Akhir pekan, tanggal merah buatku tidak ada.
Orang kebanyakan terutama untuk kacung korporat, akhir pekan menjadi hal yang paling di tunggu. Di isi dengan rebahan seharian, me time, atau liburan keluarga. Bagiku, akhir pekan atau tanggal merah sama saja dengan hari-hari lain. Bedanya aku hanya tidak bekerja ke kantor, tapi tetap bekerja di rumah atau pergi melaksakan sight job lain yang terjadwal.
Hai calon mertua Datu Mayura yang ada di luar sana, andai kalian tahu betapa produktifnya calon menantu kalian ini.
Hah, mimpi kamu Datu!
Sabtu pagi ini sudah tersusun rencana di kepala. Hari ini ada pesanan bolu pisang kukus dari Nyonya Arman alias Mba Key, tetanggaku. Dia memiliki sebuah toko kue kecil di luar komplek. Tidak selalu setiap Sabtu, Mba Key memesan bolu buatanku kadang untuk penyegaran di tokonya agar pelanggan tidak melulu melihat wajik merah, nagasari, atau lemper.
Satu bulan bisa dua kali dan aku selalu menerima pesanannya dengan senang hati.
Mba Key rumahnya tepat di sebelah kontrakanku. Dia tidak menetap setiap hari di sana. Tinggal di rumah suaminya tentu saja, sesekali Mba Key dan Pak Arman datang ke rumahnya ini dan menginap. Selebihnya, rumah itu kosong namun tetap di rawat seorang pekerja.
Aku pernah bertanya kenapa tidak di sewakan, jawabannya tidak boleh sama suami. Belakangan aku tahu suami Mba Key orang terpandang dan mereka bukan orang yang kekurangan duit dengan mengontrakkan rumah kosong sebagai penghasilan tambahan. Rumah itu memiliki arti sendiri untuk Pak Arman dan toko kue hanya pengisi hari-hari untuk Mba Kenya.
Hari ke dua kepindahanku ke sini, kebetulan mereka datang menginap. Saat itu juga aku mengirim bolu pisang sebagai perkenalan.
Tinggal di lingkungan yang ramah pedagang adalah salah satu kenikmatan hakiki. Jarak lima rumah dari kontrakanku ada toserba sederhana ala rumahan. Jadi si pemilik rumah menyulap setengah dari bagian rumah untuk di jadikan toko serba ada. Aku bilang serba ada karena di sana memang menjual segala kebutuhan manusia sehari-hari, mulai dari beras, lauk pauk macam; tahu, tempe, ikan laut, ikan tawar, sayur, ada. Kebutuhan lain, sabun, sikat gigi, sikat cuci, lotion badan, sabun muka, tersedia. Segala macam bahan rempah, komplit. Macam-macam ciki-cikian, coklat, kripik, pasti dong. Obat warung dan segala printilan kecil seperti celengan, sapu lidi, sapu ijuk juga terwujud di sana.
Surga banget untuk yang malas ke pasar.
Manalagi kalau ada sayur atau lauk yang tidak laku, akan di sulap oleh Ibu warung menjadi makanan jadi ala warteg. Sudah cocok, kan, di sebut toserba?
Itu masalah toserba, ada lagi yang lebih nikmat di lingkungan kontrakanku ini. Adalah keberadaan pedagang jajanan tradisional. Jaraknya lebih jauh dari toserba, tapi worth it untuk menu sarapan kalau malas makan nasi. Serabinya enak banget dan dari awal tinggal di sini, serabi adalah favoritku.
Sebelum bertempur dengan bahan bolu pisang, pagi ini aku sudah bertekad mendapat sepiring serabi untuk sarapan.
Kadang yang kuno itu jadi rebutan. Contoh saja serabi ini, belinya harus antri. Apalagi di hari libur.
Kejutan tidak disangka terjadi saat aku keluar rumah. Mba Key sedang berdiri di halaman kecilnya. Kemajuan pesat saat satahun lalu dia masih harus di bantu kruk kiri-kanan. Sekarang cukup satu tongkat sebagai penopang. Hasil terapi luar negrinya berhasil. Mba Key bebas dari lumpuh.
"Datu, mau beli serabi juga?"
Ternyata kami sehati.
"Iya, Mba. Nginep ya?"
"He'eh. Mas aku perginya sama Datu aja, ya, kamu jangan ikut!" Mba Key setengah teriak.
Ada Pak Arman. Beliau keluar setelah mendengar suara istrinya.
"Kok gitu?" Beliau protes.
"Aku masak nasi, nanti di liatin, terus keringin cucian sekalian jemur, yah! Aku beli serabinya sama Datu aja."
Aku bengong mendengar perintah Mba Kenya. Apa? Apa baru saja aku mendengar seorang pemilik sebuah mall ditundukkan oleh perintah istri?
"Yuk, Datu!" Dia menarik tanganku.
"Hati-hati!" Pesan Pak Arman.
"Iya."
Aku melihat Pak Arman yang tampak nelangsa.
"Jangan khawatir, Pak, Mba Key aman sama saya."
Kami berlalu meninggalkan Pak Arman yang masih saja mengawasi dari halaman.
Sebenarnya bisa saja Mba Key mengikutsertakan Pak Arman dalam perjalanan ini. Nasi di masak dengan magic com, cucian tentu juga di mesin. Mungkin Mba Key punya alasan sendiri dan entahlah, aku tidak mau tahu masalah privasi itu.
"Udah lama banget kayaknya Mba ga pernah jalan atau kumpul sama teman perempuan. Sama Mas Arman terus, dia lagi dia lagi."
Aku tersenyum mendengar ungkapan Nyonya Arman ini.
"Bikin acara temu kangen aja, Mba." Aku sok-sokan ngusul.
"Itu dia. Teman-teman Mba sudah punya kesibukan sendiri-sendiri. Waktu menjadi sesuatu yang sulit di cari. Mba juga belum sembuh betul."
Sesuai janjiku pada Pak Arman, fokusku lebih banyak tercurah pada Mba Key selama kami di jalan. Sekalipun Mba Key sudah percaya diri berjalan hanya dengan tongkat, aku tetap memastikan keselamatannya entah dari batu kerikil, lubang jalanan, atau kendaraan yang melewati kami.
Hingga kami kembali, fokusku pada Mba Key bunyar sebuyar-buyarna oleh keberadaan dia. Kenapa dia di sini sepagi ini?
"Jadi gimana, Datu?"
"Eh." Aku merasakan tangan Mba Key di bahu dan perhatianku padanya kembali. "Tadi... oh... bisa, bisa kok Mba. Jam sebelasan lah, sebelum Dzuhur, kan?"
Mba Key tersenyum, aku masih kaget. Kami semakin mendekati Pak Arman dan Kamal. Mereka tampak akrab seperti sudah kenal lama. Besar kemungkinan dia tidak mencariku. Itu dugaan otakku yang tidak terlalu pintar.
"Tamunya kok ga di ajak masuk?" Sapa Mba Key pada mereka.
"Bukan tamu kita, Sayang, ini tamunya Datu."
KAMU SEDANG MEMBACA
HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)
RandomUdah pernah ngerasain di turunin jabatan padahal pegawai andal? Pernah ngerasain di benci semua anggota keluarga? Pernah ngerasain tidak punya status sosial di mata masyarakat? Pernah ngerasain diludahin sama crush? Kalau belum, cobain deh. Rasanya...
