[31] TAWARAN

170K 11.4K 337
                                        

♧♧♧

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

♧♧♧

"Gue dijodohin."

Uhuk! Uhuk!

Perkataan Rafael barusan membuat Daffa dan Dion yang sedang menikmati makan siang mereka menjadi tersedak, sedangkan mie yang hendak di makan oleh Rayan malah masuk ke hidungnya.

Brak!

"Minum gue, Daff! Cepat ambilin!" Rayan menepuk-nepuk pundak Daffa agar cowok itu segera mengambilkan minumnya.

Rayan tak berhenti terbatuk lantaran tenggorokannya terasa perih dan sakit. Lalu Daffa pun segera menyodorkan segelas air putih kepada cowok itu.

"Ah! Perih banget, bangsat!" umpat Rayan kesal.

"Lo bisa nggak sih, El? Kalo ngomong aba-aba dulu," omel Dion sambil melemparkan tatapan tajam ke arah sanh pelaku.

"Tahu, tuh! Hampir mati gue keselek bakso," celetuk Daffa masam.

"Masih mending lo, Daff. Mie gue nih sampai masuk hidung," timpal Rayan.

"Anjing emang!" makinya.

"Gue cuma ngasih tahu," balas Rafael santai.

Rayan mendengus. "Ya, iya gue tahu. Tapi minimal tunggu kita selesai makan, lah!"

"Tapi serius, anjir! Lo tadi ngomong apa?" tanya Dion ingin memastikan.

"Gue dijodohin," ulang Rafael malas.

"Hah? Di—apa?" Dion semakin merapatkan tubuhnya pada Rafael, takut bila ia salah dengar.

"Dijodohin, pe'ak!" sahut Rayan jengkel, tangannya melayang menyentil telinga Dion.

Kemudian setelah itu mata Dion refleks melebar. "LO MAU DIJODOHIN SAMA SIAPA, ANJING?!"

Daffa mengusap-usap pundak belakang Dion, berusaha menenangkan. "Istiqlal, Yon."

"Istighfar, goblok!" ralat Dirga.

"Eh? Iya, ya! Typo mulut gue." Daffa nyengir, memperlihatkan senyum pepsodentnya.

Sementara Rafael sudah berdecak kesal di tempatnya. Menurutnya, reaksi mereka sangatlah berlebihan.

"Jujur aja, El. Lo sebenarnya lagi ngeprank kita, kan?" kekeh Rayan tak percaya.

"Gue serius," sela cowok itu lagi.

"Anjing!"

"Apakah ini Altezza part dua?" ujar Dirga ambigu.

"Ya, kali! Altezza part dua," delik Rayan.

"Siapa?" tanya Altezza ikut menimpali.

Laki-laki berseragam putih lusuh itu ikut serta dalam kegiatan menggibah kali ini. Mungkin karena perbincangan kali ini juga menarik dan apalagi ini tentang Rafael.

ALTEZZA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang