"Gue udah bilang, gue gak mau jadi pacar lo Galak!!" Pekik Gisha menolak tegas.
"Gue gak peduli. Intinya, lo pacar gue! Dan lagi, Siapa yang lo maksud Galak?" Tanya El tak mengerti.
"Elo lah! Nama lo kan Galaksa!"
El sontak berdecih kesal. "Anj-"
"A...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-Happy Reading- 🌻🌻🌻
Hembusan nafas kasar terdengar dari mulut El. Matanya terpejam, menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Kedua tangannya bertumpu pada pagar pembatas di balkon kamarnya. Kedua matanya kembali terbuka, menatap pemandangan halaman depan rumahnya.
Meski suasana begitu nyaman dan menenangkan, namun hatinya jauh berbeda. Rasa gusar, gelisah dan kesal.
Selepas pertengkarannya tadi dengan gadis yang amat ia sayangi itu, El memutuskan untuk pulang. Jika pertengkaran itu terus berlanjut, El takut membentak Gisha seperti tempo hari. Emosinya tidaklah selalu stabil, apalagi kalau sudah menyangkut dengan Gisha.
El tau, baik dirinya maupun Gisha, sama-sama memiliki sifat cemburuan dan keras kepala. Rasanya, hubungan mereka yang masih bertahan sampai sekarang terasa sangat mengagumkan.
Mengingat sifat keduanya yang bisa dibilang, mungkin susah untuk dipersatukan. Namun, dibalik sifat cemburuan dan keras kepala mereka, keduanya tak memiliki rasa gengsi yang berlebih.
Sebenarnya El senang karena Gisha cemburu, tapi rasa cemburu El lebih besar. Melihat Gisha pulang dengan Rian meski Gisha sudah menjelaskan maksud dan tujuan mereka pergi bersama, El tetap tidak suka.
Ingin rasanya El kembali menambah luka ditubuh Rian. Tapi ia urungkan karena satu masalah saja belum selesai. Jujur saja, El paling menghindari adanya permasalahan dalam hubungannya bersama Gisha.
Jika adapun, sebisa mungkin El akan menyelesaikan nya dengan cepat. Dan tak akan ingin menambah masalah lain. Maka dari itu, ia tidak menghajar Rian tadi. Bisa semakin ribet masalahnya jika mereka kembali baku hantam.
"Gara-gara tuh cewek sialan." Umpat El.
Masih teringat jelas dipikiran El saat Hani tiba-tiba datang dan ikut duduk di meja mereka tadi pagi. Entah siapa yang mengundang atau memang benar ucapan Hani jika gadis itu kebetulan kesini.
El benar-benar sudah berniat untuk mengusir Hani, tapi Gervan malah melarang dengan alasan jika cafe sudah penuh dan tak ada meja yang tersisa. Meski memang ucapan Gervan benar, El tetap saja kesal akan keberadaan Hani.
"El, udah malem! Masuk kamar, nanti kamu masuk angin." Terdengar suara Syerina yang menyuruhnya masuk didalam kamar.
El berbalik, kemudian mengangguk. "Iya Bun."
-o0o-
Keseharian sekolah kembali menyapa. Seperti hari-hari sebelumnya, El menjemput Gisha seperti biasanya.
Namun, ada yang berbeda kali ini. Keduanya sama sekali belum bertegur sapa ataupun mengobrol. Masih sama-sama bungkam dengan raut datar mereka.