Satria duduk termangu di sebuah angkringan dekat kantor. Netranya terarah pada satu gelas es teh yang masih penuh. Makanan berupa sebungkus nasi kucing dan dua tusuk sate usus pun masih utuh, sama sekali belum tersentuh. Mendadak Satria merasa kenyang dan nafsu makannya lenyap begitu saja, karena sebab yang mungkin dianggap sepele. Atau bukan hal yang sesepele itu juga? Entah, Satria tidak mengerti. Yang dia tahu, hal itu menimbulkan rasa sesak di dada, yang sayangnya enggan beranjak hingga sekarang.
"Satria, aku mau kasih kabar!"
Masih teringat jelas raut wajah Eksa beberapa jam lalu ketika mengajaknya bicara. Wanita itu terlihat begitu antusias dengan raut cerah dan bahagia. Sesuatu yang jarang Satria lihat belakangan ini..
"Happy banget kayaknya, abis dapet diskon?"
"Diskon doang mah, aku nggak sesenang ini."
"Masa?" Sebelah alis Satria terangkat. Kedua sudut bibirnya tertarik, ikut antusias mendengar sesuatu yang hendak wanita itu beritahu. "Atau mau pulang kampung?"
"Kemungkinan iya."
"Serius?" Kedua kelopak mata Satria melebar. "Kapan?"
"Minggu depan mungkin. Nggak tahu juga, tergantung Deka gimana."
Begitu nama Deka disebut, lengkungan kurva di wajah tampan itu perlahan memudar. Seharusnya hal ini menjadi biasa, apalagi untuk Satria yang sudah lama mengenal Eksa. Namun, segala sesuatu tentang hubungan wanita itu tidak juga membuatnya terbiasa. Masih banyak angan dan kata andai yang selalu berputar di kepala. Berharap semua itu bisa terwujud dan menjadi sebuah kisah nyata.
"Kenapa tergantung Deka?"
Eksa tersenyum. Perlahan tangan kirinya terangkat, memperlihatkan dengan jelas sebuah cincin berwarna silver melingkar di jari manisnya.
"Dia mau lamar aku!"
Satria menunduk, netranya berganti menatap meja di angkringan begitu angannya tertarik dari ingatan itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat, mencipta senyum sinis di sana. Mengingat ucapan Eksa membuat sesuatu dalam dadanya seperti dicubit. Meninggalkan bekas yang sayangnya tak mau pergi.
Menghela napas pelan, Satria kembali mendongak. Beralih pada es teh yang esnya sudah mencair semua. Menggeser gelas itu mendekat, Satria meminumnya hingga setengah. Mubazir jika dia tidak meminumnya sama sekali.
"Berapa, Pak? Tadi saya pesan es teh satu, nasi satu, sama sate usus dua." Dia beranjak, mendekat pada bapak penjual yang tengah sibuk dengan pesanan pelanggan lain.
"Sepuluh ribu, Mas."
Satria mengangguk. Dia ambil satu lembar uang sepuluh ribuan dari dalam dompet. Diangsurkannya uang tersebut, kemudian mengucap terima kasih dengan senyum tipis. "Oh iya, Pak, saya minta plastik, ya. Buat bungkus."
"Iya, Mas, ambil aja."
"Makasih, Pak."
Setelah membungkus dua sate dan satu nasi kucing, Satria kembali ke kantor sebelum jam istirahat selesai. Waktu baru menunjukkan pukul setengah satu ketika kaki Satria menginjak lobi. Dia bergegas cepat menuju ruang kerja, ingin segera bertemu dinginnya air conditioner. Namun, ketika mencapai sana, ruangan itu kosong melompong. Tidak ada seorang pun yang sudah duduk di balik komputer.
"Ya iya lah sepi, istirahat belum kelar." Satria bermonolog.
Menghela napas panjang, kembali laki-laki itu melangkah menuju meja kerja. Diletakkannya satu plastik berisi sate dan nasi kucing di meja, untuk selanjutnya dia mendudukkan tubuh di kursi. Namun, belum ada beberapa saat, mendadak Satria teringat satu tempat, yang kemudian dia kunjungi tanpa mengulur waktu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene ✓
RomanceCOMPLETED Semuanya berawal ketika Eksa melihat Deka pelukan dengan Nares di Jogja Expo Center. Padahal pamitnya pergi gladi resik acara reuni, bukan bermesraan dengan wanita lain. Sejak saat itu, rasa percaya Eksa pada Deka semakin berkurang. Ditamb...
