#BlackCarlos (Series I)
Menikah karena sebuah kesalahan, adalah sesuatu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak Altezza.
Siapa sangka jika laki-laki yang terkenal sebagai setan penguasa jalanan itu, harus menikahi seorang gadis berparas can...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
♧♧♧
Geisha mengendap-endap masuk ke dalam apartemen, kepalanya celingukan menatap sekitar. Saat di rasa aman, akhirnya Geisha segera berlari kecil ke arah kitchen set dan mulai menyiapkan makanannya di sana.
Netra mata Geisha terus memperhatikan seblak di depannya dengan penuh minat, apalagi kuah dari seblak itu terlihat sangat menggoda. Membuat Geisha semakin berselera untuk mencicipi.
Geisha membuang plastik yang membungkus seblaknya ke tong sampah, lalu segera membawa mangkuk tersebut ke arah meja makan.
Sejujurnya sudah sedari lama Geisha menginginkan ini, tetapi selalu tidak pernah kesampaian karena Altezza yang menjaga ketat kesehatannya dan selalu melarang jika ia ingin memakan makanan yang pedas.
Kalau ada Altezza, mana mungkin ia bisa memakan ini. Yang ada dirinya habis di marahi. Geisha mulai mengangkat sendoknya, bersiap untuk mencicipi.
Namun belum sempat ia menyendokkan kuah seblak itu ke dalam mulut, suara dari belakang membuat tubuh Geisha menegang seketika.
"Siapa yang bolehin makan makanan nggak sehat kayak gitu?"
"A-Al ..." Geisha gelagapan. Mendadak ciut setelah melihat wajah datar pria itu.
Geisha tak tahu bila Altezza sudah pulang dan kini berada di sampingnya entah sejak kapan.
"Hm?" Altezza menukikkan kedua alisnya. "Kenapa nggak jadi dimakan?"
Geisha meletakkan kembali sendoknya dan menjauhkan mangkuk tersebut. "Enggak jadi, ini mau aku buang aja."
"Di buang? Bukannya lo beli buat dimakan?" tanya Altezza sinis.
Geisha menggeleng pelan tanpa suara.
Ia bingung, takut dan juga gelisah. Geisha menundukkan pandangan ketika Altezza mulai mengintimidasi.
"Bukannya kata lo nanti mubajir, ya? Kalo buang-buang makanan?" Altezza menyindir lagi.
"Maaf," lirih Geisha pelan.
"Maaf buat apa? Percuma," decih Altezza. "Gue bilangin juga tetap nggak bisa, kan?"
Geisha menengadah, memberanikan diri menatap Altezza. "Janji ini terakhir."
"Terserah, gue nggak peduli." Altezza berjalan menuju kamar, rasanya gerah dan ia ingin cepat-cepat mandi untuk membersihkan diri.