Pilihan

723 68 2
                                        

"Kamu yakin ga mau lanjut?"

Karier. Anggap saja aku memiliki sebutan itu sekarang. Meski hanya sebatas pegawai pemasaran, kasta paling bawah dari susunan jabatan dunia kerja, lebih atas sedikit dari OB. Dan aku yang hanya seorang lulusan sebuah Balai Latihan Kerja (BLK), merasa cukup tinggi akan posisi yang kuraih sekarang.

Aku menatap lurus pada hamparan hutan beton di hadapan. Suara seruputan Bundski pada minuman sodanya kudengar, seolah sebuah aba-aba bahwa aku harus segera menjawab pertanyaannya.

"Yakin." Kataku tanpa nada ragu barang setitik.

"Fuck you, bitch." Serapah Bundski. Aku tertawa. "Apa kabar gue tiga bulan lagi?" Katanya, kemudian menenggak habis minuman penuh gula itu.

"Tapi bagus deh," lanjut Bundski, "seenggaknya elo ga ketinggalan pertunjukan empat bulan ke depan."

Aku mengangguk cepat sambil menahan tawa karena imajinasi di kepala berkat perkataan sobatku. Iya, pertunjukannya akan segera di mulai.

"Sudah ketahuan, sih, mana yang bakal nyari muka, tukang jilat, tukang kompor, tukang semir sepatu." Kataku membalasnya.

Bundski tertawa pelan-pelan, tertahan ke keras, kemudian terbahak-bahak hingga mulutnya terbuka penuh. Aku ketularan.

Reka adegan empat bulan ke depan berputar sama persis di kepala kami. Di tempat kerja di penjuru manapun di muka bumi ini pasti akan ada orang-orang seperti itu.

Dulu aku tidak percaya ada orang yang menjatuhkan sesama rekan kerja, bahkan yang paling akrab sekali pun, ternyata bisa saling tusuk tanpa ragu. Dan tentu saja, karena aku pernah melihat sendiri bahkan mengalami juga dijatuhkan oleh seorang pedagang rinso yang nyasar masuk kantor.

Aku dan Bundski mengistilahkan pedagang Rinso, yang notabene merek sebuah sabun cuci untuk orang yang suka banyak bicara, memfitnah hingga najis terakhir, dan mencari-cari perhatian dengan cara menjijikkan.

Mulut mereka akan bicara hingga berbuasa seperti busa sabun itu, tapi busanya bukan membersihkan, malah membuat noda yang semakin banyak.

Aku dan Bundski tentu sudah memiliki daftar tersangkanya. Makadari itu kami bisa mengira-ngira akan seperti apa kantor ini setelah pimpinan barunya datang.

"Uang memang enak." Katanya. Aku mengangguk.

"Uang memang enak." Ulangku. "Bakal masalah ga kalau kita ga hadir di acara perkenalan tadi siang?"

"Bodo amat, sih. Kalau itu bikin kita dalam masalah dan di pecat, gue masih punya lo. Gue bakal bergantung sama sohib gue yang jenius ini." Bundski menepuk keras punggungku.

"Gue bakal ngandelin lo di enam bulan pertama setelah gue di pecat dan jadi parasit dalam hidup lo seterusnya kalau gue ga dapat kerjaan lain."

Aku tersenyum mengiyakan, "ga masalah."

Kami kembali menikmati minuman, menikmati sore jelang malam dari atas atap kantor. Tempat pelarian kami jika enggan menghadiri pertemuan yang tidak perlu seperti perkenalan pimpinan baru tadi siang.

Siapa pun pimpinannya kami pasti akan begini-begini saja. Aku cinta bekerja, bukan bukan tempat kerja atau isi kantornya. Aku menikmati beban kerjaku dan berusaha menyelesaikannya tepat waktu. Setelah naik jabatan menjadi marketing kantor dari seorang marketing lapangan, rekorku hanya dua kali lembur.

"Gue denger yang baru ini perempuan. Gue pastiin dia bakal rugi kalau mecat kita," kata Bundski sambil mengajakku bersulang. Ini kalengnya yang ke dua.

Jam kantor selesai sejam lalu dan kami menghabiskan sore ini di rooftop. Laila, putri satu-satunya Bundski sedang menghabiskan waktu dengan ayahnya. Jadi tidak ada yang mengharuskan Bundski pulang tango.

"Main sekarang?" Tanya Bundski dengan mata mengkilat, alisnya bergerak naik turun genit.

"Cool." Jawabku setuju.

Bundski mengambil ponsel dan mengeluarkan sebuah mic karaoke portable berwarna emas dari tas. Dia menyambungkan dua barang itu dengan bluetooth. Memutar lagu Mendung Tanpo Udon dengan volume penuh.

***

Lungo awakku sing kudu lungo
Timbang batinku keloro-loro
Ra bakal awakku iki
Bali nemoni sliramu...
Lilo awakku iki wes lilo

"Itu suara siapa, Pak?" Tanya Kamal pada dua orang petugas keamanan yang duduk berjaga.

Petugas itu berdiri cepat dan menggangguk sopan. Seorang dari mereka yang lebih berumur bersuara,

"Anu, Pak..."

Senajan loro neng jero dodo
Yen pancene uwis nasibku
Kudu pisahan karo awakmu

***

Lima belas menit setelah lagu Cidro 2 selesai kami nyanyikan, aku dan Bundski memutuskan pulang. Kantor sudah sepi dan kami berpamitan pada dua orang penjaga malam. Pak Ram yang sudah sepuh dan Saopi, keamanan baru yang sedang di training Pak Ram.

Aroma wangi daun pandan kering menyerang penciumanku begitu daun pintu kubuka. Masih wangi saja meski kutaruh seminggu lalu di atas meja kecil sebelah pintu.

Daripada pewangi ruangan buatan pabrik yang banyak di jual di pasar, aku memilih wewangian dari bahan alami. Jika mawarku berbunga, aku memakai mawar. Kadang kenanga, sedap malam, atau bunga lain yang aku beli di pasar. Paling sering daun pandang cincang karena tumbuh banyak di pojok halaman.

Begitu tanganku bersih setelah di sabun, kakiku melangkah ke depan cermin besar yang bersender di dinding. Tanpa kursi aku bersila, karena memang tidak ada meja rias di kamarku.

Sebelumnya aku melihat bayangan sendiri. Beberapa kali menarik napas aku memaksa senyum agar mata ibaku terhapus.

"Gak apa-apa, hari ini kamu hebat Datu." Kataku menguatkan diri.

Kemudian aku memulai ritual, membuka softlens dan bersiap membersihkan wajah. Sambil menyatukan rambut dalam satu ikatan aku menyorot gadis itu.

Samudra biru, laut lepas di kananku. Guru pasir, padang gersang di kiriku. Aneh sekali kolaborasi ini.

HETEROCHROMIA (Koplonya Hidup)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang