#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧♧♧
"SELAMAT PAGI, DUNIA YANG BRUTAL!"
"Anjing! Loncat handphone gue, goblok!" pekik Rayan kaget sambil mengelus-elus dadanya yang berdebar kencang karena terkejut dengan teriakan yang tiba-tiba barusan.
Ponselnya juga hampir terjatuh dan masuk ke dalam gelas minuman milik Dirga di depannya kalau saja ia tidak cepat-cepat menangkapnya dengan sigap.
Teriakan menggelegar tadi berasal dari mulut cempreng Daffa, laki-laki yang kini tengah menarik kursi kayu di sampingnya dan langsung duduk menyempit di sebelah Dion.
"Lagian lo di situ," sinis Daffa tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Saat ini mereka berenam sedang nongkrong di warung kopi Mbok Ijum. Warung kopi sederhana yang berada di depan sekolah itu menjadi tempat persinggahan para inti Black'Carlos pada pagi ini.
Rayan melirik Daffa kesal. "Kok jadi gue?! Lo tuh, pakai teriak-teriak segala!" ketusnya dengan nada lebih tinggi.
Sekarang giliran Daffa yang mengusap-usap telinganya lantaran sedikit pengang akibat Rayan yang berteriak terlalu keras.
"Heboh banget hidup lo," ketusnya datar
"Ngaca!" sentak Rayan langsung.
Dion berdecak saat melihat keributan yang diciptakan oleh kedua temannya itu. Setiap hari selalu ada saja yang mereka ributkan. Entah itu masalah kecil ataupun besar.
"Gue mau cerita," ucap Daffa sambil menyeruput kopi miliknya yang baru saja disuguhkan oleh Mbok Ijum.
Kening Dirga mengernyit. "Cerita apa? Kalau nggak penting, skip."
"Ini penting, penting, dan penting. Pentingnya melebihi kepentingnya negara," sahut Daffa lagi, membuat kelimanya menatapnya malas.
Mereka semua tahu penting yang dimaksud oleh Daffa itu berbeda dengan penting yang sebenarnya.
"Ya udah, cepat," sahut Rayan dari arah tempat duduknya.
"Jadi begini...." Daffa menjeda perkataan, lalu menarik napas. Yang lain mulai tampak serius, menatap laki-laki itu.
Mereka diam dan terus menunggu cowok itu berbicara, tapi lima menit berlalu Daffa tak kunjung bicara juga. Hal itu pun sontak membuat Dion langsung menatapnya tajam.
"Nggak usah cerita, lah, nyet! Kelamaan lo. Makan waktu," sentak Dion emosi dan diangguki setuju oleh yang lainnya.
Daffa mendengus mendengar itu. Ia lalu mengacungi jari tengahnya yang entah ditunjukkan kepada siapa. Intinya cowok itu menjadi kesal sekarang.
"Cepat, habisin sarapan lo. Bentar lagi bel masuk," ujar Rayan pada Dirga yang masih mengunyah nasi gorengnya.
Cowok itu mengangguk untuk menanggapi, lalu melanjutkan memakan nasi gorengnya hingga habis.