Happy Reading
🌻🌻🌻
.
.
.
Malam ini, tepatnya pukul 9 malam. El sudah nangkring di depan Alfamart menunggu teman-temannya yang katanya akan menyusul nya.
Niatnya, mereka ingin berkumpul di rumah Gervan. Dijadwalkan akan berangkat pukul setengah 9, tapi yang namanya teman-teman El, mana pernah tepat waktu. Mereka selalu punya banyak alasan atas keterlambatannya.
El berdecak. Ini sudah kaleng ketiga minuman cola yang ia minum, dan teman-temannya belum sama sekali menunjukkan batang hidungnya.
Demi apapun, El akan dengan senang hati menjitak ketiga temannya jika mereka datang.
Dering ponsel nya membuat El melirik sinis. Tak berlama-lama, jarinya bergerak menerima panggilan tersebut.
"Hm."
"Niat ke rumah gue kagak sih?"
"Biasa."
Terdengar suara decakan Gervan di seberang sana.
"Punya temen gak ada yang bener! Buruin lah El!"
"Hm."
Tut.
Dengan santainya El mematikan sambungan tersebut. Sudah dipastikan, jika Gervan tengah menggerutu kesal karena ulahnya.
El mengalihkan pandangannya kala mendengar suara deru mesin motor. Dilihat tiga motor yang menghampirinya.
Satu persatu pengendara motor itu membuka helm full face yang mereka kenakan, menampilkan senyum cengiran seolah tak memiliki dosa ataupun kesalahan apapun.
"Telat lima menit El." Neron menatap El jahil.
El mengalihkan pandangannya. Cowok itu bangkit berjalan menuju motornya. Sebelum benar-benar melakukan motornya, El melirik sekilas ketiga temannya yang juga tengah menatapnya.
"Anjing!" Umpatnya. Setelahnya cowok itu melesat dengan motor sport hitam miliknya.
Tentu ketiga temannya itu langsung buru-buru menghidupkan kembali mesin motornya dan segera menyusul sang ketua.
Sekitar 15 menit, mereka sudah sampai di rumah megah milik Gervan.
"Lain kali, mending kita janjiannya jam 5 sore dah. Percuma kalo janjian jam setengah sembilan, tapi datangnya hampir jam setengah sepuluh!" Gerutu Gervan saat melihat teman-temannya sudah duduk di sofa ruang tamu.
Sama seperti tadi, Delon, Neron dan Alwin malah menunjukkan cengiran mereka.
"Macet Ger." Ujar Delon seraya tersenyum.
Gervan menatap sinis cowok itu. "Lo kira gue gak tau kebiasaan lo pada? Coba bilang, habis mampir ke tukang apa dulu lo pada?"
Gervan sudah benar-benar mengetahui bagaimana Delon, Neron dan Alwin. Ketiga cowok itu tidak pernah bisa tepat waktu.
Alwin meringis kecil. Tangannya menggaruk keningnya yang mendadak terasa gatal. "Tukang bakso." Jawabnya kelewat santai.
Mendengar jawaban Alwin, Gervan semakin menatap tajam pada ketiga cowok itu.
"Najisun banget punya temen kek lo pada! Ngaret nya minta ampun. Mending kalo alasannya masuk akal, ini mah kagak ada yang bener. Lo pada enak makan bakso, lah gue malah nungguin lo meskipun perut gue laper. Mau makan, tapi kata nyokap tungguin lo pada aja, biar makan bareng. Eh taunya, para anjingku malah enak-enakan makan bakso." Gerutu Gervan panjang lebar.
Lagipun, siapa yang tak kesal jika berada di posisi Gervan? Ia menahan lapar sejak tadi, karena mama nya melarangnya untuk makan lebih dulu. Katanya tidak sopan dan harus menunggu teman-temannya datang untuk makan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALAKSA [End/Terbit]
Teenfikce"Gue udah bilang, gue gak mau jadi pacar lo Galak!!" Pekik Gisha menolak tegas. "Gue gak peduli. Intinya, lo pacar gue! Dan lagi, Siapa yang lo maksud Galak?" Tanya El tak mengerti. "Elo lah! Nama lo kan Galaksa!" El sontak berdecih kesal. "Anj-" "A...
![GALAKSA [End/Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/285861214-64-k140021.jpg)