[37] REVENGE

181K 12.6K 2.1K
                                        

♧♧♧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

♧♧♧

Altezza membanting pintu kamarnya dengan kasar, membuat Geisha yang berada di sampingnya ikut tersentak akibat ulahnya.

Setelah kekacauan yang terjadi di sekolah tadi, Altezza langsung membawa Geisha pulang ke apartemen.

Altezza membawa perempuan itu ke pinggiran ranjang, kemudian mendudukkan Geisha secara kasar. "Buka baju seragam lo!" titahnya.

"Nggak usah sekolah lagi!" lanjut pria itu berang.

Geisha mendongak pelan, netra berairnya menatap wajah Altezza bingung.

Sementara Altezza yang melihat mata sembab dan sayu milik wanita itu langsung kembali mengumpat dalam hati. Altezza tak suka bila wanitanya menangis.

Ia benci akan hal itu.

Terlebih lagi, Geisha di permalukan dan di rendahkan seperti tadi. Di caci serta di hina. Jika ia tidak bisa mengendalikan emosinya, mungkin ia sudah menghabisi mereka semua satu per satu saat itu juga.

"Cepat buka! Ganti sama baju lo!" titah pria itu lagi, kala Geisha yang masih tetap diam dan tidak mendengarkan perintahnya.

"Tapi—"

"Gua nggak suka penolakan!" sela Altezza cepat.

"Mulai hari ini lo nggak usah sekolah-sekolah lagi!" tegasnya.

"Masalah ke depannya biar gue yang urus," lanjut pria itu serius, saat tahu Geisha hendak melakukan protes terhadapnya.

"Lo bisa sekolah di rumah," tambah Altezza.

"Sekarang jangan pikirin yang aneh-aneh dulu, cukup pikirin anak gue sama lo aja," ujarnya mulai melembut.

"Fokus ke dia," pinta Altezza serius.

"Satu lagi, gue nggak suka lihat lo banyak pikiran dan nangis kayak gini."

Setelah mengatakan itu, Altezza segera berbalik dan berjalan menuju pintu. Meninggalkan Geisha yang masih termenung dengan semua ucapan-ucapannya barusan.

Altezza keluar dari kamar, lalu bergegas untuk kembali ke sekolah. Ada urusan yang harus ia selesaikan.

◇◇◇

"Jangan ngintip, Daff. Lo nggak boleh lihat!" seru Dion memperingati.

Saat ini kelima teman Altezza sedang berdiri di depan mading. Memandang horor ke arah beberapa foto-foto yang di tempelkan dengan tidak tahu dirinya.

"Gue udah nebak, anjir! Ini pasti ulah si hama," decak Dion kesal.

Rahangnya mengetat saat melihat semua foto tersebut di tampilkan atau lebih tepatnya sengaja dipertontonkan di tempat terbuka seperti ini.

ALTEZZA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang