ANSA - 44

164 20 0
                                        

Selembar cek ditangannya membuat ia tersenyum semakin lebar. Memegang erat ransel dipunggungnya, Haidar melangkah menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir. Mobil putih yang dulu hanya terpajang di garasi mobil, kini mulai ia pakai untuk kesehariannya

Sedikit ia mengingat bagaimana bos di tempat ia bekerja dadakan itu memuji hasil pekerjaannya. Tak terpikirkan olehnya jika ia malah langsung diterima kerja sebagai agen pemasaran. Kini ia ada pekerjaan tetap, dan poin plusnya dia bisa mengerjakan itu di rumah. Tanpa harus repot repot ke kantor setiap hari

Ponselnya berdering. Nomor dari orang baru, yang selama ini ia kenal meneleponnya

"Mmm, halo- Pa?"

"Assalamualaikum, nak"

"Waalaikumussalam"

Suara helaan nafas dari sosok paruh baya di seberang sana sampai ke pendengarannya
"Kamu ngapain?"

"Aku? Masih diluar, pa. Ada urusan, mau pulang sekarang"

Lelaki itu harus membiasakan diri dengan adanya 2 papa dikedua sisinya. Meski begitu, perhatian untuk keduanya harus ia bagi sama rata. Untuk papa yang merawatnya sejak kecil, dan papa kandung yang terpisah darinya

"Papa minta tolong bisa?"

"Minta tolong apa?"

"Sebelumnya- Naya hari ini ulang tahun ke 22"

Ia terkejut. Langsung menegakkan badannya ke sandaran mobil
"Hah? Sekarang?"

"Iya"

Entah apa yang harus ia lakukan. Pikirannya seketika tertuju pada hari itu. Tapi disisi lain ia harus mengikhlaskan semua yang sudah terjadi. Tak ada gunanya berlarut-larut dalam kesedihan, itu bukan dirinya

"Papa mau minta tolong apa tadi?"

"Temui Naya sebagai seorang kakak, ya. Papa minta waktu kalian buat berdua. Kamu jelasin ke dia pelan pelan siapa kamu, dan apa hubungan kalian. Papa tau kalian pernah hampir melangkah ke jenjang serius, meski hanya melihat gerak gerikmu saja"

Haidar menghela napas
"Pa, tapi-"

"Cepat atau lambat kalian aja tau yang sebenernya tentang hubungan ini. Dan papa ga mau sampai itu terjadi untuk jangka waktu yang lama"

"Mmm..... Boleh. Haidar coba ya. Dimana acaranya?"

"Cafe punya om Joni saja ya. Naya suka kue coklat dari sana"

"Iya, Haidar bilang nanti. Papa cukup bawa Naya kesana aja ya nanti"

"Kamu ga kecapean? Biar orang papa aja nanti, kamu istirahat aja dirumah. Papa yang minta izin ke papa dan mama mu nanti"

Seorang papa menyebut papa sambung untuk anak kandungnya sendiri. Itu aneh

Haidar diam. Istirahat tak terlalu buruk. Kepalanya sedikit pening. Mungkin efek obat yang seharusnya ia pakai untuk istirahat dirumah malah ia gunakan untuk bepergian sendiri siang itu

"Ya udah. Haidar Istirahat aja"

"Istirahat beneran ya. Jangan sampai sakit lagi. Papa sama Davian masih cari cara buat kesembuhan kamu"

"Iya, pa. Ga usah repot-repot, Assalamualaikum"

Katakan ia tak sopan karena mematikan sambungan telepon sepihak. Tapi jika ia boleh jujur, ia ingin bersuara, menyuarakan isi hatinya jika ia terlalu muak dengan ini semua. Hidup dikelilingi dengan obat dan istirahat, belum lagi jika sewaktu-waktu kepalanya sakit tak tertahankan. Ia hanya ingin bebas. Ingin menekuni pekerjaan barunya dan tentunya mencari pasangan, baru

Atas Nama Semesta dan Athala (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang