Taman Astrid
Bogor, 19 Juli 2025
"Adek, sini makan dulu. Mainnya nanti lagi."
Sebuah potret keluarga kecil yang tengah berlibur di taman kota Bogor terlihat begitu hangat. Sang ibu yang menyiapkan bekal makan siang, sang buah hati yang masih sibuk lari-larian, dan ayah yang kemudian beranjak menyusul anaknya. Didekapnya anak laki-laki yang berusia sekitar enam tahunan itu.
"Hap! Kena, deh! Ayok, anak ayah makan dulu biar makin kuat."
Kadang, Deka membayangkan bagaimana jika dia yang berada di posisi itu. Piknik di taman bersama keluarga kecilnya, membiarkan buah hatinya berlarian ke sana kemari, lalu dia akan mengawasinya sambil duduk di rerumputan yang begitu hijau. Sungguh menyenangkan, apalagi ditemani seorang wanita yang selalu diinginkannya sebagai pendamping hidup. Namun, itu hanya sebuah angan konyol yang saat ini harus dikuburnya dalam-dalam. Nyatanya, tidak ada piknik keluarga, tidak ada buah hati yang diawasinya ketika bermain, pun tidak ada seseorang yang menemaninya duduk di rerumputan. Hanya ada semilir angin dan riuh suara orang lain yang tidak juga mengenyahkan sunyi dalam hidupnya.
"Deka, maaf aku nggak bisa."
Meskipun pada awalnya menikahi Nares adalah keputusan mendadak yang tidak pernah diinginkannya, Deka perlahan bisa menerima dan siap untuk memulai hidup baru dengan wanita itu. Menunaikan tanggungjawab sebagai kepala keluarga dan akan menjaganya hingga batas akhir hidupnya. Namun, seolah semesta belum cukup menghukumnya dengan perginya Eksa, lagi-lagi Deka harus menerima bahwa Nares memilih mundur. Kepergian calon buah hati yang bahkan belum sempat melihat dunia, membuat wanita itu terpukul dan memutuskan untuk menyudahi semuanya. Tidak akan ada pernikahan, tidak akan ada bayi yang akan ditimang, dan tidak akan ada life after marriage yang sempat dia bayangkan.
Semuanya hilang bukan tanpa bekas, tetapi menyisakan luka yang semakin melebar setiap harinya.
Pengkhianatannya pada Eksa, penolakannya, kepergian calon buah hati, dan juga ... Nares.
"Na, kenapa? Tolong jangan gini. Kita udah sepakat buat lanjut dan melewati semua ini bareng-bareng."
"Aku ... nggak bisa." Sebuah gelengan kecil yang Deka ingat, pun dengan lelehan air mata yang semakin banyak masih terasa sama. Menggores hatinya sekian kali setiap ingatan itu kembali.
"Tapi ... kenapa?"
"Kita nggak ditakdirkan untuk bersama."
"Na, tolong jangan gini!"
"Jangan gimana, Dek? Kita lanjut untuk bersama aja udah salah. Aku nggak bisa maksain semua ini. Aku tahu kamu mau bertanggungjawab, tapi rasa bersalahku ke Eksa nggak pernah hilang sampai detik ini. Jadi tolong ... kita sudahi semuanya di sini."
Jika saja Deka tidak lepas kendali ketika gathering kantor di Malang waktu itu, jika saja dia tidak terlena dan membiarkan nafsunya mengambil alih, jika saja ... ah, terlalu banyak kata jika saja yang berdesakan dalam kepalanya selama beberapa tahun terakhir. Tanpa ada perubahan menuju lebih baik, justru sebaliknya.
Deka merasakan hatinya kosong. Sunyi senyap tanpa ada letupan kembang api yang dulu sering dirasakannya ketika bersama mantan calon istrinya, Eksa. Semuanya mendadak gersang dan kering tanpa ada titik-titik air yang mau mampir sejenak untuk membuatnya terasa lebih hidup. Kendati semua kesalahannya sudah mendapat maaf dari ambu dan ayah, tetap saja ini yang berlalu tidak pernah lagi sama. Sesal yang menumpuk pun tidak akan mengembalikan kondisi ini seperti sedia kala.
"Mungkin ini teguran untuk kita, Dek. Kita sama-sama salah dan berdosa karena sudah menyakiti Eksa. Bukan berarti aku senang kehilangan bayiku, tapi jika kita melanjutkan hidup bersama dengan awal sebuah kesalahan, itu ... nggak benar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene ✓
CintaCOMPLETED Semuanya berawal ketika Eksa melihat Deka pelukan dengan Nares di Jogja Expo Center. Padahal pamitnya pergi gladi resik acara reuni, bukan bermesraan dengan wanita lain. Sejak saat itu, rasa percaya Eksa pada Deka semakin berkurang. Ditamb...
