Jika kata andai bisa mengembalikan semua hal yang telah lalu, Nares ingin mengucapkannya sebanyak yang dia bisa. Andai Deka tidak terikat dengan siapa pun. Andai Nares menyadari sejak awal dan membalas perasaannya. Andai dia bisa lebih dari Eksa untuk laki-laki itu.
"Na, please jangan bilang sama Eksa!"
Andai dia tidak ikut liburan, andai dia bisa menolak ketika Deka mulai merengkuh tubuhnya, andai dia bisa menghentikan semua hal yang berujung pada tindakan terlarang keduanya.
Sayangnya kata andai yang Nares harap dapat menjadi kenyataan hanyalah sia-sia. Kendati dirinya mengucapkan kata itu hingga berbusa, waktu akan terus berjalan tanpa memedulikannya.
"Na, aku mohon!"
Entah ini hari ke berapa Nares meneteskan air mata? Yang dia ingat, dia tidak bisa mengontrol dirinya sejak mengetahui sebuah benda menunjukkan garis dua. Dia ingin mengelak, karena dia tidak mungkin berbadan dua tanpa melakukan hubungan apa pun. Namun, kebersamaannya dengan Deka beberapa waktu lalu di Malang seolah mengejeknya. Berputar dalam kepala tanpa mau berhenti. Dia seolah lupa jika malam itu menjadi awal dari semua hal menyakitkan ini. Bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk Eksa.
"Terus kamu mau aku diam? Nggak melakukan apa-apa sedangkan anak ini nantinya butuh orang untuk jadi sosok ayah?"
Nares kalut, di satu sisi dia tidak ingin merusak kebahagiaan Eksa. Namun, di sisi lain dia ingin egois. Nares tidak mampu jika harus melewati ini semua seorang diri. Sudah cukup kesakitan yang pernah singgah karena sosok ayah, dia tidak ingin anaknya kelak merasakan hal yang sama dengan dirinya.
"Aku udah mau nikah, Na!" seru Deka frustrasi. "Aku bakal jadi suami Eksa!"
"Oh, terus dengan begitu kamu mau lari? Iya? Kamu yang mulai malam itu, Dek! Kamu egois!"
"Kamu juga egois!" sentak Deka. Dadanya naik turun seiring dengan emosi yang meletup. "Kamu nggak mikirin gimana Eksa!"
Nares tersenyum sinis dalam derai air matanya. "Emang kamu mikirin Eksa waktu itu? Kamu gila, Dek! Seharusnya kamu ngaca sebelum bilang seperti itu!"
Buliran bening itu terus mengalir, membasahi wajah Nares yang sudah sangat sembap sebab terus menangis dalam beberapa hari belakangan. Dia memang melakukan kesalahan fatal, bahkan jika bisa dia ingin mati saja. Namun, hilangnya nyawa tidak akan menyelesaikan masalah. Dia tetap menggores luka seseorang kendati dirinya sudah tidak ada di dunia.
"Aku nggak berniat menggagalkan pernikahan kamu, tapi aku nggak mau Eksa tahu setelah kalian berkeluarga!"
Semua keputusan yang Nares ambil terasa berat. Mengaku sekarang ataupun nanti tidak akan mengubah keadaan yang sudah terjadi. Kendati dirinya akan dianggap sebagai wanita murahan setelah ini, Nares tidak punya pilihan lain.
"Na!"
Tidak ada sahutan dari panggilan Deka. Masih dengan derai air mata, Nares berlalu. Meninggalkan Deka sendirian di rooftop kantor. Tidak ada yang terbaik di antara keputusan yang Nares ambil. Karena jujur ataupun tidak, dia akan tetap menyakiti Eksa. Lantas ketika kakinya melangkah menuju lobi, rasa sesal dan sesak semakin bergumul di dada. Terlebih ketika sosok yang ingin ditemui melihatnya dengan kedua sudut bibir tertarik. Sampai ketika Nares mengutarakan semuanya, senyum itu perlahan luntur. Berganti kaca tipis yang mulai menyelimuti netra.
"Maaf."
Lidah Nares kelu. Tenggorokannya terasa sakit karena isak yang tak kunjung reda. Dia hanya menggenggam jemari Eksa erat, dengan kepala tertunduk. Nares bingung, tetapi dia sudah sampai pada detik ini. Kendati rasa bersalah menghujam tanpa ampun, pada akhirnya dia berani mendongak. Mengatakan jika dalam tubuhnya ada sosok lain yang turut hadir. Hal yang kemudian membuat Eksa melepaskan tautan jarinya. Bangun dari duduk dan pergi tanpa mengucap sepatah kata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene ✓
RomanceCOMPLETED Semuanya berawal ketika Eksa melihat Deka pelukan dengan Nares di Jogja Expo Center. Padahal pamitnya pergi gladi resik acara reuni, bukan bermesraan dengan wanita lain. Sejak saat itu, rasa percaya Eksa pada Deka semakin berkurang. Ditamb...
