38. Being There

105 18 23
                                        

"Tehnya diminum dulu. Mumpung masih anget, biar capeknya cepet ilang."

Senyum Hanun dan teh hangat yang tersaji di meja makan membuat Eksa semakin terenyuh. Sejak kedatangannya subuh tadi, sang ibu menyambut dengan begitu ceria. Memeluk dan mencium anak perempuan satu-satunya itu penuh sayang. Hal itu tentu saja membuat Eksa semakin sesak dan bingung bagaimana harus menjelaskan keadaan saat ini.

Sang bunda belum mengetahui kejadian sebenarnya. Hal mengerikan yang menghempaskan Eksa ke dasar jurang. Bagaimana Eksa sanggup bercerita jika sang bunda sudah berharap banyak padanya soal pernikahan itu? Bahkan, rumahnya sudah jauh lebih rapi jika dibandingkan bulan lalu ketika dia pulang untuk prosesi lamaran. Intinya, semuanya sudah siap jika minggu depan mengadakan acara pernikahan.

"Kok, dilihatin mulu, Nak? Katanya kangen teh buatan bunda."

Senyum Hanun yang biasanya menenangkan mendadak berubah jadi menyakitkan. Pandangan Eksa sudah kabur karena kaca tipis yang menyelimuti. Padahal sebelum berangkat dan ketika di kereta, rasanya air mata itu sudah terkuras habis. Bahkan kacamata bulatnya tidak bisa menghalau penglihatan orang pada kantung matanya.

"Bentar, Bun." Suara Eksa bergetar saat bicara, membuat Hanun beringsut maju dan mengusap lengan sang anak.

"Kenapa nangis, Sayang? Kangen banget sama Bunda dan Rendra?"

Kendati ada hal lain yang masih belum bisa Eksa utarakan, dia tetap mengangguk. "Kangen banget."

"Padahal baru bulan lalu pulang." Hanun tersenyum, lantas beranjak dari duduk. Dia berdiri di dekat Eksa, membuat sang anak langsung mendekapnya. "Bunda juga kangen. Kenapa tadi nggak telpon aja, hm? Kan bisa dijemput Rendra."

"Nggak apa-apa. Kasihan Rendra capek, jadi nggak mau ganggu. Bunda juga."

"Kan, nggak tiap hari. Lagian kemarin Rendra libur."

Eksa mengeratkan pelukannya pada tubuh Hanun. Sesaknya semakin menjadi, bahkan sekarang dia mulai terisak.

"Loh, kok makin nangis? Kamu kenapa, Nak? Coba cerita sama Bunda. Ada yang ganggu pikiran kamu, atau apa?"

Semua hal yang Eksa pendam siap tumpah kapan saja. Namun, lidahnya terasa kelu. Rasanya jauh lebih sakit daripada pengakuan Nares. Karena Eksa tahu, ibunya akan jauh lebih tersakiti ketika melihat anaknya diperlakukan seperti ini.

"Maaf, Bun."

Bahu Eksa terguncang. Semua kejadian menyakitkan itu kembali berputar dalam kepala. Mulai dari hal-hal kecil yang membuatnya menangis karena Deka, keputusan untuk kembali memulai dari awal, lamaran, kedatangan Nares, dan pengakuan wanita itu. Semuanya beradu seolah memojokkan Eksa.

"Maaf kenapa, Nak? Kamu nggak ada salah sama Bunda."

Eksa menggeleng. Justru dia menjadi luka baru untuk wanita itu. Dulu ayah, kemudian Bang Eki, butuh waktu lama untuk Hanun menata hati setelah kehilangan dua laki-laki berharga dalam hidupnya. Lantas ketika Eksa juga mengalami hal menyakitkan serupa, bukankah itu akan kembali membuka luka lama? Semuanya bertumpuk menjadi satu.

"Cerita sama Bunda, Nak. Jangan nangis gini, Bunda jadi sedih. Apalagi kamu makin kurus." Hanun mengusap sayang punggung Eksa. "Kamu makan dengan baik, kan? Padahal bulan lalu enggak sekurus ini."

"Maafin Eksa," ucapnya lagi.

"Udah minta maafnya. Kamu nggak salah. Mau cerita sama Bunda?" tanya Hanun lembut.

Tidak selamanya Eksa bisa memendam ini sendiri. Cepat atau lambat, semuanya akan tahu. Kemudian mulai merebak di kalangan tetangga rumah kampung halamannya. Namun, lagi-lagi dia kesulitan untuk memberitahu Hanun. Jika pernikahan yang direncanakan minggu depan tidak akan pernah terjadi.

Ending Scene ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang