#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo ngos-ngosan banget, udah kayak habis di kejar harimau aja."
Dirga memperhatikan Rayan yang tengah menetralkan deru napasnya. Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke bawah dengan kedua tangan yang bertumpu pada siku.
Pagi ini mereka sedang berada di markas besar WareWolf milik Geirald. Daffa, Dion dan juga Rayan baru saja selesai berkeliling mengitari kompleks.
Sementara Dirga hanya duduk bersantai menikmati suasana di depan pelataran markas.
"Gue habis jogging, sialan!" maki Rayan kesal.
Dirga mengeryit. "Jogging apaan cuma lima menit? Baru juga muter sebentar, udah balik lagi aja," gumamnya heran.
"Tahu, tuh. Kayak gue dong, udah dua puluh menit nih," celetuk Dion menyombongkan diri.
Daffa berdecih di sebelahnya. "Iya, dua puluh menit. Semenit lari, sembilan belas menitnya nangkring di warung bubur ayam Pak Dadang."
"Lo jujur banget, Daff," cengir Dion lebar.
Kemudian cowok itu menoleh saat merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.
"Eh, Rald! Mau ke mana lo? Udah rapi aja pagi-pagi gini," heran Dion.
Netranya meneliti penampilan Geirald dari atas sampai bawah. Tumben sekali pagi-pagi, pikirnya.
Yang di tanya hanya terkekeh sembari memakai sarung tangan. "Mau ke mana lagi kalo nggak pacaran? Weekend, Yon. Rugi kalo nggak gue gunain buat ketemu Elyn," serunya jenaka.
"Gaya lo udah kayak seagama aja, Rald," cibir Rayan ngena.
Seketika raut wajah Geirald berubah menjadi masam, ia melirik tajam ke arah laki-laki itu.
"Pedih sekali ucapan beliau ini," dramatis Dion sembari memegangi dadanya sendiri.
"Jangan gitu, Ray. Biasanya yang beda agama gini langgeng sampai maut memisahkan," celetuk Dirga ngasal.
Sedangkan mereka semua langsung refleks melontarkan tawanya. Terutama juga Geirald, ia tak merasa tersinggung sama sekali. Malah dirinya sangat merasa terhibur dengan guyonan pagi ini.
"Ya udah kalo gitu, gue pergi dulu. Titip markas sama yang lain ya? Gue pulang agak siangan," beritahu Geirald.
"Dan tentang problem kalian, untuk saat ini jangan kasih tahu Altezza dulu. Biar gue sama Rafael dan Daniel aja yang beresin," peringatnya lagi.