Haidar menatap kosong dinding bercat hijau didepannya. Segela peralatan medis nampak teronggok rapi di atas meja kecil. Mesin EkG juga nampak terletak rapi diatas nakas rumah sakit. Decitan pintu yang berkarat mengalihkan pandangan Haidar pada sosok berjas putih
Namanya Davian
Dokter muda yang masuk di rumah sakit itu 2 tahun yang lalu. Sepupu Haidar
"Dar"
Haidar menoleh
"Iya,kak?"
Davian berdiri di dekat bankar
"Ada keluhan? Sakit apa gitu?"
Haidar diam. Diamnya dia bukan diam berpikir mengingat apa yang harusnya ia ingat, tapi- ada hal lain yang harus ia pikirkan di otaknya sekarang
"Haidar"
"Hm, oh. Iya, kak. Haidar ga papa kok. Tadi pusing dikit aja"
Davian menghela nafas
"Kakak dokter kalo kamu lupa. Kalo pusing sedikit kenapa bisa sampe pingsan di jalan tadi? Untung ga kenapa Napa. Hidung kamu juga mimisan, Dar"
Haidar meraih tangan Davian
"Kalo kakak dokter, aku pasiennya. Kakak nebak, tapi aku yang ngerasain. Percaya deh Idar ga papa. Jangan kalem kalem gini ah. Kasian adekmu, kak"
Davian mengerutkan dahinya. Melihat sosok Haidar yang malah tertawa pelan di depannya ini
"Adek siapa lagi, hah?"
"Markonah"
Sentilan manja Haidar dapat di keningnya. Tentu saja Davian pelakunya
Ini yang Davian tau tentang Haidar. Si pembawa aura positif. Hanya celotehan abstraknya saja mampu membuat ia menarik kedua sudut bibirnya. Lagipula hanya Haidar sepupu terdekatnya. Berbeda dengan Hana, sebab hanya Hana lah perempuan diantara 4 bersepupu itu
"Ga salah kalo dia suka Gedeg sama kamu"
Haidar mengentikan kekehannya
"Markonah kapan balik, kak?"
"Dia-"
"EYYOOW, WHAT'S UP, MAN!"
Lemparan pulpen dari Davian mengenai telak kepala sosok yang baru datang itu
Sosok tinggi semampai dengan dimple yang tak dalam, serta aksen bule nya yang membuat Haidar naik darah karena tak paham
Dia Mark. Adik kandung Davian
Umurnya sepantaran Haidar. Berbeda beberapa bulan. Sekarang tengah mengenyam pendidikan di Canada. Pulang bisa dihitung hanya 1 kali setiap semester
"Assalamualaikum!" Sahut Haidar
"Oh! Waalaikumussalam. Sorry, gw lupa. Hehe"
Mark mengambil tangan Davian, membawanya ke pipi tirusnya
"How are you? Sehat, kan?"
Haidar menendang tulang kering Mark. Tidak kuat, tapi karena tubuh Mark hanya setengah tubuh Haidar, refleks membuatnya berjengit sakit memegang kakinya
"S-"
"Apa? Mau ngumpat? Misuh? Sok atuh. Silahkan. Sampe lu ngomong bahasa bule lagi gw geplak ya" ancam Haidar
KAMU SEDANG MEMBACA
Atas Nama Semesta dan Athala (Tamat)
Fiksi RemajaSemesta itu unik. Seindah pertemuan dan sesedih perpisahan. Seterang Matahari dan seredup Bulan. Sejauh Mentari dan rembulan, namun sedekat senja dan fajar Seperti Semesta yang membuat kesedihan menjadi kebahagiaan Seperti Semesta yang menjelma men...
