#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Papa?" Mata Daffa membola kaget, namun belum sempat mencerna kejadian ini, beberapa orang bersetelan jas pun datang dari berbagai arah.
Mereka semua langsung menghajar Daffa tanpa banyak kata. Perkelahian sengit pun kembali di mulai.
Awalnya tidak susah bagi Daffa untuk melumpuhkan dan melawan semua lawan, tetapi lama-kelamaan para suruhan Papanya itu semakin bertambah banyak. Hal itu cukup membuatnya menjadi kewalahan.
Sementara di sisi lain, Arkatama—Papa Daffa, hanya menonton perkelahian tersebut dengan wajah tenang. Pria tua itu berjalan mendekati sebuah kursi di sudut ruangan, lalu mulai mendudukkan tubuhnya di sana.
Selama ini memang ialah orang yang telah membuat kekacauan di mana-mana, terutama pada keluarga Bramantha dan Atmadja.
Persaingan bisnis membuatnya menjadi gila seperti ini. Ia tidak suka bila ada orang lain yang menyaingi popularitas perusahaannya sendiri.
Selama ini para kolega bisnis yang seharusnya bekerja sama dengan perusahaannya kini menjauh dan lebih tertarik untuk memilih bekerja sama dengan perusahaan keluarga Bramantha dan Atmadja.
Apalagi sekarang bertambah adanya perusahaan Aditama yang kembali menyainginya dunia perbisnisan. Tentu saja ia tidak akan tinggal diam.
Sampai suatu ketika, rencana liciknya berjalan lancar untuk membalaskan dendamnya pada anak-anak mereka dan mengancam para nyawa setiap keturunan Bramantha dan Atmadja.
Sebelum menghancurkan anak-anak dari kedua keluarga bermarga itu, Arkatama juga sudah lebih dulu membunuh kedua orangtua Daniel dan juga Geisha dengan cara menyabotase mobil yang mereka kendarai saat beberapa tahun lalu.
Pria tamak itu tidak pernah mau membiarkan para keturunan Bramantha dan Atmadja bahagia tanpa adanya suatu masalah sedikit pun di kehidupan mereka.
Arkatama duduk di kursinya sambil tersenyum miring ke arah Daffa yang tengah kesusahan melawan para suruhannya. Pria itu kemudian terkekeh, lalu mengambil sebuah pistol dari sakunya.
Laki-laki itu melirik ke arah putra tunggalnya sekilas, lalu mulai menyejajarkan pistol itu tepat pada kepala Daffa. “Berakhirlah seperti mereka,” bisiknya.
DOR!!!
Suara nyaring dari pistol revolver itu menggema di dalam ruangan, membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan dengungan di telinganya.
Begitu pun juga dengan Daffa, telinga cowok itu berdengung saat mendengar suara nyaring dari pistol tadi.
Daffa sedikit terpental ke belakang dan tersungkur di lantai. Cowok itu sampai merasakan pusing pada kepalanya hingga pandangannya sedikit memburam.