[12] CRUSH?

246K 16.5K 510
                                        

♧♧♧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

♧♧♧

Nayla menggenggam erat lengan Altezza, menyalurkan rasa percaya diri untuk laki-laki itu. Saat ini mereka bertiga sudah berada di depan rumah Geisha, sesuai dengan perjanjian yang anak dan ayah itu sepakati.

"Nggak usah tegang gitu mukanya," cibir Rayzan pada Altezza.

Altezza melirik sinis ke arah Papanya, lalu kembali mengkondisikan wajahnya agar terlihat biasa saja. Bagaimana tidak gugup? Sedangkan ini menyangkut dengan masa depannya.

Setelah cukup lama memandangi gerbang hitam di depannya, akhirnya mereka berjalan memasuki halaman besar rumah tersebut.

Langkah mereka berhenti saat tiba di depan pintu utama. Altezza memandangi pintu itu sebentar, lalu memberanikan diri untuk menekan belnya.

Tak butuh waktu lama setelah bel berhasil dibunyikan, seorang wanita paruh baya segera membuka pintu tersebut dan tersenyum ramah ke arah mereka.

"Ada yang bisa bibik bantu, Den?"

Altezza mengangguk singkat. "Orang tua Geisha, ada? tanyanya sambil melirikkan mata ke dalam.

"Iya, Den, ada. Kebetulan sekali tuan dan nyonya sedang berada di rumah hari ini."

"Boleh saya bertemu?" kata Altezza hati-hati.

Wanita berusia 53 tahun itu mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar lagi. "Silakan, Den, tuan, nyonya."

Dengan membungkukkan badannya sopan, Bi Nani mempersilakan Altezza dan kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam dan mengarahkan ketiganya menuju ruang tamu.

"Siapa?"

Belum sampai di ruangan yang dituju, kini suara tegas nan mengintimidasi itu menyapa indra pendengaran mereka. Hal tersebut sontak membuat jantung Altezza berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Sial! Kenapa jadi gini sih?!" Batinnya kesal.

Altezza berdehem pelan, mengurangi rasa canggung dan takut yang sekarang sedang bersarang di dalam hatinya. Altezza mencoba untuk memberanikan diri menatap wajah Papa Geisha yang sedang berjalan ke arahnya.

Faldo menajamkan pandangan saat tahu siapa yang datang. "Kamu?! Mau apa lagi kamu ke sini, hah!!" bentaknya keras.

"Tenang dulu, Pak. Mari kita bicarakan masalah ini dengan kepala dingin dan secara kekeluargaan," ucap Rayzan berusaha menenangkan Faldo yang tersulut emosi.

ALTEZZA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang