Aib

287 61 4
                                        

Bisa dibilang mimin nyari penyakit di chapter ini. Ga tau kenapa mimin agak susah nulis alurnya. Tapi semoga kalian menikmati. Syelamat membaca.

-
-
-
-

Ada suasana meriah yang sedikit tercipta di salah satu sudut kantor SiSiSen. Di aula, siang itu semua karyawan di minta berkumpul untuk jamuan makan siang. Latar belakangnya jelas, keberhasilan peluncuran produk baru mereka kemarin. Bahkan sebelum iklan di buat, berbagai kontrak dengan agen, retail, supermarket sudah di buat. Cuan sudah pasti mengalir deras. Para kacung korporat kebagian sedikit efeknya yakni dengan traktiran makan siang oleh kantor. Semi formal, dimana makanan sudah disiapkan oleh katering ternama. Bisa di pastikan hari ini warung di sekitaran kantor akan sepi.

Sudah banyak pegawai berdatangan. Kursi hampir terisi semua. Tidak terkecuali Susan dan kelompoknya. Mereka sudah di barisan khusus yang sudah Susan atur di sana.

Hanya sedikit salam pembuka dari Bu Dena sebelum akhirnya acara makan di mulai. Saat Bu Dena keluar ruangan, yang sudah menahan lapar menjadi liar mengubek-ubek prasmanan.

"Sesuatu deh nih acara, efeknya gue selamet di akhir bulan." Kata Salim setelah bokongnya mendarat di samping Lesni. Piringnya sudah pasti bertumpuk bak bukit. Kerupuk di bagian paling atas.

"Satenya enak, San?" Tanyanya pada Susan yang menggigit sate ke dua.

Susan mengangguk cepat sambil komentar singkat, "banget."

Semua kembali fokus dengan piring masing-masing.

"Udah pada nyate aja, nih."

Siro bergabung.

"Woilah, duduk Brodie!"

Salim menepuk kursi sebelahnya untuk Siro. Sesaat mereka melihat Siro sembari mengunyah segala isi piring. Bundski kemudian melirik sekitar sebelum mengeluarkan pertanyaan;

"Datu mana?" pada Siro.

Siro menelan dulu sebelum menjawab.

"Itu dia. Dia ga masuk hari ini. Katanya...." Siro berhenti untuk sebuah suapan, "katanya sakit."

"Apa?" Suara rendah Bundski terdengar kaget. "Sakit?"

Mata yang lain mulai fokus pada Bundski dan Siro. Siro yang di tatap dengan mata kaget itu hampir tersedak.

"Sebentar!" Salim mengambil ponsel, "sekarang tanggal.... ASTAGA!"

Mereka serentak menarik napas terkejut yang sangat kentara oleh orang sekitar.

"Matilah Adam sendiri!" Seru Lesni dan mereka serentak melepas piring di kursi yang masih terisi lengkap. Terbirit-birit berdiri dan gelisah. Siro sama sekali tidak mengerti.

"Pak Pri... mana Pak Pri?"

Salim, Lesni, dan Susan menuju Pak Priyono. Bundski mencari atasannya sendiri di titik lain. Setelah izin di dapat, mereka keluar aula tergopoh-gopoh. Siro tertinggal sendiri.

"Gue makan dulu ya, nanti nyusul!" Teriak Ati pada gerombolan rusuh itu, sebelum duduk di dekat Siro. Ati sendiri paham dengan tingkah teman-temannya.

Kamal mendekat. Duduk di kursi kosong dengan tenang.

"Kenapa? Ada apa? Kenapa mereka pergi kayak gitu?" Kamal melonggarkan dasi.

Siro menggeleng tanpa petunjuk dan serius dengan makanannya. Baginya tidak ada yang aneh. Datu juga manusia, sudah pasti punya timing untuk sakit. Kelelahan, mungkin.

"Oh," Ati memulai jawaban pencerah atas rasa penasaran, "tugas negara bulanan, ngurusin tamunya Datu."

"Tamunya Datu?" Jelas suara Kamal.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang