#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧♧♧
"BANGSAT!"
Altezza melayangkan pukulan keras pada rahang bawah sang lawan, hingga membuat tubuh cowok itu sedikit mundur akibat ulahnya.
Daniel terkekeh, dirinya memandang remeh ke arah Altezza. Seolah pukulan tadi memang tidak ada apa-apanya.
Melihat itu, Altezza kembali mendorong tubuh Daniel sampai membentur dinding di belakang. Kilatan amarahnya terlihat jelas sekarang.
"Sialan!"
Bel pulang telah berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu, tetapi kini keduanya masih berada di area sekolah. Lebih tepatnya di taman belakang, tentunya tanpa sepengetahuan siapa pun.
"Gue bisa aja sebar foto-foto itu dan buat satu sekolah tahu sama semua kelakuan bejat lo." Daniel menyunggingkan senyum miringnya. Ia tak peduli jika dirinya kembali di hajar habis-habisan oleh Altezza.
Yang terpenting ia harus segera menyelesaikan semua misi dan rencananya. Itu saja. Selebihnya ia tak peduli, walaupun itu menyangkut dengan dirinya sendiri.
Daniel menatap Altezza puas. Bisa di lihatnya Altezza yang tengah menggeram tertahan akibat ucapannya barusan.
Altezza maju beberapa langkah mendekati laki-laki itu. Bibirnya tersenyum tipis, menyeringai. "Really? Ah, i don't give a fuck!" Tangan kanannya kembali terayun untuk menghajar tubuh Daniel lagi.
Bugh!
Bugh!
Kali ini dua pukulan di bagian perut cowok itu, sehingga membuat Daniel sedikit memuntahkan cairan merah dari dalam mulutnya.
Daniel tersenyum tipis, dirinya sama sekali tidak membalas pukulan-pukulan tersebut. Ia bahkan membiarkan tubuhnya bebas di pukuli begitu saja oleh Altezza seperti samsak.
Altezza yang kalut juga tidak peduli dengan lawannya yang hampir tewas. Ia terus menghajarnnya dengan membabi buta. Seolah sedang menyalurkan semua emosinya kepada cowok itu.
Saat di rasa cukup, Altezza baru menghentikan aksinya. Ia mencengkram erat kerah seragam Daniel yang sudah berlumuran darah, lalu menghempaskannya secara kasar.
Altezza berdecih, menatap nyalang ke arah Daniel yang kini terbaring lemah di atas tanah. Ia sedikit membersihkan seragamnya yang kotor, kemudian berlalu begitu saja.
"Argh! Ssstt ..." Daniel berdesis pelan, cowok itu mengusap kasar darah yang mengalir di pelipisnya.
Ia menatap punggung Altezza yang perlahan mulai menghilang dari pandangan.
Cowok itu terkekeh, lalu mencoba untuk berdiri. "Sorry, Za. Gue terpaksa," ucapnya lirih.
Karena tak mau berlama-lama lagi, Daniel segera pergi meninggalkan tempat tersebut dan berjalan menuju parkiran dengan langkah tertatih.