ANSA - 6

174 25 0
                                        

Haidar memasukkan sejumput micin ke dalam masakannya. Sedikit ia rasakan, dan kembali ia aduk

Sementara itu Bu Eni tengah menggoreng tempe untuk makan anak anak asuhnya

"Dar, Hana ga nyariin kamu sampe malem disini?"

Haidar menoleh sekilas
"Tadi Idar udah pamit, Bu. Tapi belum telpon lagi. Idar telepon nanti"

"Mmm"

Mereka kembali larut dalam acara memasak. Tak sampai 30 menit kini mereka sudah siap dengan hidangan di depan mereka masing masing

"Ara sama Arun mana?"

"BANG IDAL!"

Haidar menunduk. Selalu saja. Saat mereka datang bersama, si kecil Ara selalu hilang dari pandangannya

Haidar terkekeh
"Kamu ga keliatan tadi. Arun mana?"

"Sama kak Icha. Bang, suapin"

Melihat mata berkaca kaca itu Haidar tak dapat menahan diri untuk tak menghujani Ara kecupan di wajahnya

"Jangan gemes gemes deh. Ntar ilang pipinya Abang cium, mau?"

"Mau. Kan Bang Idar yang cium Ala"

Batin Haidar menjerit
"Ni anak meresahkan juga ternyata"

"Dah, kamu ajak Arun duduk di kursi ruang tamu. Abang suapin kalian disana" suruh Haidar

"Bang Idar ga makan sama kita?" Tanya salah satu anak laki laki disana. Arkan. Umurnya sudah 12 tahun

"Nanti aja bareng ibu. Ibu juga masih goreng goreng itu. Ajakin adeknya makan ya"

"Iya, bang"

Haidar mengambil piring. Mengambil beberapa sendok nasi, lauk, dan air putih untuk si kembar

"Arun, Ara. Makan yuk"

Ternyata si kembar sudah duduk manis di sofa ruang tamu, ditemani Icha

"Udah, Icha juga makan"

"Iya, bang"

Tinggal mereka bertiga

"Buka mulutnya"

Bergantian Arun dan Ara membuka mulutnya melahap makanan yang Haidar suapi

"Bwang Idwarr" tanya Arun dengan mulut penuh nasi

Puk

"Nasinya dimakan dulu, Alun" ingat si adik setelah menepuk paha kakaknya

Arun menurut. Segera saja ia melahap habis makanan di mulutnya. Haidar terkekeh

"Bang Idar"

"Hm?"

"Mbak Hana kemana?"

Haidar mengaduk nasi dengan lauk. Lalu menyuapkan pada Ara

"Mbak Hana nya sibuk, Run. Mbak Hana sekolah"

"Mbak Hana di rumah sendilian?" Sahut Ara

"Iya. Ara mau nemenin mbak Hana nggak kalo bang Idar ga di rumah?"

"Ga mau"

"Loh, kenapa?" Tanya Haidar dengan alis berkerut

"Ala ga belani kesana sendili. Ala kan cantik, nanti kalo di culik om om gimana? Ala takut" polos Ara

Haidar tak kuasa menahan gelak tawanya. Bahkan sampai Bu Eni menghampiri mereka

"Ada apa lagi sih, Dar? Perasaan ketawa Mulu dari tadi"

Atas Nama Semesta dan Athala (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang