#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧♧♧
"BRENGSEK!"
Faldo menghajar wajah Altezza hingga membuat sudut bibir cowok itu mengeluarkan cairan kental berwarna merah.
Ia tidak peduli dengan teriakan Geisha yang mencoba untuk menghentikannya. Faldo menarik kedua kerah jaket yang dipakai Altezza, kemudian kembali menghajarnya habis-habisan.
Bugh!
Bugh!
"Papa—please ... udah ..." Geisha terisak, ia mencoba untuk menggapai tangan sang Papa agar berhenti memukuli Altezza.
Tapi tidak bisa, tangannya berkali-kali di tepis.
Faldo malah semakin gencar dan membabi buta menghajar lelaki itu. Sepertinya ia juga sudah kehilangan akal sehatnya, sehingga Faldo berniat untuk menghabisi Altezza saat ini juga.
"BERANI-BERANINYA KAMU HAMILIN ANAK SAYA, HAH!!" Urat lehernya tergambar jelas. Faldo terus menjadikan Altezza sebagai samsak pelampiasan emosinya.
Altezza terbatuk, tubuhnya sudah sangat lemas. Cowok itu bahkan terbaring lemah di atas lantai dengan darah yang terus mengalir di bagian wajah dan juga pelipisnya.
Sejak tadi, ia tidak membalas pukulan-pukulan keras dari faldo. Altezza memang pantas mendapatkan ini. Bahkan, ini tak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan terhadap Geisha. Orang tua mana yang tega, melihat anaknya yang sudah ia rawat dan di jaganya itu, di rusak begitu saja oleh seorang laki-laki brengsek seperti dirinya ini.
Faldo kembali ingin menghajar Altezza, namun Geisha dengan cepat segera mencegahnya. "Papa, udah!" Suara Geisha naik satu oktaf. Ia menahan kuat lengan Faldo.
Faldo segera menepis tangan Geisha kasar, kemudian masuk ke dalam rumahnya begitu saja tanpa sepatah kata pun. Meninggalkan Altezza dan Geisha berdua di luar dengan perasaan yang masih kalut.
Altezza berdesis, ia mencoba untuk bangkit. Punggung tangan laki-laki itu terangkat untuk mengusap cairan darah kental yang masih mengalir di sudut bibirnya.
"Al, maaf ..." cicit Geisha, ia membantu Altezza agar berdiri. Perempuan itu masih saja menangis.
Altezza terkekeh. "Lo ngapain minta maaf? disini yang salah gue," ujarnya.
Geisha menunduk, lalu mengusap air matanya. "Tapi kan lo kayak gini, gara-gara Papa gue," lirihnya pelan.
"Nggak sebanding sama apa yang lo rasain," balas Altezza santai.
Cowok itu memperhatikan wajah Geisha yang terlihat sangat kacau. Pipi putih cewek itu terlihat kemerahan dan kantung matanya yang tercetak jelas. Altezza yakin, perempuan itu pasti menangis seharian.
Geisha mendongak, ia menatap wajah Altezza yang penuh dengan darah dan luka lebam. "Sakit nggak, Al?" tanyanya polos, masih dengan sisa-sisa sesegukannya.