"Hus, nanti aku mau pulang."
Setelah banyak berpikir, Eksa akhirnya memutuskan untuk tetap pulang. Pengajuan cutinya sudah masuk sejak akhir bulan lalu dan disetujui. Jadi, dia akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
"Nggak Sabtu besok, Mbak? Kereta pagi, gitu?"
Awalnya memang begitu. Namun, dia malas menunggu satu malam di kamar indekos. Biar saja dia habiskan sisa hari Jumat ini dengan menikmati perjalanan menuju Bandung.
"Enggak." Eksa menggeleng. Tangannya terulur untuk menggeser gelas berisi es jeruk.
Saat ini keduanya sedang menghabiskan istirahat makan siang di salah satu warung dekat kantor. Minus Satria karena laki-laki itu langsung melesat pergi setelah selesai salat Jumat. Entah, Eksa tidak tahu ke mana perginya? Mungkin urusan dengan vendor atau yang lain.
"Kereta jam berapa?"
"Jam."
"Aku antar, ya? Biar nanti Mbak ada teman ngobrol kalau nunggu kereta berangkat."
Eksa menggeleng lagi. Sudah cukup dia merepotkan Husni selama beberapa waktu belakangan. Hari ini tidak perlu untuk mengulang hal yang sama. "Nggak perlu. Nggak apa-apa, kok. Aku sendiri aja."
"Yang ini Mbak nggak boleh nolak."
"Hus—"
"Jangan nolak, ya, Mbak. Aku antar Mbak nanti."
Eksa hendak menolak lagi. Namun, bibirnya kembali terkatup. Menelan semua ucapan yang siap dia lontarkan. Lagi pula, tidak ada gunanya menolak. Husni akan tetap memaksa untuk mengantar.
Kadang, Eksa berpikir jika laki-laki yang tengah menikmati sepiring lotek di depannya ini terlalu peduli. Mereka memang teman dan rekan kerja. Namun, apakah semua laki-laki akan sepeduli itu tanpa melibatkan perasaan?
Ah, perasaan, ya. Eksa jadi ingat satu tahun yang lalu. Soal pengakuan Husni yang membuatnya terkejut. Eksa tidak melupakan itu, kok. Bahkan masih teringat jelas bagaimana laki-laki itu mengungkapkan semuanya. Hanya saja, dia tidak pernah mengungkitnya kembali. Dia juga tidak berpikir jika Husni benar-benar menyukainya. Bahkan usianya tiga tahun lebih tua. Namun, perlakuannya semenjak dipertemukan kembali di kantor yang sama, membuat Eksa berpikir ulang. Benarkah laki-laki itu menyimpan rasa untuknya?
"Aku udah ngerepotin kamu banyak hal, Hus. Banyak waktu kamu kesita karena aku. Jadi, kupikir itu udah cukup."
"Tapi aku nggak merasa direpotkan." Husni meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong. "Atau ... Mbak keberatan dengan apa yang aku lakukan?"
"Bukan gitu," sahut Eksa cepat. "Aku cuma nggak enak aja. Aku bahkan bisa sendiri, tapi tetep terus ngerepotin orang."
"Padahal aku nggak mikir gitu." Husni tersenyum tipis, kemudian membasahi kerongkongannya dengan beberapa teguk es teh. "Aku udah selesai, Mbak. Mbak Eksa mau langsung balik ke kantor atau ke mana dulu?"
Tersentak, Eksa buru-buru menghabiskan makanan yang tinggal sesuap.
"Nggak usah buru-buru." Husni tertawa kecil.
"Mau ke minimarket dulu, butuh beli sesuatu."
"Oke. Mbak tunggu di sini, aku bayar dulu."
Kelopak mata Eksa melebar. Namun, suaranya tertahan ketika Husni lebih dulu berlalu. Menuju kasir dan membayar makanan yang tadi dipesan. Kan, apa dia bilang. Dia terlalu banyak merepotkan orang lain.
🥀🥀🥀
"Gas, aku pengin resign."
Bagas tersedak es kopi yang baru saja diteguk. Menyisakan rasa perih yang kemudian menjalar pada area hidung. Sial memang, wanita di sampingnya ini tidak melihat situasi saat bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene ✓
RomansaCOMPLETED Semuanya berawal ketika Eksa melihat Deka pelukan dengan Nares di Jogja Expo Center. Padahal pamitnya pergi gladi resik acara reuni, bukan bermesraan dengan wanita lain. Sejak saat itu, rasa percaya Eksa pada Deka semakin berkurang. Ditamb...
