#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧♧♧
"Fight me, if you want to be saved."
Altezza menggeram rendah saat melihat logo SMA Wiramandala di dada kiri perempuan itu.
“BENAR-BENAR PENGECUT LO YA!” teriak Dirga emosi, kedua tangannya sudah terkepal erat—menahan emosi.
Edgar tidak menanggapi. Matanya masih tertuju kepada sang ketua Black’Carlos angkatan dua, yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
“Gimana?” tanya Edgar lagi.
Cowok itu memandang remeh ke arah Altezza, tanpa tahu bahaya yang akan datang menimpanya karena telah menantang orang yang salah.
Altezza maju selangkah. Netranya menelisik ke arah gadis yang dijadikan sandera oleh Edgar. Gadis itu terus memberontak dan terisak. Bibir bawahnya sobek, serta tangan dan kakinya mulai mengeluarkan darah.
Altezza menoleh ke arah Edgar. “Lepasin,” ujarnya tak main-main. Tatapan mengintimidasi yang ia berikan kepada Edgar, malah membuat nyali mereka semua ciut seketika.
Bukan hanya lawannya saja yang menciut. Dirga dan Dion serta anggota lainnya juga merasakan hal yang sama. Bahkan, Rafael sendiri tidak berani menatap wajah laki-laki itu. Cowok itu memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aura gelap dari wajah Altezza terpancar jelas, hingga membuat mereka benar-benar merasakan hawa yang berbeda kali ini.
Altezza masih memandang lurus ke arah Edgar. Pupil hazel laki-laki itu terus menyorot tajam dan memberikan tatapan mengintimidasi terhadap lawannya.
Edgar sendiri menjadi gugup di tempatnya. Ia bahkan sampai tak tahu harus melakukan apa lagi sekarang.
Laki-laki itu berdehem singkat untuk menormalkan detak jantungnya yang berdetak kencang, lalu segera memerintah anak buahnya agar membuka penutup dan ikatan pada gadis itu.
“Recha?” gumam Dirga dan Dion kaget saat para anak buah Edgar membuka penutup mata gadis itu. Tidak hanya mereka berdua saja yang kaget, tetapi Altezza dan juga Rafael sama halnya.
“Woah! Anjing lo! Siswa lain yang nggak tahu apa-apa main di sandera aja!” maki Dirga kelewat kesal.
“Nggak ada otak memang!” Dion menambahkan.
Tak mau mengulur-ulur waktu lagi, Altezza segera melayangkan pukulan telak kepada Edgar. Membuat laki-laki itu jatuh tersungkur di atas tanah.
Bersamaan dengan itu, kedua kubu saling beradu kekuatan. Hingga keadaan semakin tak terkendali. Semuanya berpencar melawan dan mengejar lawannya masing-masing.
Recha yang masih berada di tengah-tengah pertikaian mereka pun hanya bisa diam dan terus terisak seraya memeluk lututnya erat. Ia bahkan pasrah, saat tubuhnya diangkat oleh seseorang dan membawanya menjauh dari sana.