11. Cemburunya Deka

148 29 58
                                        

Malam sudah larut ketika Eksa turun dari motor Husni. Suasana indekos mulai sepi, hanya suara jangkrik yang tertangkap oleh telinga. Tak kunjung masuk, wanita itu masih mematung di dekat motor yang berhenti di depan gerbang. Membuat Kening Husni berkerut samar di balik helm.

"Masuk, gih!" titahnya pada Eksa yang disambut anggukan kecil.

"Kamu juga bisa langsung pulang, udah hampir jam sebelas. Kos nggak ada jam malam, kan?"

Husni menggeleng. "Nggak, Mbak. Tenang aja. Kos cowok mah nggak seketat kos cewek."

"Ya udah, pulang! Udah malam."

Sebelah alis Husni terangkat. "Ngusir ceritanya?"

"Nggak gitu," elak Eksa. "Kalau masih siang mah, aku ajak mampir bentar. Tapi ini udah malam. Pulang, gih!"

"Mbak masuk dulu."

Eksa mendengkus. "Aku masuk setelah kamu balik."

"Ngeles aja," ucap Husni sembari mengetuk pelan helm yang masih bertengger di kepala Eksa. "Copot dulu helmnya, abis itu masuk."

Wanita itu menurut. Tangannya terulur untuk melepas helm yang masih terpakai, kemudian sedikit merapikan rambut. Begitu helm terlepas, tangan Husni meraih tudung hoodie secara tiba-tiba. Menariknya hingga menutup kepala Eksa.

"Dingin, dipake aja itu tudungnya."

Eksa terpaku dengan tatapan mengarah pada Husni. Dalam satu hari, laki-laki sipit itu rasanya sudah berkali-kali membuat dadanya berdesir. Sesuatu yang baru kali ini setelah dia mengenalnya lama.

"Masuk, Mbak! Abis itu aku balik."

Tersentak, Eksa buru-buru mengalihkan atensi dari sosok itu. Menyelipkan beberapa helai rambut yang tertiup angin, sebagai pengalih rasa gugup yang tiba-tiba melanda.

"Kamu balik dulu, baru aku masuk."

Husni berdecak. "Kalau gini terus, sampai pagi juga kita nggak pindah tempat. Udah, pokoknya Mbak masuk, abis itu aku langsung pulang. Nggak ada penolakan lagi, oke?"

Benar juga kata Husni. Jika mereka masih saja berdebat soal hal tidak penting seperti sekarang, sampai pagi pun tidak akan selesai.

"Ya udah, aku masuk," pungkas Eksa. "Tapi kamu langsung balik, ya."

"Iya, Mbak. Aku langsung balik, kok."

Kedua sudut bibir Eksa terangkat. Mencipta senyum manis yang diam-diam menjadi candu untuk Husni. Membalikkan badan, wanita itu mulai melangkah memasuki area halaman kos. Sambil sesekali menoleh ke arah laki-laki itu. Namun, sebelum langkahnya mencapai teras, dia berhenti. Kembali berbalik dan menatap Husni.

"Kenapa, Mbak?" tanya Husni dengan kening berkerut. "Ada yang ketinggalan?"

Eksa menggeleng. "Mau bilang makasih."

Husni mengerjap. Namun, sesaat kemudian tersenyum lebar.

"Makasih buat hari ini, ya, Hus. Maaf udah ngerepotin kamu sama ibu di rumah."

"Sama-sama, Mbak. Nggak ngerepotin, kok. Aku juga makasih, ya, Mbak."

Eksa mengangguk disertai senyum, lalu melanjutkan langkah. Sesaat kemudian tubuhnya menghilang di balik pintu rumah, meninggalkan Husni yang masih duduk di atas motor depan gerbang.

Perlahan tangan Husni terangkat. Meraba bagian dada yang terlapisi jaket. Senyumnya kembali mengembang ketika merasakan ada sesuatu yang aneh di sana. Sesuatu yang entah mengapa mendebarkan, tetapi menyenangkan.

🥀🥀🥀

Hari baru dimulai ketika Eksa bangun dan mendapati ponsel sudah penuh dengan notifikasi panggilan tak terjawab. Tidak hanya itu, notifikasi dari chat WhatsApp juga hampir sama banyaknya. Kedua alisnya bertaut saat mengetahui hampir seluruh panggilan dan chat yang berjumlah puluhan itu berasal dari orang yang sama, yaitu dari Deka.

Ending Scene ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang