Satria memasuki ruang kerja ketika briefing sudah dimulai. Sedikit tergesa, laki-laki itu menurunkan ransel lantas bergabung dengan yang lain. Mendengarkan sedikit arahan dari Pak Januar seperti biasa. Sementara dirinya mengatur napas karena tadi sedikit berlari, pandangannya diam-diam menyapu seluruh sudut ruangan. Hanya untuk mencari sosok yang sejak kemarin siang tak ditemuinya.
Netranya mencari dari ujung ke ujung. Namun, sosok itu tak ada. Bahkan tertutupi oleh badan rekannya pun tidak.
"Oke, sekian briefing untuk pagi ini. Selamat beraktivitas dan wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Jawaban salam menggema setelah itu, disusul dengan bubarnya karyawan menuju meja kerja masing-masing. Begitu pun dengan Satria. Dia berjalan menuju mejanya, meletakkan ransel di dekat kursi, lantas kembali mengedarkan pandang. Namun, tetap saja tak menemukan sosok yang dicari. Mendadak rasa khawatir merambat dalam dirinya. Takut jika ada sesuatu yang terjadi, mengingat kemarin siang kondisinya tak begitu bagus.
"Hus, lihat Eksa nggak?"
Pada akhirnya, Satria memutuskan untuk bertanya pada juniornya yang kini tengah fokus pada ponsel.
"Eh, Mbak Eksa?"
Satria mengangguk. "Iya, kok, tumben belum datang. Biasanya hampir briefing udah stay."
"Oh itu, tadi udah sampe, kok. Cuma keluar bentar. Ada urusan katanya."
"Ke mana?"
"Entah." Husni mengedikkan bahu. "Kurang tahu juga ke mana."
Satria merasa lega. Setidaknya wanita itu baik-baik saja setelah kemarin siang pulang lebih awal karena sakit.
"Cari Mbak Eksa, kan? Tuh, orangnya datang, Mas."
Satria menoleh, hanya untuk melihat wanita itu berjalan cepat dengan raut wajah yang sukar untuk diartikan. Datar tanpa ekspresi sama sekali. Padahal biasanya Eksa akan lebih dulu menyapa, bersamaan dengan senyum yang merekah di wajahnya. Senyum yang diam-diam seperti candu untuk Satria. Lantas ketika senyum itu tak tampak, rasanya sedikit aneh.
"Sa, dari mana?"
Eksa mengangkat wajah, menatap Satria sejenak sebelum akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi. Dia tak langsung menjawab, melainkan lebih dulu menyalakan komputer. "Urusan kecil."
"Ke kantor pajak?"
"Bank."
Ada yang aneh dari Eksa. Tak biasanya dia seketus ini pada orang, apalagi itu Satria. Mengingat laki-laki itu adalah salah satu orang terdekat Eksa selain Bemi—yang kini memutuskan untuk kembali ke kota asal. Lantas, mendapati wanita itu berlaku demikian padanya seperti sekarang, membuat laki-laki berlesung pipi itu penasaran sekaligus khawatir.
Penasaran dengan apa yang mungkin saja telah terjadi dan khawatir jika itu kembali menyangkut orang yang sama. Yang tak lain dan tak bukan adalah Deka. Orang yang sekarang tengah berstatus sebagai kekasih Eksa.
🥀🥀🥀
Mood Eksa hancur, membuatnya ingin bergelung sepanjang hari tanpa memikirkan kerjaan, deadline, ataupun masalah yang tengah mendera. Rasanya melelahkan. Saat-saat seperti ini juga membuatnya teringat Bemi. Dia rindu sahabatnya yang konyol itu. Meskipun kadang menyebalkan, tetapi sosok Bemi bisa membuat mood-nya kembali cerah. Entah dengan saling bertukar cerita acak atau hanya menghabiskan waktu berdua dengan menonton film di indekos.
"Mbak, nggak makan?"
Lamunan Eksa buyar, digantikan sosok Husni yang sudah berdiri di depan meja kerjanya. Wanita itu mengerjap beberapa kali, lantas mengalihkan pandang pada jam dinding yang ada di ruang keuangan. Jam dua belas lewat lima belas menit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene ✓
RomanceCOMPLETED Semuanya berawal ketika Eksa melihat Deka pelukan dengan Nares di Jogja Expo Center. Padahal pamitnya pergi gladi resik acara reuni, bukan bermesraan dengan wanita lain. Sejak saat itu, rasa percaya Eksa pada Deka semakin berkurang. Ditamb...
