12. Kali Kedua

154 27 71
                                        

"Kenapa, Dek? Pundung amat."

Deka hanya melirik sekilas pada Bagas yang datang dari arah dapur. Laki-laki itu membawa satu gelas besar berisi kopi dan satu bungkus camilan. Meletakkan keduanya di atas meja, lantas menjatuhkan tubuhnya di samping Deka.

"Kenapa? Masalah lagi sama Eksa?"

Tidak ada jawaban dari Deka. Dia masih kesal jika mengingat kejadian kemarin malam. Saat Deka menunggu Eksa di dekat indekos wanita itu, yang dia dapat malah hal mengejutkan. Eksa pulang malam dengan seorang laki-laki. Mungkin Deka tidak akan semarah ini jika saja Eksa bisa dihubungi. Namun sialnya, wanita itu seolah sengaja tidak membalas semua pesan dan panggilan darinya.

"Kali ini apa lagi?"

"Berisik."

"Yeu!" Bagas melempar satu keping keripik singkong pada Deka. "Sebagai sohib, nih, ya, gue mencoba untuk peka. Emang cewek doang yang boleh curhat-curhatan? Ya, kagak! Cowok juga manusia biasa. Butuh didengar dan mengeluarkan keluh kesah."

"Alay, lo!" sinis Deka. Dia menegakkan badan yang semula bersandar pada sofa ruang tengah. Melakukan peregangan sejenak, lalu menyerobot kopi milik Bagas. Deka meneguknya santai hingga tersisa setengah.

"Apa-apaan?" Bagas terlonjak.

"Minta dikit."

"Dikit pala lu botak? Ini namanya lo tenggak semua, bego!"

"Halah, entar gue ganti."

Deka kembali menyandarkan tubuh pada sofa. Tidak menghiraukan Bagas, dia lebih memilih untuk menatap layar televisi yang sedang menayangkan film aksi. Raganya mungkin di sini, duduk tenang sembari menikmati acara televisi. Namun, pikirannya terus saja bermuara pada sosok yang dia tinggalkan dalam keadaan menangis sore tadi.

"Lo dulu kenapa putus sama Bemi?" Deka mendadak melempar tanya pada Bagas, tanpa menoleh sama sekali.

"Kenapa tiba-tiba nanyain itu?"

"Nggak apa-apa."

Bagas mengernyit. Tangannya urung memasukkan kembali beberapa potong keripik ke dalam mulut. "Jangan bilang kalau ...."

"Apa? Gue putus sama Eksa?"

"Jadi, beneran?"

Deka berdecak. Tangannya terulur untuk mengambil satu gelas kopi yang isinya tinggal setengah. Diteguknya minuman itu hingga tandas, tanpa peduli pada ekspresi kesal Bagas. "Siapa yang bilang?"

"Anjir! Gue yang bikin, lo yang ngabisin!" gerutu Bagas. Netranya memandang miris pada gelas berukuran besar yang kini telah kosong. Hanya tersisa ampas yang mengendap di dasar gelas.

"Gue nggak putus," ucap Deka tanpa memedulikan Bagas yang sibuk meratapi kopi. "Cuma ngerasa hubungan gue sama dia complicated belakangan ini."

"Break lagi?"

"Enggak." Deka menggeleng. "Rada ribut aja."

"Pantes ribut, lo mepet mulu sama Nares." Bagas meraih gelas yang sudah kosong. Dia bangkit dari duduk kemudian melenggang ke dapur. Tidak berselang lama, Bagas kembali dengan membawa sebotol air mineral ukuran satu liter. "Nih, ya, gue kasih tahu. Lo boleh aja temenan sama cewek atau siapa pun itu. Mau bencong juga silakan, tapi satu pesan gue, jangan sampai bikin hati cewek lo patah."

"Lihat siapa yang ngomong? Kayak lo oke aja sama Bemi dulu," cibir Deka.

"Kampret, lo!" Bagas kembali melempar kepingan keripik ke arah Deka. "Itu beda situasi. Gue aja yang terlalu on fire, jadinya gegabah."

Deka menoleh. "Masih ngarepin doi?"

"Meskipun masih, dia udah balik ke Jakarta." Bagas mengedikkan bahu. "Tapi serius, sekarang apa masalahnya? Soal Nares lagi?"

Ending Scene ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang