#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
•• 🕷️ ••
WARNING (18+)
Part ini mengandung unsur dewasa, harsh words, physical violence dan pelecehan seksual. Mohon untuk tidak di tiru.
♧♧♧
"Mau minum apa, Sha?" Cassie menoleh ke arah Geisha yang masih tampak tak nyaman di sebelahnya.
Malam ini para siswa sedang bersenang-senang di privat club tanpa sepengetahuan guru-guru. Apalagi lokasinya yang menyatu dengan hotel semakin memudahkan mereka untuk keluar masuk.
"Gue mau soft drink aja ada nggak, Cass?" tanya Geisha pelan.
"Oh, ada kok. Wait, ya, gue pesan dulu." Cassie mengangkat tangan, memanggil bartender.
"Jangan tegang-tegang banget, Sha. Enjoy aja, lagian kita juga cuma sesekali kayak gini," celetuk Zara menenangkan.
Geisha mengangguk kaku, sejujurnya ia juga sudah mencoba untuk membiasakan diri. Namun karena memang baru pertama kali berada di tempat seperti ini, ia tetap merasa canggung.
Suara musik yang berdentum keras di dalam ruangan membuat keadaan terlihat semakin ricuh. Tampak dari semua siswa yang tengah berjoget ria menikmati suasana.
Geisha bergidik saat melihat beberapa orang yang sudah mabuk akibat meminum alkohol terlalu banyak. Ia menelisik ke sekelilingnya, sungguh tidak kondusif lagi.
Karena merasa tak nyaman, Geisha akhirnya memilih untuk keluar dari tempat ini. Ia berdiri dari duduknya, menatap sebentar ke arah teman-temannya yang masih saja sibuk dengan dunianya masing-masing.
"Guys! Gue ketoilet dulu ya?" Geisha sedikit berteriak, lantaran suaranya yang kecil teredam oleh kuatnya pekikan musik.
Mereka bertiga hanya mengangguk tanpa menoleh. Dan tak mau berlama-lama lagi, Geisha segera bergegas pergi dari sana. Meninggalkan ruangan tersebut.
◇◇◇
"Gue udah bilangin ke lo, jangan banyak minum, Dion!"
Pukulan ringan yang berasal dari Rayan berhasil mendarat tepat di lengan Dion. Cowok itu mendengus.
"Suka-suka gue," decaknya tak mau diganggu.
"Lo kalo mabok gue malas bawa ke kamar, biarin aja lo teleportasi sendiri," ujar Rayan jengah.
"Satu botol lagi, janji." Jari telunjuk dan jari tengah Dion membentuk huruf V.
Rayan tidak terlalu mengindahkan, ia sudah lelah memperingati lelaki itu. Biar saja jika nanti Dion mabuk. Ia tidak akan mempedulikannya lagi.