[51] BROWNIES GOSONG

140K 10.6K 1K
                                        

♧♧♧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

♧♧♧

Daffa mengulas senyumnya menjadi tipis, tatapannya menyendu ke arah gundukan tanah dengan taburan bunga segar di atasnya yang masih terlihat sangat baru.

Setelah kejadian beberapa waktu lalu, Reynald langsung dilarikan ke rumah sakit bersama Daffa.

Namun naasnya saat sudah sampai di sana, nyawanya sudah tidak dapat tertolong lagi dan harus segera di makamkan pada hari itu juga.

Mau tidak mau dan dengan keterpaksaan yang amat sangat, Daffa harus merelakan adik tirinya itu untuk segera dikebumikan pada saat itu juga. Kini masih terhitung dua hari setelah Reynald pergi meninggalkannya.

Lagi dan lagi Daffa hanya bisa tersenyum tipis untuk menutupi rasa sesak di dada yang sedari tadi sudah hinggap dan bersarang di dalam sana. Menghimpit paru-parunya, sehingga membuat napas Daffa terasa tercekat saat ini.

Tak berselang lama, senyuman hangat pun terbit di bibir cowok itu. "Gue janji bakal jagain Mama lo, Rey," ujarnya tulus.

Tangannya kini perlahan mulai terangkat, untuk mengelus nisan itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Daffa terkekeh singkat, lalu menjauhkan tangannya dari nisan tersebut. "Maaf, selama ini gue nggak pernah mau nerima lo sebagai adik," ungkapnya dengan suara serak yang sedikit memelan.

"Maaf juga, karena selalu menyalahkan kehadiran lo dan juga Mama," sesalnya.

Cowok itu memejamkan matanya sebentar, lalu menghela napasnya berat. "Dan maaf ..., karena gue nggak pernah bisa jagain lo," tuturnya merasa bersalah karena telah gagal menjadi seorang kakak dan menempatkan peran tersebut.

"Maafin Papa gue juga, ya, Rey?" gumamnya pelan.

Daffa menatap nisan itu penuh dengan keteduhan. "Makasih," cicitnya.

"Makasih karena lo udah selalu ngertiin keadaan gue dan selalu peduli sama gue," ucapnya, melanjutkan perkataannya tadi.

Cowok itu kembali tersenyum saat mengingat kata-kata terakhir dari Reynald saat itu. "Gue juga sayang sama lo, Rey," lirihnya.

"Walaupun kenyataannya, gue nggak pernah peduli dan selalu acuh sama lo," lanjutnya lagi dengan sedikit tertunduk.

Sekali lagi ia merasa bersalah dengan sikapnya yang selalu cuek terhadap adik tirinya itu. Sampai-sampai ia tidak tahu, bagaimana kehidupan pahit yang telah Reynald jalani bersama Mamanya.

Daffa kembali mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Gue pergi dulu," pamitnya. "Besok gue ke sini lagi."

"Lo tenang aja, gue bakal sering-sering mampir ke sini kok," tambah cowok itu serius.

"Di samping makam lo, ada makam Mama gue juga," beri tahu Daffa sedikit terkekeh, lalu matanya melirik ke arah makam Mamanya sekilas-yang letaknya tepat di samping kanan makam Reynald.

ALTEZZA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang