[40] BINGUNG?

190K 12.9K 1.5K
                                        

"Dari mana?" tanya Altezza pada kedua temannya yang baru saja sampai di kantin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dari mana?" tanya Altezza pada kedua temannya yang baru saja sampai di kantin. Sedikit heran, karena tidak biasanya mereka berdua telat ke kantin seperti ini.

Daffa menyengir, lalu menarik salah satu kursi kantin di sebelahnya. "Dari toilet tadi," alibinya dan diangguki oleh Dion juga.

Altezza melirik Dion "Berdua?" tanya laki-laki itu tak percaya.

"Ya enggak lah! Ngadi-ngadi Lo, Za!" kilah Dion cepat. Matanya menyipit sinis ke arah Altezza. Bisa-bisanya laki-laki itu menudingnya yang tidak-tidak.

Altezza hanya mengangguk, kemudian kembali fokus pada ponselnya sebelum akhirnya mengingat sesuatu. "Rafael mana?" tanya cowok itu heran.

Pasalnya, ia tidak melihat Rafael sejak tadi. Tidak biasanya juga lelaki itu tertinggal jika berkumpul seperti ini. Apa mungkin sedang ada rapat osis? Pikir Altezza.

Daffa menggaruk tengkuknya. "Hah? O-oh Rafael," cowok itu melirik Dion. "Rafael mana?" tanyanya dengan lirikan mata.

"Tadi gue lihat Rafael masih di kelasnya," jawab Dion. "Palingan juga lagi bucin sama Clara," tambah cowok itu lagi.

Dion menatap Altezza, Rayan, Dirga dan juga Ravendra. "Udah pada pesan makanan belum?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Mau pada pesan apa? Biar gue yang pesanin sekalian," ujar cowok itu menawarkan.

Rayan yang sedari tadi sedang tiduran di meja pun kini langsung bangun dan mendongak menatap Dion. "Gua mie ayam satu, sama es jeruk, ya?" pesan cowok itu.

Dion mengangguk. "Yang lain?"

"Gue samain kayak Rayan aja deh, tapi minumnya air putih aja ya," pinta Ravendra yang langsung diangguki oleh Dion.

"Gue pengin nasi gorengnya Mpok Nori di sana, Yon," cengir Daffa.

"Yaelah, Daff! Lo nyusahin mulu," decak Dion kesal.

Pasalnya masi goreng yang di maksud Daffa itu adalah masih goreng yang dijual di dekat pertigaan jalan. Jauh dari sekolah. Merepotkan saja Daffa ini.

"Kalo lo mau apa, Dir?" tanya Dion pada Dirga yang sedari awal sibuk senyam-senyum sendiri dengan tidak jelasnya.

Dirga mengalihkan pandangannya dari ponsel. "Pengin makan yang manis-manis nih, mau dessert aja deh," putusnya.

Lirikan mata Dion berpindah menatap Altezza. "Lo, Za?"

"Vanilla latte aja, satu," sahut laki-laki itu.

ALTEZZA [New Version]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang