#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Geisha mendengus, sudah berkali-kali ia ingin memejamkan mata namun tidak bisa. Beberapa kali juga ia telah mencari posisi tidur yang nyaman, tetapi sama saja. Matanya sulit terpejam.
Perlahan, wanita itu bangkit dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjang. Matanya mengedar, melirik ke arah pintu. Kemudian menoleh lagi pada jam dinding yang bertengger manis di kamarnya.
Pukul satu dini hari.
Tetapi dirinya tidak bisa terlelap.
Geisha menghela napas pelan, lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Saat hendak kembali memejamkan mata, wanita itu mendengar suara decitan pintu yang dibuka lebar.
Geisha yakin pelakunya adalah Altezza. Karena sejak tadi sore pria itu belum juga menampakkan diri.
Geisha beranjak dari tempat tidur, kemudian berlari kecil menuju pintu utama. Berniat untuk menghampiri laki-laki tersebut.
"Baru pulang? Kok lam—Astaga!" Mata Geisha membulat kaget saat melihat luka lebam di seluruh wajah Altezza.
"Lo?" Tangan wanita itu terulur memegang pipi kiri Altezza yang terlihat memar.
"Ssshh ..." Altezza meringis saat lukanya di tekan oleh Geisha.
"Kok bisa kayak gini?" tanya wanita hamil itu penasaran.
Matanya masih menelisik ke setiap sudut wajah Altezza yang memiliki beberapa luka lebam kebiru-biruan. Luka-luka tersebut berhasil membuatnya bergidik ngeri.
"Kenapa belum tidur?" Altezza tidak mengindahkan pertanyaan Geisha barusan, yang ada ia malah melontarkan pertanyaan balik. Pria itu baru menyadari bahwa Geisha masih terjaga hingga kini.
"Nggak bisa tidur," jawab Geisha seadanya, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari wajah pria tersebut.
"Kenapa nggak bisa tidur?" Kening Altezza mengerut heran, tak biasanya Geisha masih terjaga sampai selarut ini.
"Nggak tahu," sahut Geisha tak acuh sembari mengangkat kedua bahunya. Ia masih betah memandangi luka-luka tersebut, rautnya penasaran tapi juga ada sedikit kengerian di sana.
Tak lama perempuan itu berdecak kesal dan mencubit lengan Altezza kuat. "Jawab dulu yang tadi, kenapa bisa kayak gini sih?!" tanyanya marah.
"Lo tahu itu," jawab Altezza singkat.
Geisha menatap Altezza polos. "Emang berantem, harus sampai segitunya ya?"
"Hm," balas pria itu cuek, lalu melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Geisha yang masih berdiri di ambang pintu dengan wajah bingungnya.
"Tungguin, ish!" Geisha mencebikkan bibirnya, lalu berlari mengejar Altezza yang sudah berjalan mendahuluinya ke dalam.
Altezza membalikkan badan, matanya menatap tajam ke arah wanita itu. "Jangan lari-lari!"