada janji sama orang di sini harusnya bilang aja dari tadi, aku bisa balik sendiri kan.
Kamal hanya mengangguk kecil. Apa coba?
"Kita mau ketemu siapa? Jawab yang lengkap!"
"Ssssssmmmmmm." Bibir Kamal malah memgatup sebelum mulai menjawab.
"Itu Om Felix!" Seru Kamal.
Datu mengernyit memastikan bayangan yang dia lihat adalah orang yang Kamal sebut namanya tadi.
Benar. Pak Felix, pengacara keluarganya.
"Kkkita mau ngapain sebenernya?"
Kamal melihat Datu dengan mata penuh kelembutan saat Datu tidak lagi bertanya dengan suara tegas. Sepertinya wanita itu sudah bisa memproses kalau orang yang akan mereka temui, apa yang akan mereka lakukan ada kaitannya dengan Datu sendiri.
"Mungkin ada beberapa bagian yang berubah sampai kamu nggak ngenalin trmpat ini, tapi dari info Om Felix, ini daerah tempat kamu tinggal dulu. Ini kampung halamanmu." Jawab Kamal sambil menggenggam tangan Datu yang sedikit bergetar.
***
"Sebentar ya Om, kita tunggu Datu siap dulu."
Sudah hampir sepuluh menit kedatangan namun Kamal dan Datu belum keluar dari kendaraa. Datu belum siap dengan napak tilas ini.
Felix memberi acungan jempolnya pada Kamal dan berbalik menjauhi mobil sesaat setelah melihat Datu yang memandang luar jendela.
Satu tangan Kamal masih Datu genggam sangat erat. Satu tangannya yang bebas meraih lembut wajah Datu agar mereka bertatapan. Datu sudah berurai airmata tanpa suara. Seketika itu juga tangisnya mulai keluar, segera bersembunyi dalam pelukan Kamal.
"Aku ga ingat... aku ga ingat lingkungan ini... yang aku ingat cuma Tuan Besar yang nggak mau liat aku, kakekku sendiri ga mau liat aku, aku ga ingat yang lain."
"Ga apa-apa, jadi kamu ga perlu repot-repot do'akan arwahnya. Aku ngajak kamu ke sini bukan cuma untuk mengingat sejarah hidup kamu yang nyebelin, tapi barangkali ada orang-orang yang wajib kita undang di pernikahan. Bukan cuma orang-orang yang kamu temui di masa depan, aku mau orang yang lebih dulu kenal sama kamu tahu kalau kamu bisa berbahagia dengan segala pencapaian manusia pada umumnya. Menikah, berkarir, punya keluarga. Apapun itu, cerita yang kamu ingat atau yang ga kamu ingat, aku akan terima. Aku terima kamu yang dulu, yang sekarang atau yang akan datang, Datu Mayura."
Datu melepaskan diri setelah tenang. Dia mengangguk kecil beberapa kali.
"Udah siap?"
Kamal mengecup keningnya setelah Datu menjawab dengan anggukan.
Mereka membuka pintu bersamaan. Felix menyambut.
"Mau ke makam Mbah Ndut atau ke makam keluarga dulu?" Tawar Felix.
"Om tau Mbah Ndut?"
"Itu rumahnya, sudah di renov sama anak Tuan Besar, Bibi anda. Dulunya gubug bambu."
"Tapi rumah Mbah Ndut bukannya di sekitar lingkungan rumah Tuan Besar?"
"Setiap pegawai yang loyal mengabdi pada keluarga anda, di berikan rumah oleh Kakek anda. Dulu, istilahnya Mbah Ndut tinggal di mes, nah, ini rumah yang di belikan Kakek anda untuk di tempati beliau dan keturunannya."
"Makamnya dimana?"
"Siapa? Tuan Besar?"
"Nggak. Mbah Ndut. Saya mau ziarah ke sana dulu. Ke makam keluarga belakangan saja."
"Tapi..." Felix sepertinya kurang setuju.
"Saya di rawat oleh Mbah Ndut, jadi saya mau ke beliau dulu."
Tipi-tipis dulu ya guys. Jaga kesehatan. Luf u.
Regards, Lia
KAMU SEDANG MEMBACA
HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
SonstigesUdah pernah ngerasain di turunin jabatan padahal pegawai andal? Pernah ngerasain di benci semua anggota keluarga? Pernah ngerasain tidak punya status sosial di mata masyarakat? Pernah ngerasain diludahin sama crush? Kalau belum, cobain deh. Rasanya...
